Dibalik hati

Andri Yarifin
Karya Andri Yarifin Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Desember 2017
Dibalik hati

Waktu selalu menghadirkan berbagai hal baru, Ingin rasanya aku protes dengan waktu, karna waktu yang menghadirkan mereka dalam nyata saat aku tidak meminta, dan waktu pula yang memisahkan semua tanpa kata, hingga rindu tidak mampu bicara, kini Aku atau waktu yang telah meninggalkan semuanya terlalu jauh, Hanya hati yang selalu bertanya oleh waktu, Sampai dimana akan berlalu?.
Saat panas mentari hilangkan tetesan air mata ini, saat luka sembuh dengan sendirinya, biarkan hujan yang memudarkan bekasnya, tertawaku bernyanyi, kencangku berlari, bahagiaku terbagi, maka biarkan aku lalui semuwa ini. Biarkan saja aku terus menangis, biarkan saja aku menjadi pemanis, karna kesedihan tidak dapat terlukis, karna kebahagiaan seakan telah habis.
Banyak kebencian dimana-mana
Tak perlu aku katakan, tak perlu aku jelaskan, semua ini tak pastas 
Untuk didengarkan.
Namun,,!! Jika nanti aku terjatuh, jika nanti aku tenggelam, Bersama hayal dan juga rasa yang taakan pernah menjadi nyata, menjadi warna. biarkan saja aku taakan mengapa, mungkin ini jalanya, aku terjatuh,bersama hayal ku. Aku tenggelam,bersama rasa ku.
Cukup aku melihat mu bahagia,
Dan menikmati ini semua.
Dipinggir lapangan tersusun deretan ban yang menjadi batas, aku bersandar dan menatap langit dengan jelas, bintang masih menghiasi malam. Dikesendirian aku berfikir tentang hari esok, lalu aku mencoba menggambarnya lewat imajinasi ku. tidak banyak hal yang aku fikirkan tentang hari esok, hanya ibu dan ayah yang kelak rambut hitamnya akan segera memutih,
kulit kasarnya akan terus mengeriput, begitu pula usia mereka yang akan terus bertambah, dan juga tiga orang adik ku, bima,cika dan dimas. 
Untuk bima dan cika, aku sangat percaya mereka akan lebih baik dari ku, tapi bagaimana dengan dimas? diusianya yang sudah sepuluh tahun ini? dia belum juga bisa jalan, bahkan setiap bulan dia harus berobat kedokter spesialis syaraf, aku ingin melihat dimas seperti anak-anak yang lain, sebagai abang dan juga anak pertama untuk kedua orangtua, aku tidak bisa melakukan banyak hal, aku juga mempunyai penyakit, yang ibu dan ayah sendiri tidak mengetauinya, aku selalu menyembunyikan semuanya dari mereka, aku takut hanya akan semakin menambah beban fikiran mereka. Kadang aku selalu memperlihatkan kebahagian yang tidak ada dalam diriku, kepada mereka. agar aku terlihat selalu baik-baik saja, hingga mereka mengira, hari-hari yang aku lewati tidak terasa terbebani, oleh kejamnya dunia. Bagi diri ku,menjelaskan itu sesuatu yang sangat menyakitkan, kadang mereka tidak akan mampu memahami, apa yang aku rasakan. kesedihan yang berbeda, selalu membuat air mata keluar dari kedua bola mata yang sama, rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, biar saja aku bising di kesendirian, melepaskan emosi di kesunyian, biarkan saja aku yang bodoh ini melakukan hal-hal yang membuat diri ku bahagia. Dalam diamku, aku selalu melakukan sesuatu di luar batas kemampuan ku, hingga hati yang lemah ini menjadi kuat, hingga hati yang lembut ini menjadi kasar, hingga sentuhan manja berubah menjadi amarah. Aku hanya bisa melihat jarum detik yang berputar, selalu melewati dan melewati, meninggalkan dan menemui kembali, hingga cayaha terang kembali memancar secara harizontar di garis cakrawala, kini fajar menyapa, masih teramat jelas kenangan itu, kita berada di kebodohan, bermain dengan kekana-kanakan yang bersifat arogan, mencari kebahagian, meski harus melupakan aturan yang sangat menyakitkan, mencari kebebasan, melepaskan beban, Tertawa kita mewarnai suasana, kebersamaan kita menciptakan bahagia, tapi kini semua itu hanya menjadi cerita diantara kita.
 

  • view 21