What Next, Setelah Sekutu Mengroyok Suriah?

Amidhan Shaberah
Karya Amidhan Shaberah Kategori Agama
dipublikasikan 26 April 2018
What Next, Setelah Sekutu Mengroyok Suriah?

 

Ibarat pepatah: Ketika seorang filsuf menunjuk ke bintang, yang dilihat orang bodoh hanyalah telunjuk sang filsuf. Padahal apa yang ingin dijelaskan filsuf tadi, adalah bagaimana keajaiban ilmu pengetahuan yang menyebabkan bintang-bintang itu tetap berada dalam keseimbangan. Bukan sekadar telunjuk sang filsuf.

Itulah gambaran tragedi perang Suriah yang terus memanas. Sebuah perang proksi antar kekuatan besar dunia di mana Suriah menjadi panggungnya!

Sampai di sini, kita perlu menelusuri, kenapa Suriah kini menjadi target baru Dunia Barat untuk dihancurkan. Karena Suriah adalah negara Timur Tengah yang belum “terbaratkan”.  Serangan Sekutu terhadap Suriah Sabtu dini hari (14/4) lalu adalah bukti tak terbantah bahwa ambisi Barat untuk menghancurkan negeri kawasan Timteng yang menentangnya sudah tak bisa ditahankan lagi. Jika demikian halnya, dunia akan kembali “terperosok” pada perang proksi yang amat hebat, yang bisa berujung pada perang frontal antara Barat (pimpinan AS) dan Timur (pimpinan Rusia) secara frontal. Sebab, bagaimana pun Suriah adalah teman dekat Rusia dan Cina – dua negara adidaya yang bersebrangan dengan Amerika dan Sekutunya.

 Kita tahu, semua negara-negara Teluk – Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, Oman, Bahrain, dan Irak – kini sudah terbaratkan; maksudnya sudah berada di ketika negara-negara Barat. Irak adalah yang terakhir setelah Barat mengeroyok Bagdad dan menghukum mati Sadam Husein. Saat itu, dunia masih ingat, Presiden George Bush menuduh Irak menyimpan senjata pembunuh massal dan mempunyai proyek pengembangan senjata nuklir yang disembunyikan dalam tanah. Konsekwensi dari tuduhan itu, Irak harus dihancurkan karena Sadam Husein tak mau negerinya diacak-acak Barat. Benar saja, Irak kemudian dikeroyok pasukan Sekutu dan hancur lebur. Sadam dihukum gantung. Dan proyek nuklir itu ternyata hanya omong kosong.

 Tapi apa daya? Nasi telah menjadi bubur. Dan niat Barat sudah tercapai, menjadikan Irak sebagai “bubur.” Soal adanya senjata pembunuh massal dan bom nuklir yang disimpan Irak itu hanya tuduhan kosong atau rekayasa, tidak ada masalah. Tanpa tuduhan adanya senjata pembunuh massal dan nuklir yang disimpan Sadam pun, Irak tetap akan dihancurkan Barat. Ini karena Sadam tidak lagi mau mengikuti instruksi Washington.

Setelah Irak luluh lantak, kemudian Baghdad dikendalikan Barat, traget berikutnya Libya. Kita tahu, akhirnya Tripoli pun hancur. Presiden Muammar Ghadafi dihukum mati. Tentu saja, alasan bisa dicari-cari. Untuk Libya, alasannya Muammar Gadafi diktator. Tidak demokratis. Totaliter.

Setelah Irak dan  Libya hancur, target berikutnya adalah Suriah. Suriah adalah negara Timur Tengah yang masih tersisa yang masih menentang Barat. Bagaimana caranya menghancurkan Suriah, Donald Trump menuduh Suriah memakai senjata kimia untuk memusnahkan “rakyat”nya sendiri.    

