Kesedihan seorang ayah

Amul Huzni
Karya Amul Huzni Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 Februari 2018
Kesedihan seorang ayah

[“Selamat malam anakku... Tidur yang nyenyak. Jangan lupakan aku dalam mimpimu yang indah”. Celetuk seorang kakek tua yang sedang beristirahat dari penatnya kehidupan.]

Malam itu aku sedang tidak ada kegiatan. Aku pun mencoba untuk berjalan-jalan mengelilingi kota sambil menikmati kesunyian malam yang juga sedang beristirahat dari siang yang sibuk. Pukul 23.30 WIB tepatnya. Aku sendirian. Karena rasanya tak enak mengajak teman-temanku yang mungkin juga sedang beristirahat. Malam itu begitu indah. Meskipun terasa dingin sekali. Tampak kabut putih yang juga ikut meramaikan keheningan malam itu.

Selang beberapa saat kudapati seorang kakek tua yang sedang duduk di bibir jalan raya. Ia tak tidur. Dari raut wajahnya menggambarkan bahwa ia sedang kelelahan. Melihatnya sendirian aku pun memberanikan diri untuk duduk di sampingnya. Di antara kami tak ada yang memulai pembicaraan. Tapi, bibir kakek tua itu daritadi bergerak-gerak seakan ia sedang berbicara. Bukan padaku. Tapi pada dirinya sendiri. Aku hanya diam, meskipun sebenarnya aku mencuri dengar dari apa yang dikatakan kakek tersebut.

“Selamat malam anakku... Tidur yang nyenyak. Jangan lupakan aku dalam mimpimu yang indah”. Kata kakek tua itu.

Aku hanya terus diam mendengarkannnya.

“Nak, aku rindu. Teramat sangat merindukanmu.” Lanjut kakek itu. Sontak aku tiba-tiba bertanya “Kenapa kakek rindu, anaknya sekarang dimana ?”

“Dia sedang sibuk bekerja. Membahagiakan anak dan istrinya. Mungkin karena dia sibuk jadinya ia tak pernah menghubungi kakek lagi. Atau mungkin dia sudah lupa ya ?” Tanya kakek itu padaku.

“Tidak kek. Seorang anak tak akan pernah lupa dengan kedua orangtuanya”

“Iya. Dia lupa. Aku yakin itu” jawabnya.

“Anak yang berbakti itu tak pernah lupa dengan orangtuanya. Tak mungkin ia melupakan kedua malaikat yang telah membesarkannya dari lahir hingga dewasa”

“Sebenarnya aku tahu dengan hal itu. Tapi entah kenapa dalam pikiran dan hatiku selalu berkata lain tentangnya. Seakan-akan aku ini telah sirna dari ingatannya. Aku merasa tak pernah ada untuknya dari kecil hingga ia dewasa saat ini. Aku sibuk dengan pekerjaanku. Makanya sekarang ia pun juga melupakanku. Mungkin itu karma bagiku.”

Sebenarnya aku ingin terus membantah setiap pikiran buruk terhadap anaknya itu. Tapi aku juga takut karena rasanya tak sopan bila membantah perkataan orang tua. Aku tahu meskipun anaknya benar-benar melupakannya paling tidak ia  tidak terus berpikiran negatif.

“Ketika ia kecil. Aku jarang bahkan tak pernah ada di rumah bersama keluarga. Aku sibuk  dengan pekerjaanku. Keluar kota. Lembur di kantor. Dan sebagainya. Aku tahu kalau sikapku salah. Karena lebih mementingkan pekerjaan daripada keluarga. Meskipun aku sebenarnya bekerja untuk menghidupi mereka (keluarga). Aku pikir dengan harta yang banyak bisa membahagiakan mereka. Tapi ternyata tidak. Aku salah besar. Dan aku benar-benar menyesal.” . Tampak air mata dari kakek itu menetes dan membasahi pipinya yang keriput.

“Terus sekarang kakek tinggal dimana. Kenapa kakek sendirian di tengah kota yang sepi ini ?” Tanyaku penasaran.

“Sekarang aku tak punya siapa-siapa lagi. Aku sendirian. Semenjak istriku meninggal 15 tahun yang lalu karena penyakit paru-paru yang dideritanya. Selepas ibunya meninggal anakku pun meninggalkanku. Entah kenapa ? Mungkin ia menyalahkanku yang tak pernah ada untuknya. Aku kesepian sekarang. Sangat-sangat kesepian. Setiap harinya aku hanya menjadi pemulung”. Air matanya tak mampu lagi ia bendung. Bertambah deras. Aku pun memeluknya.

            Dalam lubuk hatiku yang dalam aku merasakan sakit teramat sangat pada diri kakek itu. Harusnya anaknya tak melakukan hal yang begitu kejam menurutku.

            “Sini kek. Peluk aku aja. Anggap aku sebagai anakmu.”   

 ......................................................................................................................................................

“Tangisnya seorang ayah adalah keringatnya. Cintanya seorang ayah adalah kerja kerasnya. Kasihnya seorang ayah adalah saat ia mencari nafkah. Dan tak mungkin engkau lihat saat dirumah. Semua itu ia korbankan hanya untuk keluarganya” Amul Huzni

 

 

 

 

  • view 140