Jiwaku Kering

Amie Primarni
Karya Amie Primarni Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Mei 2017
Jiwaku Kering

Jiwaku kerimg

Sepuluh tahun lebih rumah ini mungkin hanya disinggahi oleh tak lebih dari lima orang. Jika sedang ramai mungkin itu hanya arisan yang memang selalu bergilir. Selebihnya rumah ini sepi tak.pernah disinggahi oleeh siapapun. 

Padahal dulu rumahku menjadi tempat berkumpul.banyak.teman dan keluarga. Setiap minggu tamu-tamy berdatangan silih berganti. Ayahku selalu terbuka untuk dikunjungi  meski jamuan yang kami sediakan sekedar singkong rebus, ubi rebus atau semangkuk mie instant. Tapi tamu betah berlama-lama di rumah senyaman mereka ada dirumah sendiri. 

Temanku pun kadang sudah ada dirumah menungguku pulang. Dengan nyaman mereka mengambil buku cerita yang ada diperpustakaanku dan sambil.tiduran mereka membacanya. Sungguh aku merasa kaya jiwa dan bahagia manakala rumahku ramai. 

Kini rumah yang kutempati ini terasa sunyi dan sepi tak ada satupun tetanggaku datang untuk sekedar mampir mengobrol di teras. Atau sanak famili yang beramai berkunjung. Bahkan saat Idul Fitripun tak ada satupun yang datang. 

Jiwaku kering tanpa silaturahin aku merasa sendirian . Aku merasa sebagian jiwa dan semangat hidupku mulai luruh.

Rumahku sepi, jiwaku kering

  • view 57