Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 2 April 2018   06:35 WIB
"Belajar dari si Padi"

Entah kenapa dalam akal yang kerdil ini tiba2 terceletuk tentang padi. Padi yang menghasilkan beras, beras yang dimasak jadi nasi. Nasi yang menjadi makanan pokok sehari-hari dalam negeri tercinta ini. Negeri agraria. Itulah sebutan yang notabene melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran dalam negeri. Dalam bahasa jawa negeri ini disebut “gemah ripah loh jinawi”

Padi. Bagiku ia tak asing lagi. Apalagi tempat asalku yaitu kota Sidrap memiliki julukan kota beras. Sawah di sepanjang jalan menghijaukan pemandangan. Bermain di sawah merupakan masa lalu yang menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri. Bermain layangan, mencari ikan, bermain sepak bola, hingga membantu orang tua bertani.

Aku hanyalah orang awam. Yang mencoba memanjakan diri tuk hidup di perkotaan. Menuntut ilmu meninggalkan kampung halaman. Indah betul hidup diperkotaan.

Sekarang aku menjadi mahasiswa. Tapi, bukan sebagai aktivis maupun akademisi. Aku hanyalah mahasiswa termaginalkan yang tak memiliki kontribusi apapun bagi kampus. Apalagi bagi negeri. Huft... Tapi ada satu hal yang sedikit membuatku sedikit risih dan tertawa cengir.

Tatkala kita sebagai mahasiswa. Selalu meneriakkan “Hidup Rakyat Indonesia”. Sejak kapan rakyat Indonesia itu mati ? Bagaimana cara kita menghidupkannya ? Mungkin pertanyaan ini sedikit nyeleneh akan tetapi menurutku butuh logika yang keras untuk menjawabnya.

Si kakek tua pernah tertawa geli di sampingku. Saat aku tanya apakah ia butuh dan benar-benar menginginkan bantuan mahasiswa.
“Tidak. Katanya sambil tertawa cengir.”
“Kenapa ?” Tanyaku
“ Tidak malukah mahasiswa itu selalu meneriakkan suara-suara yang katanya suara dari kami sebagai rakyat dalam hal kesejahteraan sedangkan menghargai hal yang kecil pun tak mampu ia lakukan “ Jawabnya
“Maksudnya kek? “ Tanyaku lebih lanjut
“ Aku pernah, bahkan sering berjalan menyusuri kota. Lalu, kudapati banyak mahasiswa yang makan tapi tak pernah benar-benar makan.”
“Jangan berfilsafat kek. Terangkan dengan benar dong. Hehe..” Pintaku
“ Jadi begini nak. Kenapa mahasiswa jaman sekarang lebih mubazir dalam hal makanan. Aku sebagai alumni petani (kakeknya kan sudah tua jadinya disebut alumni aja) sering bersedih ketika melihat hasil keringatku setiap hari disia2kan begitu saja. Nasi yang kalian makan itu tak semudah mengunyah dan menelannya sebelum benar-benar menjadi nasi. Perlu waktu beberapa bulan. Dalam bertani butuh waktu sekitar 100 hari sebelum dipanen. Mulai dari memilah benih, pembajakan, pemupukan, perawatan, panen, dan lain-lain. Setiap hari para petani pergi ke sawah. Mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya sang mentari. Teriknya matahari terkadang membakar kulit dan mengucurkan keringat para petani. Terkadang juga dinginnya hujan membekukan tulang belulang. Meskipun petani itu kerja pamrih dengan latar belakang menghidupi keluarga. Tapi tanpa mereka kalian tak akan pernah makan.” Jawab si kakek dengan wajah yang membiru

“ Satu biji beras itu sangat mahal nak. Ada beribu pengorbanan di dalamnya. Bukankah dalam agama dikatakan bahwa kita tidak boleh menyisakan makanan walaupun sebiji nasi. Karena kita tidak tahu rahmat Allah dalam makanan itu ada di mana. Mungkin di satu biji nasi yang selalu kita acuhkan. Tuhan itu Maha Menghargai. Setetes keringat pun pasti dibalas pahala. Lantas kenapa kalian sebagai mahasiswa (MAHA SISWA) tak bisa menghargai hal kecil dan sederhana. Ketika kalian makan, makanlah dengan sungguh-sungguh. Paling tidak kalian menghargai uang dari orang tua kalian. ‘Jangan pernah bermimpi mengubah hal-hal yang besar jika hal yang kecil saja tak mampu kau ubah’. Kalian menghargai jasa kami menurutku itu sudah merupakan kontribusi yang berarti bagi kami rakyat petani “ Lanjut kakek itu.

Nasehat si kakek itu seakan menampar keras wajahku. Aku tersipu malu. Sangatlah lucu ketika melihat banyak aktivis-aktivis kampus meneriakkan jargon “Hidup rakyat Indonsia” jikalau makan di warteg, restoran, ataupun tempat makan lainnya, namun ia tak mampu menghargai sebutir nasi dari keringat penderitaan rakyat petani.

Padi memiliki filosofi “Semakin berisi, semakin menunduk”. Tapi kebanyakan dari kita sudah menjadi calon sarjana tapi selalu merasa congkak dan sombong dengan ilmu kampus.

#ceritasampah
#keresahansibodoh

Karya : Amul Huzni