Narasi Romantis (Narsis): Perempuan Yang Menghilang Di Balik Hujan

Amril Taufik Gobel
Karya Amril Taufik Gobel Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Januari 2016
Narasi Romantis (Narsis): Perempuan Yang Menghilang Di Balik Hujan

Lelaki itu menghirup cappuccinonya.

Menyesap segala rasa yang menyertai dengan perih menusuk dada.

Ia lalu melirik jam tangannya. Sudah 2 jam lebih dia di Cafe tersebut. Sambil menghela nafas panjang ia melihat ke arah luar melalui jendela berbingkai lebar disampingnya. Gerimis menyiram bumi. Irisan-irisan tipis air itu menerpa kaca yang membuatnya buram.

Juga membuat wajahnya kian muram.

Ini adalah cangkir ketiga.cappuccinonya. Untung saja ia ditemani laptop pribadinya yang dapat digunakan untuk menjelajah dunia maya dengan akses wi-fi di cafe tersebut.

Menunggu memang sebuah pekerjaan yang membosankan, namun baginya, menanti perempuan bermata kejora, selalu menimbulkan sensasi tersendiri dan membuat waktu selalu akan menjadi lebih bersahabat. Selama apapun itu.

Namun tak urung, setelah 2 jam berlalu dan tenggorokannya mulai terasa pahit setelah menelan dua cangkir gelas cappuccino, membuatnya sedikit senewen. Tapi tak apa, ia berusaha berdamai dengan diri sendiri. Demi perempuan yang menyimpan bintang kejora dimatanya itu, selalu saja ada pengecualian dan maaf tak bertepi.

Ia ingat, secara tak terduga, perempuan yang pernah menyimpan separuh hatinya dimasa lalu itu datang menyapanya lewat email 4 bulan silam.

?Gembira rasanya menemukanmu kembali lewat Facebook, lelaki pencumbu malam. Apa kabarmu??

Masih selalu terngiang dibenaknya kalimat di email pertama perempuan itu yang seketika membuat jantungnya seakan meloncat keluar. Ia begitu bahagia dan tak menyangka, dunia maya mempertemukan mereka secara tak terduga.

Dan setelah itu, interaksi diantara mereka kembali terjalin setelah hampir 15 tahun berlalu. Mereka bercerita, tertawa dan saling berbagi rasa melalui komunikasi lewat internet.

Perempuan itu bercerita telah berkeluarga dan memiliki 2 orang anak, sementara sang lelaki berkisah ia pun sudah berumahtangga dan mempunyai satu orang anak. Mereka mengaku berbahagia dan mengirim foto keluarga masing-masing serta saling berkomentar.

?Anakmu cantik, sama seperti ibunya dulu,? kata lelaki itu tulus.

?Anakmu juga ganteng, sama seperti ayahnya dulu,? balas perempuan itu.

Dan kenangan masa lalu pun mengalir deras lewat email-email yang berseliweran antara mereka. Tentang puisi-puisi cinta yang selalu dilampirkan lelaki itu pada buku pelajaran yang dipinjamnya, dan diam-diam masih disimpan rapi perempuan itu, Tentang indahnya perjalanan cinta masa remaja mereka juga pedihnya perpisahan karena perempuan itu pindah ke kota lain dan sejak saat itu kehilangan kontak dengannya, hingga akhirnya 4 bulan silam, takdir mempertemukan kembali.

Mereka menikmati percakapan intens dari dunia maya itu.

?Aku merindukan suaramu, tolong beritahukan nomor teleponmu dan kita bercakap lagi, seperti dulu,? ucap lelaki itu dalam sebuah email dengan rasa kangen yang membuncah.

?Tidak perlu. Seperti begini saja, bagiku sudah cukup. Aku tak ingin kita melampaui pagar yang telah kita miliki dan jaga masing-masing dengan baik selama ini,? balas perempuan itu. Tegas. Lugas.

Lelaki itu menyerah. Sampai kemudian dua hari lalu ia menerima email dari perempuan itu.

?Aku ada tugas kantor ke kotamu, selama dua hari. Berangkat besok pagi dengan pesawat pertama?

Lelaki itu menatap monitor komputernya dengan mata berbinar. Seperti tak percaya.

