LELAKIKU PRIA TERHEBATKU

Irma Wahyuni
Karya Irma Wahyuni Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Desember 2016
LELAKIKU PRIA TERHEBATKU

Entah apa yang terjadi pada tubuhku

Ada yang aneh tak biasa

Hari ini seperti biasanya tak ada yang istimewa ataupun menyedihkan

Akan tetapi tepat saat jarum jam menunjukkan waktu tepat pukul jam 12 malam

Sesuatu yang aneh terjadi tanpa angin tanpa hujan

Tiba-tiba  saja dadaku terasa sesak bahkan tanpa dirasa mengeluarkan airmata

Airmata yang sejatinya tak pernah kuperlihatkan pada orang bahkan itu menjadi hal tabu dalam hidupku selama beberapa tahun ini

 

Tak tinggal diam, ku coba bangunkan diri menenangkan akalku yang sebenarnya sangat lelah dan ingin sekali melanjutkan tidur pada waktu itu. Namun tetap saja perasaan gelisah terus menggorogoti hati dan akalku.......

 

Mencoba berdiri, meninggalkan bantal dan kasur yang kini hanya bisa kupandangi tanpa bisa menutup mata sekalipun. Satu dan beberapa  langkah kucoba ayunkan menuju satu pintu yang lain. Maksud hati ingin meraih gagang pintu akan tetapi tiba-tiba tubuh ini terasa lemas,gemetaran dan langsung saja kumenangis sejadi-jadinya. “Astaqfirullah Ya Allah, apa yang terjadi pada diriku” gumamku dalam hati

 

Menghela nafas sedikit demi sedikit kukuatkan hati ini, memasuki kamar mandi dengan tenang kuraih gayung dihadapanku. Satu persatu kuselesaikan, mengambil air wudhu dan lalu keluar pintu dan berdo’a.

 

Menuju lemari yang tak dikunci, kuambil tumpukan lipatan yang paling atas letaknya. Kuraih dan mengambilnya, entah berapa lamanya hingga warnanya begitu kusam layaknya pakaian yang tak pernah dicuci selama bertahun-tahun penuh debu dan dikelilingi noda-noda berwarna coklat bercampur bintik-bintik hitam yang sangat banyak.

 

Dengan penuh keraguan, kucoba mantapkan diri berdiri tegak dan mengangkat kedua tanganku. Berdo’a hingga akhir dan ternyata tangis itu justru meluap-meluap layaknya lahar panas yang sedang dimuntahkan gunung berapi. Dengan kedua tangan kutadahkan tetes demi setetes airmata yang terus membasahi pipiku mengenang kembali memori yang hampir terlupakan. Cukup tertatih tak mampu mengangkat telapak tanganku dengan cepat kuhapus airmataku.

 

Ya...... itulah alasannya...

Alasan yang sangat masuk akal tapi tak terduga dan bahkan serasa dada ini ditusuk ujung pisau yang begitu runcing serta kepala yang terus dipukuli dengan paku.

Rasanya itu baru-baru saja untuk coba lupakan sejenak tapi terjadi justru lebih sulit lagi

Memang benar yang dikatakan orang, bahwa ikatan batin antara orang tua dan anak itu pasti ada mau bagaimanapun pasti kan ada sejauh apapun kita mengingkarinya.

 

Sempat beberapa hari ini, tak ada komunikasi sama sekali bahkan untuk sekedar mengirim pesan singkat tak ada satu pun walau hanya sekedar menanyakan kabar. Namun itulah ajaibnya, ketika seorang anak dengan beraninya tak mengingatnya maka disaat itulah Sang Khaliq mencoba menegurnya dengan cara yang tak terduga.

 

Antara seorang anak dan ayah, hubungan antara keduanya yang takkan pernah terputus

Masih jelas teringat olehku, seorang ayah yang biasa kupanggil dengan sapaan “Bapak”

Seorang lelaki yang menurutku amatlah berarti dalam hidupku selain “Mama”

 

Dulu, aku belajar banyak hal dari beliau. Seorang lelaki yang terlihat kaku dengan sikapnya dan juga sikap cuek yang terkadang membingungkanku.

Seorang yang menginspirasi sekaligus teladan bagi kehidupanku yang akan datang.

 

Meski tak banyak bicara terlebih lagi untuk sekedar menunjukkan kasih sayangnya secara langsung, tapi ada hal yang harus digaris bawahi bahwa “setiap ayah di dunia ini pasti sayang dengan anaknya, mau ia sejengkel apapun itu dengan tingkah anaknya akan tetapi apa yang ia lakukan adalah untuk melindungi Ibu kami dan juga anak-anaknya”

 

Tidak peduli itu siang atau malam, hujan atau panas ataupun seberat apapun pekerjaannya. Baginya apa yang ia lakukan sekarang adalah untuk keluarganya, keluarga kecil yang sangat ia harapkan agar kebutuhannya selalu terpenuhi walau terkadang justru raut wajah tak bersahabat yang didapatkan ketika pulang kerumah.

 

Karna baginya itu adalah tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Sampai-sampai untuk tinggal dirumah dalam sehari saja tak ada waktu meski hanya sekedar istirahat ataupun singgah tuk makan siang.

 

Dengan tangan yang kuat itu, Ia memegang beberapa kantong belanjaan dan memberikan kepada anak-anaknya sambil memandang wajah mereka satu persatu dengan penuh kebahagian yang amat berarti baginya.

 

Tak pernah ada kata lelah keluar dari bibir beliau, sebab satu kebahagian dari anak-anaknya cukuplah sebagai pengobat rasa sakit itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dilihat 152