Surat Cinta Terbuka Untuk Istriku

Amril Taufik Gobel
Karya Amril Taufik Gobel Kategori Inspiratif
dipublikasikan 09 Februari 2016
Surat Cinta Terbuka Untuk Istriku

Istriku sayang,

Malam ini, usai kita menunaikan sholat isya berjamaah dalam suasana khusyuk dan tawadhu?, ada berjuta kebahagiaan merekah tak terhitung memenuhi dadaku. Hal ini terutama karena, malam ini, kita memperingati usia pernikahan kita.

Sebuah perayaan tahunan yang selalu sangat berkesan karena kita menikah sehari setelah ulang tahunku. Sungguh, ini sebuah ?kado? paling istimewa sepanjang hidup.

Betapa cepat waktu berlalu. Kita telah melalui masa-masa suka dan duka bersama sebagai pasangan suami istri, yang saling melengkapi, saling menggenapi. Kita tersenyum bersama mengingat masa-masa awal kita bertemu pertama kali dulu serta perjalanan kehidupan pernikahan kita yang penuh dinamika. Indah, lucu, getir dan juga mengesankan.

Kamu tertawa pelan ketika aku menceritakan kembali bagaimana aku jatuh cinta secara spontan hanya dari bening suaramu, juga ketika aku mengisahkan ?bela-belain? menjadi tukang ojek sepeda demi menemuimu (baca di ?Demi Cinta Jadi Tukang Ojekpun Tak Apa?), kegundahanku menjelang pernikahan (baca ?Catatan 9 tahun usia pernikahan?) , bagaimana perjuangan kita memperoleh anak yang sudah kita dambakan selama 3 tahun (baca ?Desperate Seeking Child?) serta kisah ketika aku beraksi menjalankan strategi melampiaskan rasa ngidam-mu ketika hamil anak pertama kita (baca ?Strategi Jitu Melampiaskan Ngidam?) dan tentu tak lupa aksi-aksi lucu menggemaskan kedua buah cinta kita, Rizky dan Alya.

Pada saat yang sama, airmatamu mengalir ketika kuceritakan pengorbanan menggadaikan cincin kawin di masa awal pernikahan (baca ?Biarkan Emas itu tergadai, asal bukan cinta kita?) atau ketika Rizky, anak pertama kita mesti dirawat lama di rumah sakit karena dadanya tersiram air panas (baca ?Papa, Jangan Menangis?). Semuanya terangkum dalam rangkaian mozaik indah yang mewarnai seluruh perjalanan cinta kita.

Ya, memang demikianlah, cinta adalah mengalami. Merasakan. Mendalami. Meresapi.

Ketika kita menyadari untuk memilih sebagai pasangan hidup dan belahan jiwa, maka disaat yang sama, cinta itu harus senantiasa ikut bersama setiap jejak langkah kaki, sambil menautkan jemari, lalu berjalan bergandengan. Bersama. Aku menjadi bagian dari dirimu, begitupun sebaliknya, Dirimu menjadi bagian tak terpisahkan dari diriku. Ikatan perasaan mutual yang ada dari hubungan kita tumbuh mekar bersama pengalaman menjalani hidup bersamamu.

Cinta mesti berada pada tataran esensi, bukan sekedar eksistensi, yang dipelihara dan dinikmati setiap detik proses melaluinya. Bahwa dalam perjalanan cinta kerap kali terjadi letupan-letupan yang mengejutkan, kita senantiasa berusaha untuk mampu melerai dan menanggulanginya. Karena kita menempatkan cinta itu tidak sebatas kenangan dan pikiran. Ia adalah bagian dari interaksi antara kita untuk menjaga harmoni. Membuat ?bara? nya tetap menyala hangat dalam jagad hati kita masing-masing.

Istriku sayang,

Aku ingin menceritakan kembali padamu sebuah kisah menarik dari cerpen O?Henry (nama pena dari William Sidney Potter) berjudul ?The Gift of Magi?. Diceritakan pada cerpen yang dipublikasikan pertama kali tahun 1906 tersebut, sepasang suami istri yang hidup miskin, James dan Della yang saling mencintai satu sama lain bermaksud memberikan hadiah terindah bagi pasangan masing-masing di hari Natal. Sayang mereka tak memiliki uang. Akhirnya Della menjual rambutnya yang indah dan hitam mengkilat untuk membeli rantai emas pelengkap jam tangan emas kebanggaan James. Tak disangka-sangka, James justru menjual jam tangan emasnya untuk membeli sisir berhiaskan mutiara untuk rambut hitam mengkilat sang istri. Hilang sudah harta berharga yang mereka miliki menjadi barang yang tak berguna.

2658_57396453485_5174151_n

Namun, apa yang ingin dikatakan O?Henry dalam cerpen ini memiliki makna sangat dalam. Bahwa hadiah cinta, ketulusan dan kasih yang mendalam jauh lebih berharga dari sekedar sisir mutiara atau rantai emas. Mereka boleh saja menjadi lebih miskin, namun peristiwa ini membuat jiwa mereka lebih kaya.

Aku teringat peristiwa serupa ketika kita pernah menggadaikan kedua cincin kawin yang kita miliki di masa awal pernikahan dan dengan lapang dada sembari saling pandang satu sama lain ditengah-tengah kepulan asap penggorengan sambal goreng ati, cinta itu mengalir deras dari kedua kelopak matamu seperti kamupun melihat kasih yang menggelora memancar dari mataku.

Istriku sayang,

Sudah 156 purnama kita lalui. Dan aku mendadak teringat, ketika kita menyaksikan bulan purnama bulat bundar bersinar lembut dirangka langit pertengahan bulan lalu dari teras rumah mungil kita.

