[Social Jealousy]

Amul Huzni
Karya Amul Huzni Kategori Motivasi
dipublikasikan 28 April 2018
[Social Jealousy]

[Social Jealousy] 

 

Aku cemburu terhadap kehidupan sosial yang serba modern ini. Hampir segala aktivitas dikendalikan oleh teknologi yang canggih. 

Yang jauh menjadi dekat, yang dekat semakin merapat.

 

Lihat jam dinding itu terus berputar. Mempercepat detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, bahkan abad. Berbicara tentang waktu mengingatkanku dengan umur. Adalah suatu yang menjadi buah simalakama dalam hidupku. Yaitu tentang usia. Semakin bertambah dewasa aku, maka semakin bertambah tua pula usia mereka.

 

Sekarang aku mulai curiga terhadap waktu. Jangan-jangan di waktu itu terdapat gaya gravitasi layaknya gaya gravitasi dari inti bumi. Yang selalu menyeimbangkan perasaan, pikiran, dan naluri kita sehingga terkadang atau bahkan hampir setiap detiknya kita menjadi lupa bahwa ia terus berputar. Dan entah kapan berakhirnya hanya Dia yang Maha Tahu. 

 

Sekarang umurku sudah hampir menginjak kepala dua. Merantau, menuntut ilmu, meninggalkan rumah sekaligus meninggalkan mereka yang menetap di dalamnya. 

 

Aku kira semakin jauh jarak yang kutapaki maka semakin dewasa pula pribadiku. Nyatanya jiwa anak-anak dalam raga ini masih mengemis manja dengan mereka yang ada di rumah itu. Butuh perhatian, kepedulian, dan kasih sayang.

 

Tidak... bukan berarti aku tidak mendapatkan hal-hal yang kusebutkan itu. Orang tuaku masih perhatian,peduli bahkan sayang padaku. Hanya saja di zaman sekarang ini ada hal yang menganggu hatiku. Membangun mega kecemburuan dalam dadaku. Rasanya ingin berteriak. Membentak penghuni langit untuk menyembukan kecemburuan ini. Segera !!! Jangan berlama-lama nanti aku mati karena cemburu.

 

IG,WA,Facebook, Line, Twitter, BBM, dll yang serupa. Adalah social media yang ramai di jelajahi oleh manusia-manusia modern. Mulai dari anak-anak hingga orang tua.

 

Kemarin tak sengaja aku mencuri pandang dalam layar Smarphone temanku. Soalnya aku penasaran dengan apa yang membuatnya terus tersenyum bahagia. Tangannya tak berhenti mengetik, menuliskan pelbagai kata.

 

Saat kulirik. Terdapat suatu  kalimat yang sontak membuatku cemburu. Bahkan tak sadar mataku meneteskan air mata karena benar-benar cemburu. “My Family”, “Group Keluarga”, “Keluarga Tersayang”. Mungkin itulah kalimat-kalimat yang membuatku cemburu.

 

Iya... benar. Itu adalah nama-nama group yang mungkin ada di Line atau mungkin WA kebanyakan orang. Betapa senang dan bahagianya. Meskipun jaraknya jauh tapi rasanya dekat. Bisa berkomunikasi lewat chat, saling berbagi kabar, menumpahkan rindu, membanjiri kasih sayang tanpa dibatasi waktu. Ada ayah, ibu, adek, kakak, paman, tante, sepupu, nenek, bahkan kakek dalam group tersebut.  

 

Aku pun menginginkan hal itu. Tapi sedih rasanya. Orang tuaku bukanlah dari golongan manusia modern. Jangankan bermain gadget/smartphone, untuk mengirim pesan ataupun menelpon menggunakan hp jadul mereka kesusahan. Apalagi mengikuti jejak manusia-manusia sekarang yang bisa menggunakan smarphone yang bisa berbagi emot, berkoment status dan lain-lain sebagainya.

 

Tuhan... aku benar-benar cemburu dengan manusia sekarang.

 

Tiba-tiba Tuhan tersenyum. Dan berkata “ Laa Tahzan.. La Tahzan.. Laa Tahzan”. Tidakkah kau lihat hampir ditiap shalat ibu dan ayahmu selalu ada doa dan namamu yang disematkan. Di sujud terakhirnya selalu ada rindu yang ditujukan kepadamu.  Di tiap mimpinya selalu ada wajahmu. Tanpa video call. Bukankah itu lebih modern [?] ” –Amul Huzni-

#Cemburukepadasocial

 

 

 

  • view 87