?Boleh saya jemput??, ia membalas email tadi dengan jemari gemetar. Jantungnya berdegup kencang.

?Tidak usah. Nanti merepotkanmu. Aku masih ingat kok jalan-jalan di kota kita dulu walau sudah belasan tahun aku tinggalkan?

Lelaki itu menghela nafas panjang.

?Boleh ketemu? Hanya sebatas sebagai kawan lama, bukan sebagai mantan kekasih. Tak lebih. Aku penasaran melihat sosok aslimu setelah 15 tahun berlalu?, kembali lelaki itu menulis email dengan jemari gemetar sambil menahan nafas. Tegang.

Jawaban tak segera datang. Lelaki itu sabar menanti. Beberapa jam kemudian, jawaban itu tiba.

?Maaf, aku tak bisa. Jadwalku padat disana. Lagipula, kamu toh sudah melihat sosok asliku yang sudah mulai beranjak tua itu di foto yang pernah aku kirimkan tempo hari. Tak ada sesuatu yang istimewa yang bisa kamu harapkan dariku setelah 15 tahun berlalu. Kita bertemu lewat jalur maya saja. Itu lebih baik. Mari kita hormati lembaga pernikahan yang telah kita miliki dan pegang teguh selama ini. You?re still my best friend. Forever. Aku masih tetap bisa online kok selama disana, kamu juga tetap dapat mengirimiku email kapan saja ?

Lelaki itu menelan ludah. Tapi aku merindukanmu!, jerit batinnya kesal. Ia lalu membalas email tersebut:

?Aku hanya ingin menyerahkan langsung novel yang baru saja aku terbitkan padamu. Ini sebuah kehormatan besar buatku karena beberapa penggal isi novel itu berisi sejumlah kenangan tentang perjalanan cinta kita berdua dulu. Novel ini baru beredar bulan depan. Aku ingin memberikan satu eksemplar langsung padamu dan menyaksikan ekspresi wajahmu saat menerimanya. Bila kamu tak berkenan menemuiku lama-lama, tak apa. Aku hanya menyerahkan buku itu padamu dan selesai. Kamu boleh pergi. Bahkan walau tanpa ada percakapan diantara kita. sekalipun Aku akan menunggumu di Cafe Nirwana pukul dua siang besok. Please, aku mengharapkannya..?.

5 jam kemudian, jawaban itu datang

?Baiklah. Tapi tidak lama-lama and just between us, as old friends, not more than that.Okey??

Lelaki itu melonjak gembira. Ia mengetik balasan email itu dengan mata berbinar.

?OK, terimakasih. Aku akan ada disana setengah jam sebelum janji kita ketemu. See you tomorrow?

***

Dia masih seperti dulu. Badan tinggi tegap, rambut ikal meski ada beberapa helai uban terlihat dan wajah tampan dengan rahang kukuh yang menjadi ciri khasnya, perempuan bermata kejora itu membatin.

Ia telah sampai di Cafe Nirwana, bahkan sebelum lelaki itu tiba dan mengambil sebuah tempat tersembunyi yang membuatnya lebh leluasa menyaksikan pengunjung Cafe yang ramai berdatangan.

Berbagai perasaan berkecamuk dihatinya. Terutama saat melihat beberapa email dari lelaki itu masuk ke inbox-nya yang menanyakannya dimana ia berada saat ini dan sama sekali tak dijawabnya.

Setelah 15 tahun berlalu, ternyata perasaan itu tak berubah. Ia masih mencintai lelaki pencumbu malam itu. Lelaki yang sekalipun tak pernah menyatakan perasaan cinta padanya namun mengungkapkannya lewat puisi yang seketika membuat hatinya porak poranda dan melambung ke atas awan. Ia masih menyimpan puisi yang disisipkan pada buku matematika yang dipinjam lelaki itu padanya, sebuah puisi yang selalu membuatnya rindu:

