Aku Hanya Pulang, Bukan Pergi

Amien Nurhakim
Karya Amien Nurhakim Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 November 2017
Aku Hanya Pulang, Bukan Pergi

Kudengar dikau sedang menyenandungkan sajak-sajak kerinduan, menggapai rasa, menahan asa. Kau terus mencariku kemana-kemana, ke segala penjuru dunia, ke ufuk temaram di seberang samudera.

Kutahu, kau sedang merindu. Rindumu tak terhingga kapasitasnya. Suara lantang kau derukan, berbagai literatur kau terbitkan, demi mencariku yang menghilangkan diri.

Dulu kau seringkali berlari, mengejar angan yang tak pasti, pergi menghindar. Seolah kewalahan, aku berlaga simpati dan empati terhadapmu. Hingga akhirnya rasa lelah dan penat menghampiri, mengajak diri untuk kembali ke posisi awal, dan pulang.

Tak perlu lah kau bebankan dirimu dengan penantian. Pencarianmu sudah di ujung ketidak pastian, menurutmu. Namun perlu kau ketahui, kepulanganku tidak akan selamanya.

Aku hanya perlu berangkat lagi, menuju beberapa tempat yang mampu menerima hal-ihwal diri ini. Segala perihal masa lalu bukanlah suatu perkara buruk dan tak perlu ditinjau lebih lanjut.

Daun-daun di tangkai pohon Gaharu sudah menerikaimu selantang-lantangnya, “Janganlah kau berlari, mengejar mimpi yang tak pasti”. Alang-alang yang menghampar di padang ilalang, dengan lembut mengikat kakimu, bermaksud menahan gerik langkahmu. Bisik-bisik air sungai menderaskan dirinya, mengikat bisu, menggericikan nada-nada kekhawatiran, untuk menjagamu.

Lagi-lagi harus kuucapkan, “Aku hanya pulang, bukan pergi”. Bungkamlah segala rindu yang menggerogoti lubuk hati, meneteskan bulir-bulir air mata kerinduan yang mendalam. Bukankah cahaya esok hari akan tetap terbit?.

Sang bulan nampaknya sedang berusaha, menemani malam-malammu, menghiburmu, menerangimu di sisi kegelepan. Sang fajar pun tak kalah semangat dalam menyemangati harimu, melihat keikhlasanmu.

Aku faham betul, hatimu sangat hancur-sehancur-hancurnya. Dari sikapmu yang mulai keluar dari koridor kenyamanan. Merajut air mata tanda tangis yang dalam.

Teruslah semangati dirimu. Menebar nilai-nilai positif, mengejar angan-angan yang sudah lama terpendam. Bukankah dulu kau seringkali menceritakannya di hadapanku, memintaku untuk mendengarnya secara seksama, dengan penuh rasa.

Akan ada waktunya, dimana kau berada di atas singgasana asmara ketabahan. Setelah menebas jarak waktu kerinduan. Saat itu, kau hanya tinggal mereguk air dari secangkir obat kehidupan.

  • view 29