Manusia; semua SAMA, kecuali NASIB.

Ibnu Mas'ud
Karya Ibnu Mas'ud Kategori Renungan
dipublikasikan 24 Agustus 2016
Manusia; semua SAMA, kecuali NASIB.

Sebelumnya, bila ada yang tahu apa nama pekerjaan "orang yang memberikan intruksi pada pengemudi mobil yang ingin memutar arah atau belok saat keadaan ramai dijalanan" tolong beritahu saya pada kolom komentar. Sebab mau saya sebut pekerjaan tersebut dengan sebutan gepeng (baca; gelandang dan pengemis) sepertinya belum tepat, karena orang yang melakukan pekerjaan ini tidak termasuk pada kriteria gepeng pada umumnya. Nah gimana kalau dengan sebutan jukir-liar? Ini juga sepertinya kurang tepat, jukir (baca; juru parkir) liar biasanya --orang yang merasa-- memiliki lahan sebagai tempat parkir (ref; https://id.m.wikipedia.org/wiki/Juru_parkir), sedangkan pada pekerjaan ini tidak ada. Lantas apa enaknya ya?

Baik, kembali pada poin keresahan hati saya, sedikit akan saya ceritakan tentang pengalaman orang yang memiliki pekerjaan tersebut, sebut saja Ojan (nama samaran). Tapi sebelumnya kenalkan, saya Ibnu Mas'ud, saya adalah anak ke-4 dari 6 bersaudara. Saya anak dari seorang bapak yang memiliki usaha toko kelontong di ibu kota.

Untuk mengisi kekosongan sampai akhir bulan, beberapa hari ini saya duduk dikursi kasir --ikut serta membantu, sekalian belajar berwirausaha-- ditempat usaha bapak. Hari itu saya bertemu dgn Ojan di toko, jumpa pada pandangan pertama (bukan pandangan jatuh cinta yaa.. hehe). Dia datang untuk menukarkan koin gopek'an dan seribu'an dalam jumlah yang banyak, masih ingat jumlah nominal penukaran hari itu 107.000 rupiah.

"Banyak kali kau punya koin bang!" sahutku ala logat batak. "Iyalah, hasil kerja gua" timpal dia dgn cepat.

Selesai transaksi penukaran koin dia pun pergi dengan membawa segudang perasaan bahagia, bak nelayan yang berhasil menjual ikan hasil tangkapannya di pasar. Sama bahagianya. "Alhamdulillaaah rezeki anak sholeh" kurang lebih begitu lah hati kecil dia berkata.

Hari berikutnya, hingga hari-hari setelahnya saya sering berjumpa dengan Ojan di toko tempat saya bekerja, tentu dengan tujuan yang sama, menukarkan koin. Akhirnya, sayapun jadi tahu berapa rata-rata nominal uang yang ditukar setiap harinya, yaa kira-kira ± 100.000 s/d 150.000 rupiah. Dia mulai bekerja dari pagi hingga sore hari. Kerja yang santai, bisa sambil ngopi dan ngudud (baca; merokok). Sudah dia jadwalkan seperti jadwalnya para pekerja pada umumnya; hari jum'at dia bekerja setengah hari, hari minggu dia liburkan dan sabtu tetap bekerja.

Dari sini saya --sekedar iseng-- menghitung pendapatan dia selama satu bulan, kira-kira selama 28 hari bila tak ada masalah. Kalo dia sakit atau ada keperluan lain sampai akhirnya dia harus bolos kerja, itu sih lain lagi. Saya ambil rata-rata pendapatan dia yang tidak tetap itu sebesar 125.000 rupiah perhari, maka total uang yang dia dapat selama satu bulan sebesar 3.500.000 rupiah. Wow, lumayan --angka yang besar-- kan.

Dalam hati saya bergumam; "Hehe. Ini tidak sebanding dengan pendapatan para pekerja yang berijazah strata satu bro". Kebanyakan mereka, yang kebetulan kawan-kawan saya, hanya dapat mengantongi ± 1000.000 - 2.000.000 setiap bulannya dari hasil mereka bekerja, ini belum bersih lho. Belum lagi saya tengok kawan-kawan yang berprofesi sebagai guru honorer, ah sudahlah, tak sanggup rasanya saya sebutkan berapa nominal yang mereka kantongi. Semoga mereka tetap tabah dan sabar, serta ikhlas dengan semua itu. Amin..

Harusnya saya tidak perlu terkejut yang berlebihan. Sebab ini sudah sempat menjadi bahan perbincangan di media-media, juga menjadi salah satu bahan isi berita di televisi pun pernah. Tapi entah kenapa setelah tahu langsung dari pelakunya, kagetnya bukan kepalang nih (ah.. berlebihan gak yaa). Njiiiirr.. It's real man!!

Meski begitu besar pendapatan Ojan --yang entah apa nama yang pas dengan pekerjaannya-- disebrang sana, tetap tidak bisa menggantikan mereka yang bekerja keras dengan penuh kebanggaan. Ojan yang bekerja hanya dengan mengandalkan tenaga, berbeda dengan mereka yang mengandalkan segalanya; tenaga, pikiran, cinta dan kasih sayang. Selain dari pada itu, tentu derajat mereka juga lebih tinggi dari Ojan. Tapi bukan berarti Ojan lebih rendah ya, tidak lho ya. Karena pada hakikatnya kita adalah manusia yang sama, yang diciptakan oleh Tuhan yang sama, dari bahan yang sama, hanya saja ditakdirkan dengan nasib yang berbeda-beda. Itu!!

Asal dengan hati yang ikhlas, apapun pekerjaannya akan terasa nikmat dilakukan. Percayalah! Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk hambaNya yang berjiwa besar dan berhati halus. Kalau tidak di dunia, tentu di akhirat nanti.

  • view 270