masalah cinta? tergantung kita!!

Ana Rodliyah
Karya Ana Rodliyah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 01 April 2016
masalah cinta? tergantung kita!!

Opini

Masalah cinta?? Tergantung kita!!

Oleh : S_R

Cinta. Tema artikel kali ini makna cinta dalam Islam. Kalau sudah dengar kata ?cinta?, rata-rata dari kalangan kita pasti timbul rasa sangat tertarik. Ya, karena tema cinta memang menarik untuk dibahas, apalagi tema cinta antara rijaal dan nisaa?, tak pelak jadi sorotan utama baca kita. Banyak buku yang membahas tentang makna cinta dalam Islam, baik itu membahas cinta Hablun min Allah atau Hablun min An-Naas. Kalau mata kita terjun pada tulisan yang membahas cinta Hablun min Allah, kita akan disodori berbagai makna cinta yang hakiki. Tak lepas dari itu, kita juga akan didongengi dengan kisah para wali Allah yang tingkatan hatinya mencapai Mahabbah ( rasa cinta yang sangat kepada Allah ). Menurut salah satu buku karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah tentang Mahabbah itu sendiri makna asalnya adalah ?bening?. Ada pendapat yang mengatakan bahwa makna asalnya yaitu ?air yang meluap setelah turun hujan yang lebat?. Dari sini al mahabbah diartikan ?luapan hati dan gejolaknya saat dirundung keinginan untuk bertemu dengan sang kekasih?. Bisa kita bayangkan bagaimana perasaan cinta para kekasih Allah. Begitu pun dengan bahasan cinta Hablun min An-Naas, dalam hal ini sangat bervariasi dan penuh intrik masalah. Ya, jika kita tilik makna cinta sangatlah luas. Sekalipun itu dalam perspektif Islam. Bahkan ada slogan yang familiar di telinga kita ?cinta itu buta?. Apakah itu keadaan cinta yang sebenarnya? Kalau cinta di situ diartikan secara luas, bagaimana dengan cinta dalam Islam?

Tak lepas dari pembahasan cinta dalam Islam, menurut saya, keadaan cinta itu tergantung pada subyek dan obyeknya. Cinta merupakan sebuah rasa yang bisa menjadi perantara seseorang untuk mendorong dalam mencapai apa yang dia cintai. Dengan rasa cinta, seseorang bisa melakukan dengan mudah apa yang ingin dia lakukan untuk sesuatu yang dia cintai. Rasa Mahabbah para wali Allah telah mengantarkan mereka untuk melakukan berbagai taqarrub kepada Allah. Rasa cinta pada Rasulullah Saw. telah mengantarkan seseorang untuk selalu melakukan kesunahan-kesunahan dan mengirim shalawat pada beliau yang mulia. Rasa cinta orang tua kepada anak mengantarkan pengorbanan jiwa raga mereka untuk kebahagiaan sang anak. Begitu pun dengan rasa cinta Qais kepada Laila yang mengantarkan dirinya menjadi majnun.

Cinta bisa buta jika sang pecinta mencintai sesuatu yang gelap, sesat, melenceng dan sejenisnya. Karena rasa cinta hanya mengantarkan apa yang ingin dia lakukan untuk yang dicintai. Sesuatu yang berlebihan juga bisa membuat sesuatu yang asalnya baik menjadi tidak baik. Begitu pun cinta. Cinta bisa menjadi sesuatu yang jahat ketika kita merasakannya dengan berlebihan. Ya, semua itu tergantung kita. Adakalanya nafsu yang main dan beraksi, namun kadangkala akal pikiran dan hati nurani kita yang bermain. (SR)

  • view 166