Kenapa tuduhan tersebut muncul? Karena Suriah selama ini tidak mau tunduk terhadap kebijakan Barat di Timur Tengah. Suriah lebih dekat kepada Rusia dan Cina. Suriah adalah negara yang konsisten berhubungan dekat dengan Rusia dan Cina yang nota bene punya kekuatan besar yang diperhitungkan Barat.

Menarik, isyu yang dikembangkan Barat untuk mengintervensi Suriah adalah pertentangan antara Sunni dan Syiah. Barat berhasil menjadikan Negara-Negara Teluk sebagai “telunjuk” untuk menyalahkan Suriah. Isyunya basi: Presiden Suriah, Bashar Assad,  adalah Syiah yang menindas Sunni. Isyu ini jelas mengada-ada. Ini karena faktanya, Suriah dan Bashar Assad bukanlah negara yang berideologi Syiah seperti Iran.

Yang jarang diketahui publik, Bashir Assad terpilih sebagai presiden dengan suara 88% dari suara Pilpres. Sedangkan populasi Suriah 75% Sunni dan 25% Syiah. Apa artinya, Assad adalah presiden yang disukai oleh muslim di negaranya, tanpa melihat mazhabnya. Assad sendiri bukan seorang presiden rasis. Tapi presiden yang mengikuti garis nasionalisme ayahnya, Hafidz Al-Assad, yang konsisten dengan cita-cita Partai Al-Ba’ath (Kebangkitan). Partai Ba’ath adalah partai yang ingin mempersatukan dunia Arab dan membangkitkan kehormatan bangsa Arab. Partai yang didirikan Michael Aflak (werga Kristen Suriah) tahun 1952 ini pula yang dianut Saddam Husein – Presiden Irak – yang juga telah dihukum mati Barat.

Ternyata, untuk menghancurkan Suriah bukan hal mudah. Meskipun Negara-negara Teluk patungan untuk membeli senjata guna menghancurkan Suriah, Tapi Damaskus bisa bertahan. Ujungnya, muncullah isyu Suriah menggunakan bom gas beracun. Strategi ini agaknya efektif karena Barat punya alasan legitimate untuk mengroyok Suriah berdasarkan Traktat Dewan Keamanan PBB (yang harus menghukum negara-negara yang memproduksi dan memakai bom gas sarin yang mematikan). Itulah tuduhan terakhir yang diarahkan ke Suriah.

 Menurut sumber-sumber Barat, serangan gas beracun di Khan Seikhoun, Provinsi Idlib Utara oleh tentara Suriah, telah menewaskan lebih dari 100 korban jiwa adalah suatu kejahatan perang. Terlebih anak-anak dan perempuan tidak luput menjadi korban atas serangan tersebut. Washington menduga, gas beracun itu diduga gas sarin yang melumpuhkan saraf pusat. Ajaibnya, belum lagi dipastikannya jenis gas kimia apa yang membunuh warga sipil itu, Amerika, Inggris, dan Prancis langsung menghajar Suriah Sabtu dini hari pekan lalu.

 Belajar dari perang Irak, AS selalu menjadikan senjata kimia sebagai legitimasi menumbangkan Sadam Husein dan membantai rakyat Irak namun hingga kini tuduhan itu tidak terbukti. Presiden AS Donald Trump dan Menlu  Inggris Boris Johnson menuduh Assad telah menggunakan senjata ilegal (gas sarin) untuk membunuh rakyatnya sendiri.

Sungguh tak masuk akal jika Assad sebodoh itu, melakukan serangan mematikan kepada rakyatnya sendiri. Bukankah saat ini Assad sudah di atas angin setelah memenangkan peperangan melawan milisi non-state yang berasal lebih dari 30 negara dalam merebut Allepo kembali kepangkuaannya? Bukankah itu kontra-produktif karena akan mengundang kecaman dunia?

Jawabnya: Assad telah melakukan kebijakan yang bertentangan dengan strategi Barat. Assad adalah Pemimpin Negara Arab terakhir yang selama ini menentang keras dominasi AS dan pendirian Israel di tanah bangsa Palestina. Karena ia menjadi traget  Barat untuk dihancurkan.

