RASA TULISAN

RASA TULISAN

Amie Primarni
Karya Amie Primarni Kategori Inspiratif
dipublikasikan 03 Agustus 2017
RASA TULISAN

Dr. Amie Primarni 
 
Di komunitas Penulis Sahabat Pena Nusantara ada 70 penulis. Setiap pagi saya disuguhi aneka rasa tulisan. Ada tulisan yang membuat saya terkekek sendirian. Ada tulisan yang membuat saya termenung berintropeksi, ada tulisan yang membuat rasa penasaran saya muncul.
  
Saya tidak tahu apakah hanya saya yang bisa merasakan sebuah tulisan. Atau memang sebenarnya sebuah tulisan itu punya jiwa sehingga punya rasa. 
 
Entah mengapa tanpa saya sadari, setiap kali membaca tulisan yang pertama kali saya kecap ( keecap ) itu rasanya, seperti kalau kita masak... saya cicip dengan lidah kemudian muncul aneka rasa dilidah saya, manis, gurih dengan rangkaian rasa yang berbeda antara manisnya gula pasir, atau kecap kedelai. Dan gurihnya garam atau bawang putih. 
 
Begitu juga jika saya membaca tulisan. Misal ya... saya baca tulisan Papa Muda Suhardiyanto Abu Husain, saya jadi ingin joget. Saya tidak tahu apa Papa Muda ini nulisnya sambil joget gitu ?... ada rasa menggelitik, geli, _crunchy_. Kalau saya baca tulisan Mas M Husnaini itu saya langsung terdiam menyimak, anteng. Kalau saya baca tulisan Dr. Ngainun Naim, saya jadi ikut tenang, terasa ada rasa sabar, _cool_. Tulisan Pak Much Khoiri Emcho itu rasanya bisa nano-nano, kadang menggelitik, tapi ada rasa kaldu daging yang kuat didalamnya. Mas Didi Junaediitu tulisannya membuat saya sadar diri, intropeksi dan reflektif. Tulisan Pak Hernowo membuat rasa buncah atau menaikkan rasa ingin tahu dalam diri saya. Tulisan Bu Rita Audriyanti-Kunrat itu buat saya seperti saya sedang menemani bu Rita pergi kemana-mana, gesit dan trengginas. Tulisan Kyai itu saya rasakan kelembutannya, kehalusannya dan kesabarannya.
 
Saya tidak tahu apakah memang demikian ya, sebuah tulisan itu tersaji. Karena sejatinya tulisan adalah buah dari jiwa. Dan jiwa itulah yang punya rasa. Karena itu jika kita menulis dengan jiwa maka apa yang kita tulis itu mewakili jiwa kita dan akan ditangkap oleh jiwa pembacanya. Dan disinilah terjadi dialog antara penulis dan pembaca. Mereka seakan sedang bertatap muka. 
 
Dari sini saya kemudian berfikir mungkinkah muncul *Writer Branding* maksud saya pada satu titik yang optimal tanpa disebut nama siapa penulisnya orang sudah akan tahu ini tulisan  siapa.
 
Untuk mencapai *Writer Branding* banyak menulis, dengan mencoba banyak gaya, dan rasa hingga kita menemukan _feel_ diri kita dalam tulisan itu sepertinya merupakan langkah yang harus ditekuni. Maka rajin dan tekun menulis adalah jalan menuju *Writer Branding*.

  • view 157