MANDIRI, TANGGUH, DAN MERDEKA

Amie Primarni
Karya Amie Primarni Kategori Inspiratif
dipublikasikan 03 Agustus 2017
MANDIRI, TANGGUH, DAN MERDEKA

Dr. Amie Primarni
 
Saya tidak tahu apakah analogi yang akan saya gunakan ini tepat atau tidak. Tapi saya ingin sekali menggambarkan kata mandiri dalam gambaran seperti ini. 
 
Pernah nonton atau lihat anak kuda lahir ? Masih terbungkus placenta yang telah robek disana-sini, dalam posisi tubuh terbaring tetapi kepala terangkat. Secara naluri dia berusaha untuk bangkit dan berdiri. Kakinya masih goyah dan gemetar, berkali-kali jatuh. Sang Ibu yang ada disebelahnya, mungkin sedang membisikkan kata-kata motivasi yang saya tak tahu bahasanya. Sambil membantu anaknya dengan moncongnya seakan berkata " ayo, nak mama bantu, kamu bisa berdiri". Naluri anak kuda terus membuatnya berusaha untuk berdiri tegak dengan empat kakinya. Dalam hitungan jam anak kuda berhasil menjejakkan keempat kakinya, meski masih bergetar dan tubuhnya goyah. Tapi dia berhasil tegak. Itulah gambaran mandiri dalam bayangan saya.
 
Mandiri sesungguhnya adalah naluri yang juga ada didalam diri manusia. Lingkungan, utamanya orang tua dalam pola asuh sebaiknya memberi ruang yang cukup untuk anak berkali-kali mencoba hingga bisa, hingga mampu. Tetap memantau jika ada bahaya, tetapi memberinya ruang yang cukup  untuk keluar dari placentanya. Tidak membantu  mengelupaskan placenta dari tubuhnya. Tidak membantu menopang kakinya. Dia diberi ruang untuk mencoba ke kanan, ke kiri, depan , belakang untuk bergerak agar dia leluasa bangkit. 
 
Anak kuda yang menggunakan nalurinya untuk bangkit ini, sekaligus memunculkan potensi tangguh yang ada dalam dirinya. Berkali-kali jatuh tidak membuatnya surut dari rasa ingin bangkit. 
 
Dan ketika dia mampu menjejakkan ke empat kakinya, rasa percaya dirinya tumbuh, dan rasa bebasnya muncul. 
 
Sebenarnya manusia juga seperti ini. Sudah banyak.digambarkan bagaimana sebuah sel sprema yang tangguh mampu mencapai sel telur dan melekat menjadi janin. Dan dalam waktu 9 bulan manusia tumbuh dalam perut ibunya. Saat dia tiba waktunya untuk lahir, maka tak ada yang bisa menahannya. Kepala dan seluruh tubuhnya bergerak mencari jalan keluar menuju mulut rahim, dia robek lapisan placenta yang melingkupinya, dan dengan segenal kekuatannya dia menerobos keluar menuju kehidupan dunia keduanya. Masih dengan lumuran ari-ari dia menangis menandakan kehidupannya. Naluri Mandirinya menggerakkan potensi ketangguhannya. 
 
 Tetapi manusia butuh waktu lebih lama untuk mampu menjejakkan dua kakinya. Dan kemandirian manusia tak terbatas hanya pada kemandirian fisik, melainkan kemandirian intelektual, dan emosi. Sementara kemandirian Spiritual dalam keImanan ditandai dengan kebebasan dirinya dari belenggu apapun. 
 
Kita, bangsa Indonesia membutuhkan anak-anak yang naluri mandirinya muncul kemudian mendorong potensi tangguh dari dalam dirinya mencapai titik optimal, sehingga tidak bergantung pada yang lain selain pada dirinya dalam lindungan Allah Swt.  Jika didalam diri setiap anak muda muncul jiwa Mandiri dan Tangguh, maka MERDEKA  itu mudah. Karena sesungguhnya Merdeka itu Naluri manusia. 
 
MERDEKA !!!

  • view 27