Si Bocah Kampung Futuristik

Amul Huzni
Karya Amul Huzni Kategori Renungan
dipublikasikan 31 Januari 2018
Si Bocah Kampung Futuristik

Seorang anak kampung yang mempunyai cita-cita tuk menjadi orang hebat. Ia hanyalah seorang anak dari keluarga sederhana yang rumahnya tidak begitu mewah bahkan jauh dari kata kaya raya. Sekarang ia sudah dewasa. Dan ia pun berniat untuk menempuh pendidikannya lebih lanjut dengan kuliah di luar pulau. Entah kenapa ? Ia merasa hanya ingin merasakan jauh dari keluarga. Bukan karena ia benci. Tapi tak tahu alasannya mengapa. Mungkin karena merantau dalam pendidikan itu beda rasanya.

Sekarang ia sedang duduk di bangku kuliah. Di sebuah universitas ternama di Indonesia. Tinggal di sebuah kota metropolitan tentunya membuatnya sedikit kebingungan. Tak punya siapa2, berhadapan dengan budaya dan bahasa yang sangat berbeda dengan kampung halamannya. Ia hanya merantau dengan modal tekad dan kepercayaan yang bahwasanya nantinya ia akan menjadi orang hebat dan dapat mewujudkan cita2nya.

Si bocah kampung futuristik. Sekarang ia menginjak semester 3 di bangku kuliah. Selama kuliah ia mengikuti sejumlah organisasi dan kepanitiaan. Tak hanya itu, ia pun mengukir sedikit prestasi.

Namun sekarang ia begitu bersedih. Setiap hari ia ke kampus dengan raut wajah yang biru. Entah apa yang terjadi ? Apa yang ada di benaknya ? Apa.. Apa.. dan Apa.. ? Tak ada seorang pun yang tahu.

Ternyata ia adalah seorang yang Introvert. Menyembunyikan perasaannya di balik senyum palsu pada saat di kampus. Namun kali ini berbeda. Ia benar-benar bersedih dan tak bisa tersenyum lagi. Kenapa ???

Ternyata ia sedang merenung tentang apa yang sedang dia hadapi masa kini. Tinggal jauh dari keluarga membuatnya selalu rindu dengan suasana rumah. Itu adalah hal wajar. Tapi, ternyata bukan hanya itu. Ia merasa kurang dalam hidupnya. Bukan. Bukan tentang persoalan rasa syukur. Melainkan, ia selalu merasa takut jikalau saat ini ia mungkin sedang makan enak di warung makan sedangkan orang tuanya bersusah payah mencari nafkah dan makan serba ada. Bahkan bisa saja orang tuanya sedang sakit tapi berkata bahwa ia baik2 saja. Ia tau bahwa keinginan orang tuanya adalah agar ia bisa mencapai impiannya. Kekhawatirannya begitu besar. Tiap hari rasa takut menghantuinya. Ia takut jikalau tak mampu membalas jasa ibu bapaknya. Bahkan ia takut pada saat merantau salah satu dari orang tuanya telah tiada. Dan tak sempat bercakap dan berjumpa untuk terakhir kalinya. Bagaimana mungkin ia bisa tertawa. Ketika wisuda dan memakai toga. Keduanya telah tiada. Mengingat sekarang mereka telah menginjak usia senja.

Hari-hari pikiran itu terus terngiang dalam pikirannya. Takut..dan takut. Terkadang ia juga selalu berpikir. Bahwa hidup ini terasa singkat baginya. Setelah lulus kuliah ia mau kemana dan melakukan apa. Lanjut S2, S3, menikah berkeluarga, punya rumah dan anak-anak yang ceria, setelah itu berumur tua dan meninggal dunia.
Betapa singkatnya perjalanan hidup ini menurutnya.

Ia begitu terlalu memikirkan masa depannya. Memikirkan orang tuanya. Memikirkan kehidupannya. Memikirkan segalanya.

Namun, dibalik semua itu ia hanya punya satu obat pelipur lara. Yaitu shalat dan menyembah kepada Allah. Karena ia yakin bahwa apa yang ia khawatirkan belum tentu terjadi. Semua ia pasrah-totalkan pada takdir Tuhan. Dan segala kesedihannya selalu ia teteskan dalam sujud dan doa.????????????.

Gelapnya malam tak begitu menakutkan. Percayalah bahwa sinar rembulan takkan redup hingga fajar kembali menjemput malam.


#cerpenbiasa
#ceritasampah

  • view 46