Pada Saatnya,

Ketika musim berganti

Dan gugusan mendung yang ranum

Menitikkan tetes hujan pertama

Biduk yang kukayuh akan merapat ke dermagamu

Menyibak kabut keraguan

Lalu mendamparkan hasrat yang hangat dibakar rindu

Pada Saatnya,

Di ujung perjalanan

Akan kubingkai binar matamu

Bersama gelegak gairah jiwaku

Menjadi lukisan indah di lekuk cakrawala

Dalam leleh cahaya bulan melumuri langit

ditingkah semilir angin laut

dan tarian ombak

membelai lembut kristal pasir pantai

Pada Saatnya,

Akan kubuatmu terjaga dari lelap tidur

lalu bersama merajut impian yang tak segera usai,

Dalam genangan cinta dipalung kalbu

Dan getar cumbu tak berkesudahan

Perempuan itu menghela nafas panjang. Begitu berat beban yang menghimpit dadanya.Tapi ia telah memutuskan. Dan baginya inilah jalan yang terbaik, meski menyisakan luka menganga begitu dalam dihatinya. Dengan gerakan kaku dan rasa haru di kalbu, ia mengirim sebuah puisi ke alamat email lelaki itu.

Selalu, aku rasa,

kita akan bercakap dalam senyap

Dengan bahasa langit yang hanya kita yang tahu

serta menyemai setiap harap yang kerap datang mengendap

lalu meresapinya ke hati dengan getir

Selalu, aku rasa,

kamu tersenyum disana, ketika akupun tersenyum disini

dan kita, dengan bahasa langit yang kita punya itu,

secara bersahaja, menyapa larik-larik kenangan

dan meniti setiap selasar waktu

bersama desir rindu menoreh kalbu

Selalu, aku rasa,

kita tak dapat menafikan

batas yang membentang

dimana jarak membingkainya lalu menjadikannya nyata

serta membuat kita sadar

bahwa pada akhirnya,

dalam pilu kita berkata:

Biarlah, kita menyesap setiap serpihan senyap

dan menikmatinya, tak henti,

hingga lelap

tanpa tatap, tanpa ratap

Setelah konfirmasi pengiriman email terlihat, ia bergegas mematikan laptop dan keluar dari cafe tersebut melalui jalan belakang. Rinai hujan menyambutnya diluar dan ia nekad menembus jarum-jarum air yang menitik tajam ke tubuhnya itu, bersama air mata yang menetes pelan di pipinya. Sebuah taksi yang kebetulan lewat segera ia tahan dan berlalu pergi bersamanya.

***

Lelaki itu mendadak tersentak kaget. Dari balik kaca jendela ia melihat sosok perempuan yang ditunggunya itu berlari menembus hujan dari arah belakang Cafe dan bergegas menahan sebuah taksi yang lewat.

Spontan lelaki tadi berlari keluar Cafe mengejar taksi tersebut sambil meneriakkan nama perempuan tadi dengan lantang. Hujan deras membasahi seluruh tubuhnya.

Dan terlambat, perempuan itu telah pergi, melaju bersama taksi yang ditumpanginya.

Lelaki itu tergugu pilu. Perempuan itu telah menghilang di balik hujan.

Tiba-tiba ia ingin menulis sebuah puisi dan menorehkannya ke langit kelam. Untuk perempuan yang telah membawa separuh hatinya :

Sudah lama,

aku menyulam khayalan pada tirai hujan

menata wajahmu disana serupa puzzle,

sekeping demi sekeping,

dengan perekat kenangan di tiap sisinya

lalu saat semuanya menjelma sempurna

kubingkai lukisan parasmu itu

dalam setiap leleh rindu

yang kupelihara di sudut hati dengan rasa masygul

dari musim ke musim

?Cinta selalu memendam rahasia dan misterinya sendiri,

pada langit, pada hujan,? katamu lirih terbata-bata.

Dan seketika, linangan air matamu menjelma

bagai deras aliran sungai yang menghanyutkanku

jauh ke hulu

dimana setiap harapan kita karam disana

Sudah lama, aku memindai sosokmu

pada derai gerimis

memastikan setiap serpih mimpiku

untuk bersamamembangun surga di telapak kakimu

dapat menjadi nyata

tapi selalu, semuanya segera berlalu

dan sirna bersama desir angin di beranda

?Percayalah, aku ada dinadimu seperti kamu ada didarahku,?bisikmu pelan

ketika bayangmu, perlahan memudar dibalik rinai hujan..

?

Cikarang, After Midnight 260309

  • view 252