Belajar dari western union, nokia, dan perusahaan taksi

Belajar dari western union, nokia, dan perusahaan taksi

amiril ardiansyah
Karya amiril ardiansyah Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 07 Mei 2018
Belajar dari western union, nokia, dan perusahaan taksi

Besarnya sebuah perusahaan bukan jaminan, tingginya saham dan mengguritanya usaha tidak menjamin akan bertahan dimasa mendatang. Kiranya itulah statemen yang pas untuk mengawali tulisan yang akan segera ketinggalan zaman dan akan membusuk di dunia maya yang makin tidak karuan. Menghadapi tantangan dunia yang makin edan, sudah sepantasnya kita terus belajar supaya tetap bisa bertahan. Jika kita menilik pengalaman, ada banyak hal yang dapat memberi kita pelajaran. Ambillah contoh dari beberapa perusahaan,  dimana dalam beberapa dekade terakhir terdapat beragam perubahan yang membuat suatu perusahaan naik turun menghadapi kekacauan (disruption). Terdapat beberapa perusahaan besar yang dapat dikatakan gagal memprediksi perubahan zaman, seperti Western Union, Nokia, Yellow Cab di Amrik ataupun Black Cab di UK.  Entah disebabkan kurang dapat membaca tren, terlalu yakin dengan kekuatan dan teknologinya, atau terlalu merasa digdaya, tapi yang pasti mereka sempat kolaps dan mengalami penurunan penghasilan yang kronis.  

Jika menilik sejarah, Western Union (awal abad 20an) yang merupakan perusahaan dibidang keuangan dan telegram tetap bersikeras dan peraya diri meskipun telah lahir teknologi yang mengubungkan pesan suara (telepon). Alhasil dengan menolaknya western union untuk menggunakan dan mengembangkan teknologi telepon saat itu menjadikan mereka mengalami penurunan penghasilan di masa-masa selanjutnya. 

Nasib serupa juga dialami oleh Nokia, produsen telepon nirkabel (handphone) ternama pada zamannya. pada masa kejayaannya merk Nokia begitu digdaya dan menguasai hampir diseluruh segmen telepon genggam pada saat itu. namun ketika dunia semakin disatukan oleh internet, perlahan merk ini makin menyusut. Terlebih setelah google merilis android, yang berhasil menggaet pabrikan besar lain semacam samsung dkk. Semenjak kemunculan telepon pintar berbasis android pabrikan nokia yang saat itu masih memegang teguh symbian-nya benar-benar mengalami penurunan omzet yang luar biasa, sampai-sampai mereka melepas beberapa produknya ke pihak lain.  Adapun sekarang ini mereka sedang merangkak mengikuti tren pasar maskipun sudah sangat-sangat telat dalam memulainya.  

Lain ladang lain belalang, kiranya itulah yang cocok menggambarkan ter-disrupsi-nya perusahaan satu ini. Salah satu perusahaan yang mengalami goncangan hebat di era digital ini adalah perusahaan taksi. Lahirnya aplikasi smartphone tentang layanan taksi online telah menggerus pasar taksi konvensional di berbagai belahan negara. Hal ini membuat para incumbent bisnis tersebut berputar otak untuk mempertahankan bisnis legendanya. Dunia yang semakin terdigitalisasi ditambah dengan umat manusia jaman now yang serba praktis mulai mendegradasi bisnis model kuno yang terlalu kaku dan terikat banyak aturan. Munculnya uber dan grab telah mengganggu zona nyaman para pemilik bisnis taksi konvensional. Layanan taksi online yang memberikan kemudahan akses setidaknya menjadi salah satu daya tarik luar biasa bagi masyarakat dunia saat ini. Uniknya meski tidak kelihatan armadanya, perlahan tapi pasti taksi online berplat hitam (kendaraan pribadi) ini membuat kekahawatiran layanan taksi konvensional yang berseragam. Bisnis mereka kacau balau hingga mengalami penurunan omzet yang luar biasa besar. Bahkan untuk negara sekelas Amerika dengan Yellow Cab dan Inggris dengan Black Cab nya sempat tergoncang gara-gara adanya tren bisnis baru ini.  Tidak kelihatan tapi mampu menggoncangkan.

Beberapa kasus diatas setidaknya memberikan pelajaran buat kita, bahwa kita harus pandai-pandai dalam menatap masa depan. Kepekaan dalam membaca tren perkembangan zaman menjadi suatu keharusan untuk semua kalangan. Tidak hanya perusahaan yang harus melakukan perbaikan. Kita sebagai individu juga mewajibkan diri untuk terus berbenah sesuai perkembangan zaman. Terlebih generasi muda yang tergolong dalam usia produktif, menjadi fardhu 'ain (wajib pakai banget) untuk terus berinovasi dan mengembangkan dirinya agar laku dalam dunia kerja dan mampu  berkontribusi besar dalam membentuk dunia menjadi lebih baik. Disinilah adaptasi sangat diperlukan, apakah kita layak untuk tetap eksis dan bertahan. Terus berubah sebagaimana masa berjalan, terus berkembang sebagaimana kau tumbuh, karena ketika berhenti berinovasi dan beradaptasi maka kita mati tertelan kerasnya zaman. Salam.

PS: "Inovasi itu harus, jangan hanya terpaku pada yang sudah ada dan tinggal di zona nyaman melulu"

 

  • view 46