post-truth era

amiril ardiansyah
Karya amiril ardiansyah Kategori Politik
dipublikasikan 13 November 2017
post-truth era


"Kebenaran menjadi komoditas mahal, dan fakta tidak lagi penting di era post-truth"

Politik pasca kebenaran, merupakan budaya politik dimana perdebatan publik dibingkai oleh daya tarik pada emosi dan perasaan masyarakat, terlepas dari fakta atau maksud politik yang sebenarnya.  Salah satu sifat pokok dalam politik pasca-kebenaran ini adalah bahwa para politisi dan pendukungnya terus menerus mengulangi sesuatu yang menarik perhatian rakyat, walau sudah ditemukan oleh media atau para pakar independen bahwa pernyataannya sama sekali tidak berbasis fakta.  Untuk melancarkan aksinya tersebut dalam upaya menarik perhatian, kepercayaan atau dukungan para politisi era post-truth dengan cerdik memanfaatkan media sosial sebagai pusat pemberitaannya. Dalam membingkai berita untuk melancarkan kepentingannya tersebut  biasanya taktik micro-targeting dipergunakan, yaitu menggunakan rumor dan kebohongan secara strategis. Sebagaian besar berita adalah ulangan dari berita yang sudah pernah disebarkan sebelumnya dengan sorotan yang dilebih-lebihkan dengan perhatian penuh pada sensasi. Alhasil, menjadikan masyarakat luas sulit membedakan kebenaran dan kebohongan, apa yang akurat dari apa yang tidak akurat.

Para politisi jahat seringkali memanfaatkan ini untuk menunjang pencitraan dirinya atau menyerang lawan politiknya. Dan memang perlu diakui bahwa kondisi saat ini menunjukan posisi media sosial mejadi alat strategis untuk menyebarkan berbagai berita, baik fakta atau hoax. Semua bebas bertebaran di dunia maya. Ironisnya, justru pemberitaan yang bersifat sensasional, skandal dan tidak berbasis pada kebenaran yang laku di lingkaran masyarakat. Masyarakat saat ini sedang memasuki masa gemar dalam memberikan respon dan tak menutup kemungkinan mereka akan berdebat sengit di media sosial terlepas dari berita yang di komentari benar atau tidak.  Kondisi inilah yang juga dimanfaatkan para pembuat berita jahat, mereka tidak lagi menjunjung tinggi kebenaran yang penting adalah pembaca, pemirsa dan menjadi trending topik, serta rating. Sehingga tidak mengagetkan apabila terdapat istilah "berita pesanan" atau dengan kata lain berita yang tidak sesuai dengan fakta, karena yang dikejar pembuat berita seperti ini hanyalah kepentingan komersil belaka. 

Di era politik pasca kebenaran, media sosial menjadi platform terbesar yang  mengambil alih peran sebagai penerbit berita, namun tanpa batasan hukum yang berati atau kewajiban sosial. Semua bebas menulis dan menyebarkan berita terlepas berbasis fakta atau hanya sekedar hoax. Selama berita itu laku, menghalalkan segala cara dapat ditempuh. Inilah yang berbahaya, ketika kebenaran tidak lagi diaggap benar. Dan tampaknya kebenaran menjadi komoditas mahal di era post-truth. Bijaklah sebagai pembaca atau jadilah pembaca cerdas dalam memilih dan memilah berita. 

"Kita mesti mempromosikan sebuah sistem pendidikan yang menanamkan akan kebenaran" - Plato

  • view 124