Menjalani Seorang Diri

Ammar Muhammad
Karya Ammar Muhammad Kategori Motivasi
dipublikasikan 19 Oktober 2016
Menjalani Seorang Diri

Bagaimana rasanya membesarkan anak-anak seorang diri? seorang ayah atau ibu yang menjalani harinya sendirian. Dalam kepingan takdir yang tak selalu manis ini, ada sebagian orang yang ditakdirkan menjalani roda kehidupan sendiri, ada yang selamanya, ada juga yang merasakannya untuk beberapa waktu, sebab ditinggal wafat atau memang dipaksa berpisah oleh keadaan. Tentu tak seorang pun di dunia menginginkan hal itu, kalau memang bukan yang digariskan Tuhan, bisa jadi baginya itu keputusan yang paling tepat.

Bagi mereka guyur hujan atau terik matahari mungkin tak ada beda, walau bagaimanapun, harus terus menghidupi meski tak ada yang membersamai. Memutar pikiran, mencari cara menghemat belanja harian dan menabung sisanya untuk perlengkapan sekolah anak-anak. Kita tak tahu apa yang terjadi dalam dada mereka saat anak-anaknya rewel meminta mainan, sementara harganya melebihi kas belanja harian. Kita juga tak tahu bagaimana sulitnya mereka ketika harga sewa rumah tiap tahun bertambah tinggi, sementara makin hari kebutuhan keluarga makin banyak.

Sebagian orang bertanya, kenapa tidak mencari lagi pasangan yang kaya saja, agar tak repot berpikir ini dan itu? Sampai saat ini aku tak menemukan jawaban paling tepat. Mungkin, bagi beberapa orang, kesendirian dan kesibukan dalam keluarga yang diemban sendiri membuat tak lagi berpikir tentang cinta pada pasangan. Barangkali tawa anak-anak saat pulang sekolah cukup menjadi pemenuh yang tiada dua. Sehingga tanpa disadari celah ketidak utuhan dalam keluarga tersebut telah tertutupi dan terpenuhi oleh kebahagiaan yang lain.

Banyak sekali saya menemui keluarga yang tak utuh. Bahkan seringkali dengan keadaan yang serba kekurangan. Tapi, yang membuat mereka menjadi luar biasa adalah ketangguhan mereka menjalani hidup dengan harapan yang begitu luas. Salah satu buktinya, seringkali anak-anak yang tumbuh dalam keluarga tersebut lebih mandiri dari anak-anak yang lain, tak mudah mengeluh, tidak hedon dan tak sedikit juga yang berprestasi melebihi anak-anak yang lain.

Kita tak pernah bisa benar-benar merasakan bagaimana menjadi mereka. Yang kita tahu hanyalah pencapaian mereka setelah jerih payah itu mereka lewati. Jauh di belakang itu semua, ada kesenangan orang tua yang sengaja dipatahkan demi anak-anaknya, tak peduli pada penilaian orang lain selama yang diperjuangkan itu perkara halal, dan sajadah yang tak pernah kering dari air mata.  Semoga Allah menyayangi para orangtua yang menjalani hidup seorang diri.

Di antara yang tumbuh selalu ada yang patah, di bawah yang berkembang selalu ada yang ditekan, di ketinggian yang menjulang ada yang dipaksa hilang, di kerumunan yang pergi selalu ada yang dinanti, di riuh pikiran pura-pura tak peduli ada perhatian yang dicari, di tiap gelak tawa ada yang tertahan nafas mengelus dada.

  • view 145