[Anomali Cuaca Kampus]

Amul Huzni
Karya Amul Huzni Kategori Politik
dipublikasikan 28 April 2018
[Anomali Cuaca Kampus]

[Anomali Cuaca di Kampus]

Sekarang sudah menginjak pertengahan bulan November. Bulan dengan cuaca dingin dan hujan. Iya. Di kota Malang atau mungkin di kota lain juga terjadi hal yang sama. Pagi cerah, siang terik, sore mendung hingga malam tanpa bintang alias hujan. Tetes demi tetes air mulai berjatuhan di bumi. Jatuh. Basah. Dan lenyap tanpa tersisa. Kemana perginya ? Entah. Aku tak tahu.

Sekarang terjadi pemanasan global. Menyebabkan cuaca di sepanjang tahun bahkan dalam sehari menjadi tak menentu. Kadang panas. Kadang dingin. Yah, cuman 2 kondisi aja sih. Hehe.. Indonesia kan cuman 2 musim. Kalau ngga panas ya hujan.

Oh tidak... Ternyata aku salah. Mendekati penghujung bulan ada satu musim tambahan. Yaitu musim kampanye. Pesta politik kampus. Cuaca debat kandidat. Kondisi dimana tim sukses bekerja keras mendapatkan massa agar mendapatkan banyak suara. Riuh-rendah demokratisasi. Entah, namanya apa.

Asyik-masyuk sebagian mahasiswa menyambutnya. Tapi ada juga yang b aja. Dan ada juga yang sedikit melirik atau malu-malu kucing lah istilahnya. Pilih aku, pilih dia, pilih mereka. Nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10... dan seterusnya dan seterusnya. Sudah mulai terdengar suara-suara yg menyebutkan angka matematika dasar. Sayang nya dari sekian banyak pilihan kita hanya boleh memilih satu. Yah satu suara untuk satu mahasiswa. Kalau pilihannya 2 ya ngga setia dong Wkwkw.

Aku pun sedikit senang. Meskipun terkadang aku jg merasa bingung ditambah jengkel. Musim kampanye. Musim dimana suara2 sumbang akan muncul ke permukaan. Mulai lihai berkata, memperlihatkan keelokannya masing2. Tapi yang membuat aku jengkel adalah adanya saling jatuh-menjatuhkan , rendah-merendahkan. Mengunggulkan pilihan masing-masing dan menjelekkan yang lain.

Musimnya memang beda daripada biasanya. Kadang panas saat timbul gesekan dan kadang dingin saat mulai saling akur. Aku warna putih. Yah aku warna putih saja. Kan putih sebenarnya adalah gabungan dari semua warna. Aku tidak suka hijau, merah, putih, kuning, jingga, biru, terserah. Bahkan mungkin warna pelangi.

Tapi kali ini aku bukan golongan suci(putih). Aku harus memilih. Siapapun pilihan ku dan apapun warna latar belakangnya aku tak peduli. Intinya aku memilih (titik). Aku tak ingin menjadi apatis lagi. Yang jelas adalah aku hanya yakin pada pilihanku. Aku tau mereka yang mencalonkan diri adalah mereka yang berani dan percaya serta mau mengemban amanah nantinya. Karena bukankah setiap manusia diciptakan sebagai khalifatul fil ard (Khafilah di atas bumi).

Iya sih benar. Dilemanya adalah saat aku memilih si ini atau si itu. Si dia pasti mencapku sebagai golongan dari si ini atau si itu. Please man. Kita ini mahasiswa. Berhenti memperdagangkan stigma-stigma buruk terhadap pilihan seseorang. Biarkan ia juga bermain dalam hiburan kampanye ini. Ngga usah terlalu serius. Sansslah????????????.

Aku hanya ingin berpesan. Kepada calon-calon megalomaniak. Eh, maksudnya calon-calon petinggi kampus. Saat kalian berada di puncak jangan hanya menancapkan bendera golongan sendiri. Tapi tancapkanlah semua bendera golongan. Agar semua terwakili tanpa ada yang tersakiti. ????????????.

21 November 2017
Amul_Huzni
#bukanpengamatpolitik

  • view 40