?Bulan yang indah, semoga kita akan selalu menikmati cahayanya. Selalu. Bersama,? katamu pelan sambil menggenggam erat jemariku. Senyum manis tersungging di bibirmu.

Aku mengangguk dan merasakan kesejukan mengalir di setiap kapiler rasa dalam tubuhku. Dan kebahagiaan meruap ke segenap semesta. Tak terlerai.

Kupeluk pundakmu dan kita berdendang kecil lagu yang kita senangi : Yen In Tawang ono Lintang.

Yen ing tawang ana lintang, cah ayu [jika dilangit ada bintang,cah ayu ]

aku ngenteni tekamu [aku menanti hadirmu]

marang mega ing angkasa [kepada awan di langit]

ingsun takokke pawartamu [Aku menanyakan kabarmu ]

Janji-janji aku eling, cah ayu [semua janji aku ingat]

sumedhot rasane ati [terputus rasanya hati ]

lintang-lintang ngiwi-iwi, nimas [bintang-bintang mengoda aku, nimas]

tresnaku sundhul wiyati [cintaku tak berbatas, setinggi langit]

Dhek semana janjiku disekseni mega kartika [Semenjak itu janjiku di saksikan awan bintang]

kairing rasa tresna asih [teriring rasa cinta kasih]

Yen ing tawang ana lintang, cah ayu [jika dilangit ada bintang, cah ayu]

rungokna tangising ati [dengarkan rasa terdalam hatiku]

binarung swarane ratri, nimas [resapi suara diwaktu malam hari]

ngenteni mbulan ndadari [ menunggu bulan purnama]

Entahlah, disebabkan kekuatan apa yang membuatku sampai berusaha sekuat tenaga menghafal lagu ini. Aku ingat kamu seringkali terkikik geli sambil menutupi mulutmu ketika aku salah menyanyikan lagu lawas yang diciptakan Anjar Any itu. Tantanganmu ini memang sungguh berat, terutama untukku yang sudah terbiasa dengan logat daerah yang berbeda.

Aku mendadak tersadarkan, kita seringkali melupakan momen-momen ?biasa? namun indah dan mengesankan karena terlalu sering tenggelam pada masalah-masalah, pertanyaan-pertanyaan atau peristiwa-peristiwa besar. Dan malam itu, menyanyikan kembali lagu ini bersamamu, dengan cahaya lembut purnama menghiasi langit, bersama anak-anak kita di beranda, aku merasakan kehidupan ini kian terasa lengkap dan penuh semangat. Bersamamu.

Tawa anak kita yang lepas saat melihatku bernyanyi terbata-bata serta raut wajah gemasmu mengajarkanku kembali bait demi bait syair lagu tersebut, aku jadi tahu, betapa penting dan dashyatnya kebersamaan ini sebagai pilihan titik takdir kita. Menyaksikan Alya menari dan Rizky dengan gayanya yang lucu menggoda adiknya menyadarkanku bahwa kedua buah hati kita ini menjadi bagian integral semesta kebahagiaan.

Tiba-tiba aku ingat pertanyaan seorang filsuf terkemuka Walter Benjamin ?kenapa kita seringkali tak bisa menikmati waktu, tak bisa menikmati hidup???. Ia menjawab bahwa karena kita bagaikan jarum jam dalam arloji. Setiap saat terus berputar, mengitari angka-angka. Melewati tempat dan angka yang sama. Berulang. Terus menerus. Rutin. Sama seperti yang kita lakukan sendiri hingga kemudian lupa memaknai apa yang telah kita kerjakan. Padahal ada begitu banyak momen-momen kecil, sederhana, remeh dan nyaris tersisihkan yang sesungguhnya memiliki makna besar bagi setiap jejak perjalanan kehidupan.

Dan saat ini, di peringatan Ulang Tahun Pernikahan, kita berusaha untuk tidak menjadi jarum dalam arloji. Kita mengambil jeda sejenak. ?Berhenti?. Berkontemplasi. Introspeksi dan berkaca pada cermin diri. Kemudian memahami lebih dalam makna setiap perjalanan serta bagaimana kita mengelolanya, dengan maupun tanpa rasa perih atau kehilangan. Semua menjadi pelajaran berharga untuk menentukan kiprah selanjutnya.

Istriku sayang,

Bersamamu. Bersama anak-anak.. Kita telah saling menggenapi segala makna atas perjalanan kehidupan. Aku mensyukuri segala anugerah dan nikmat yang tercurah dari Allah SWT, menyusuri detik demi detik, tahun demi tahun dalam suka dan duka. Terimakasih atas segala kasih sayang dan cinta yang telah terpatri indah mulai dari peristiwa-peristiwa kecil pada jejak langkah kita. Kelak, kita akan selalu berhenti sejenak, tak sekedar ?melambat? dari roda rutinitas, tapi berupaya memahami keberadaan, menyentak ruang kesadaran dan mengevaluasi harapan juga mengamati keindahan sekeliling untuk kemudian terus maju dengan optimis.

Perjalanan masih panjang dan tentu tak mudah, istriku. Dan semoga kebersamaan kita, selalu langgeng dan aku akan senantiasa merindukan binar bola matamu yang teduh laksana purnama, menyanyikan lagu itu dengan syahdu dan menggetarkan?

Yen ing tawang ana lintang, cah ayu [jika dilangit ada bintang, cah ayu]

rungokna tangising ati [dengarkan rasa terdalam hatiku]

binarung swarane ratri, nimas [resapi suara diwaktu malam hari]

ngenteni mbulan ndadari [ menunggu bulan purnama]

?

Terimakasih telah menjadi istri yang hebat untukku dan ibu yang luar biasa buat kedua anak kita selama ini.

  • view 434