Ibu... Maaf, Aku Sedang Sibuk

Amul Huzni
Karya Amul Huzni Kategori Renungan
dipublikasikan 29 Januari 2018
Ibu... Maaf, Aku Sedang Sibuk

[Ibu... Maaf, aku sedang sibuk]

Ibu...
Apa Kabar [?]
Kini aku beranjak dewasa. Seiring bertambahnya usiamu menuju senja.

Ibu...
Di usiaku yang kian bertambah. Banyak hal yang ingin aku cerita. Tentangmu semata. Wanita pertama yang mengajarkan ku cinta. Tanpa pernah mengungkapkannya dengan kata.

Ibu...
Andai engkau tahu. Siang malam aku bertemu. Pada Tuhanku untuk mengadu. Berdoa agar engkau sehat selalu. Dalam shalat tak pernah ku meminta untuk diriku. Tanpa bertanya pun aku tahu. Doamu selalu untukku. Dan itulah yang terbaik menurutku.

Ibu...
Sejak SMA aku meninggalkan rumah. Hanya untuk menuntut ilmu dengan harapan pahala. Ridho dan kasih mu pun selalu ada. Dalam setiap langkahku ke mana saja.

Ibu...
Engkau itu egois. Menyuruhku sekolah tinggi-tinggi hingga masuk perguruan tinggi. Kuliah di tanah Jawa agar menjadi Sarjana. Engkau selalu memikirkan masa depanku agar menjadi indah. Tanpa peduli umur mu yang sudah tua. Dari bangun hingga tidur kembali engkau hanya bekerja. Dan hasilnya engkau serahkan semua hanya untuk anakmu semata.

Ibu...
Aku ingin bercerita berdua. Menemanimu hingga akhir dunia.
Andaikata umurmu ada di tanganku. Maka kupanjangkan umurmu. Hanya saja umurmu itu ada pada genggaman Rabb ku. Dan aku hanya bisa berdoa. Agar umurmu dipanjangkan untukku.
" Andaikata nyawaku ada dua. Maka kuberikan semua untukmu. Biarkan engkau saja yang hidup selamanya. Karena aku akan abadi dalam hatimu. "

Ibu...
Kini aku duduk di bangku kuliah. Pagi siang sore malam bahkan sepanjang waktuku kini aku gunakan. Entah itu belajar di kampus, rapat dalam organisasi, atau mungkin menyusun ide-ide untuk mengukir prestasi. Aku sibuk. Sangat2 sibuk. Jangan ganggu aku. Itu kata otak ku yang naif. Tapi sebenarnya hati ini selalu merindukanmu. Mungkin engkau ingin menghubungiku sesekali waktu. Tapi engkau pun takut jika menggangguku. Perasaan rindu itu tak pernah engkau ucapkan. Tapi aku bisa mendengarnya dari bisik Tuhanku. Bahwa engkau selalu mengingatku dalam setiap harimu. Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun engkau hanya ingat aku. Aku yakin itu. Karena semesta pun tahu rindu seorang ibu pada anaknya. Yang tersampaikan lewat angin malam. Lewat sinar mentari di pagi hari. Lewat cahaya dari terik matahari. Dan seterusnya.. dan seterusnya.

Ibu...
Tak pernah engkau mengeluh. Bercerita tentang sakit. Engkau selalu berkata " Alhamdulillah nak, ibu sehat dan baik2 saja". Dusta. Engkau selalu berkata begitu. Engkau tak pernah mengungkapkan penderitaan. Karena engkau tak ingin aku merasa khawatir. Iya kan [?]

"Wanita yang paling aku curigai selama hidup adalah Ibuku. Tak pernah kudapati raut kesedihan di wajahnya. Yang ada hanya senyum, senyum, dan senyum (bahagia). Pernah kucari; tapi tetap tak kutemukan. Walaupun sedetik saja."

Ibu...
Aku tak pernah takut tentang masa depanku. Tak pernah peduli tentang Kuliahku. Dan tak pernah khawatir dengan diriku. Aku hanya takut satu hal. Ketika aku sedang tak disampingmu. Dan kudapati kabar akan kepergianmu. Maka itulah kesedihan yg akan membuat perih hatiku. Semoga... Semoga saja Tuhan mengerti maksudku.

Ibu...
Kini menginjak tahun kedua. Aku kuliah. Berlebaran tak bersama keluarga.

Duduk sendiri. Melihat orang-orang bisa berkumpul bersama. Keluarga mereka. Berbagi cinta dan kasih. Bercanda dalam tawa. Tersenyum bahagia.

Aku ingin pulang...????Aku hanya ingin mencium tanganmu. Meminta maaf atas segala dosaku. Karena ridhomu adalah Ridho Tuhanku.

Indah. Senang. Bahagia. Ketika kuingat saat kumpul bersamamu. Bersama keluarga tercinta.

Ibu...
Mataku selalu menangis. Mulutku tak mampu lagi berkata. Hatiku pun sedang menderita. Meronta-ronta ingin berjumpa. Tapi, aku tahu. Bahwa inilah hidupku. Dan harus kutempuh. Karena perasaan ini. Baru hidup dalam sukmaku. Ketika jauh darimu. Biarlah... Biarlah. " Karena rindu yang paling teramat sangat. Tanpa bertemu. Tapi kita selalu mendoakan. Antara ibu dan anak. Antara Tuhan dan hamba " ????????????


10 Dzulhijjah 1438 H
Amul Huzni
Mohon maaf lahir batin

  • view 29