 Demi berhasilnya tujuan pembusukan itu maka semua sumber daya pun dikerahkan, termasuk adegan konyol hollywod White Helmet's yang terbukti menyebarkan kebohongan di Suriah melalui foto dan video baik yang di daur ulang maupun di buat oleh mereka sendiri dengan capture bukan di Suriah.

Masih hangat juga di ingatan kita rakyat kota Allepo tumpah ruah ke jalanan merayakan kemenangan dibebaskannya kembali kota itu dari penjajahan teroris internasional oleh tentara rejim.

Padahal opini di media mainstrem Assad dicitrakan membunuh rakyatnya sendiri? Dan teroris di sana yakni para milisi dimaksud dicitrakan sebagai mereka yang membela rakyat Suriah? Lantas kenapa yel-yel kemenangan di nyanyikan rakyat Suriah? Kenapa? Perang Suriah sudah berlangsung tujuh tahun. Dan, rakyat Suruah tahu betul, perang ini direkayasa Barat. Ini karena Suriah adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang tidak tunduk dengan Barat.

        Dunia selama ini terkecoh berita media massa yang sumbernya dari Barat. Media cetak dan elektronik umumnya mengandalkan berita perang di Suriah dari sumber-sumber konvensional, khususnya media arus utama Barat  yang berat sebelah. Pemberitaan yang tidak seimbang ini berakibat antara lain kelirunya persepsi sebagian publik tentang tragedi Suriah sehingga mereka lebih cenderung membebankan semua kesalahan di tangan rezim Assad. Dampaknya luar biasa. Suriah yang jadi korban rekayasa, justru disalahkan.  Mengomentari tragedi perang Suriah,  jurnalis perang kawakan Inggris, Robert Fisk, menulis “Sangat banyak kerusakan yang mencederai kredibilitas jurnalisme dan politisi dengan menerima hanya satu sisi cerita ketika tidak ada satu reporter pun yang bisa mengkonfirmasi dengan matanya sendiri apa yang mereka beritakan. Kita memberikan jurnalisme kepada media– dan kepada orang-orang bersenjata yang mengontrol area itu…”. Keprihatinan Fisk itu terkait dengan bagaimana menyesatkannya media Barat dalam pemberitaan konflik dan proses pembebasan Aleppo dari tangan milisi oposisi.

        Sepandai-pandai tupai meloncat, akhirnya jatuh juga. Itulah yang terjadi setelah Barat mengeroyok Suriah dengan tuduhan pemakaian bom gas sirin, Sabtu dini hari lalu itu. Dunia internasional mengecam AS. Di mana-mana terjadi demonstrasi yang mengecam AS, Inggris, dan Perancis itu. Kenapa? Dunia internasional sudah mencium akal bulus Sekutu tersebut. Sebuah perang rekayasa hanya untuk menghancurkan satu-satunya negara Timur Tengah yang Anti-Barat, Ant-Isreal, dan Pro-Palestina. Dunia mengecam sekutu yang menyerang Suriah secara membabibuta, yang telah menimbulkan kehancuran negeri yang pernah jadi pusat peradaban di Timur Tengah itu. Ingat sejak meletusnya perang Suriah 7 tahun lalu,  sudah lebih dari 5,5 juta warga negeri itu mengungsi dan terlunta-lunta di berbagai negara sekitarnya.

Apakah dunia internasional akan diam? What next? Akan ada kekuatan penyeimbang yang akan menolong Suriah. Rusia dan China niscaya tidak akan diam. Sekarang, terbukti dua negara adidaya dari Timur itu sudah siap menghadapi AS jika Amerika kembali menggempur Suriah. Jika kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin bara api Perang Dunia akan terbakar lagi. Naudzubillah.

       

H Amidhan Shaberah, Ketua MUI (1995-2015), Komnas HAM (2002-2007)

 

  • view 93