Islam bukan Agama Teroris

Amidhan Shaberah
Karya Amidhan Shaberah Kategori Agama
dipublikasikan 24 November 2017
 Islam bukan Agama Teroris

 

 Islam bukan Agama Teroris

 

Oleh Amidhan Shaberah

Ketua MUI (1995-2015)/Anggota Komnas HAM (2002-2007)

 

          Stigma agama teroris, apa boleh buat, ternyata masih melekat kepada Islam. Di Inggris saja, tahun 2017, terdapat empat kali tindakan terorisme yang membunuh puluhan jiwa. Terakhir  adalah serangan bom di stasiun kereta api Parsons Green, London, 20 September lalu. Sedangkan di Amerika, tindakan terorisme makin sering terjadi. Pelakunya tidak hanya muslim, tapi juga warga setempat nonmuslim. Tapi, lagi-lagi, sebagian besar teror di Amerika pun dilakukan oleh muslim.  Di AS, terakhir, tindakan terorisme dilakukan oleh Syafullo Saipov, warga AS  etnis Uzbekistan. Sayfullo, menabrakkan mobil yang dikendarainya kepada para pejalan kaki di New York sehingga menewaskan delapan orang , akhir Oktober 2017 lalu.  Sementara di Afganistan dan Somalia, di tahun 2017 ini, sudah puluhan kali terjadi tindakan terorisme. Korbannya kebanyakan justru orang Islam sendiri. Ratusan orang tewas akibat tindakan terorisme itu

 Islam bukan agama teroris

 Banyak sekali ayat Alquran yang menjelaskan bahwa Islam sangat menghormati nyawa manusia. Dalam Alquran dinyatakan bahwa dosa orang yang membunuh satu manusia tidak bersalah sama dengan dosa membunuh seluruh umat manusia. Sebaliknya, orang yang menyelamatkan hidup satu manusia, seakanakan ia menyelamatkan seluruh umat manusia (QS 5:32). Ayat ini menunjukkan penghargaan Alquran terhadap nyawa manusia yang luar biasa. Sejarah penaklukan Yerusalem (yang dikuasai Byzantium) oleh Salahuddin Al-Ayyubi pada abad ke-12 yang berlangsung ”damai” misalnya sampai sekarang masih menjadi kisah paling mengharukan di Barat.

          Betapa tidak, ketika Panglima Tentara Salib Richard The Lion Heart sakit, dengan menyamar, Salahuddin justru mengobatinya. Dalam Perang Salib tersebut, meski pasukan Kristen kalah, Salahuddin tetap menghormati Richard dan pasukannya. Karen Armstrong dalam bukunya, Holy War, menggambarkan, saat Salahuddin dan pasukan Islam membebaskan Yerusalem, tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh.

          Tapi, bagaimana kini? ISIS, Al-Qaedah, dan Al-Shabab— untuk menyebut tiga contoh organisasi teroris yang memakai baju Islam—adalah pembantaipembantai manusia tak bersalah. Mereka bertiga adalah contoh dari radikalisme, ekstremisme, dan terorisme yang ”menempel” pada Islam.

           Barat juga tidak akan pernah melupakan peristiwa pemboman WTC di New York (11/9/2001), pembantaian Paris (13/11/2015) dan kantor redaksi majalah Charlie Hebdo (7/1/2015), peledakan kereta api di London (7/7/2005), dan pemboman Paddy’s Club, Bali (12/10/2002) yang pelakunya ”para teroris” berbaju Islam itu.

          Tapi, masyarakat Barat terdidik yang berpikir kritis dan objektif juga tak terpengaruh dengan ”embel-embel” terorisme pada Islam. Justru sebaliknya yang terjadi: pascatragedi WTC ketika media massa Barat menghujat Islam, banyak orang Barat yang intelek penasaran ingin mempelajari Islam dan Alquran.

           Betulkah Islam itu identik dengan terorisme? Hasilnya di luar dugaan: alih-alih membenci Islam, mereka justru tertarik dan simpati kepada Islam. Bahkan banyak di antara mereka kemudian masuk Islam. Pascatragedi 11/9/2001 tercatat rata-rata 20.000 warga AS masuk Islam per tahun.

          Penelitian terbaru di AS makin mengejutkan: saat ini hampir 47% kaum muda AS justru simpati kepada perjuangan rakyat Palestina. Padahal, 10 tahun lalu jumlah mereka yang simpati hanya 15%. Jika simpati kepada perjuangan rakyat Palestina ini identik dengan simpati kepada Islam dan kebencian kepada Israel, data ini jelas sangat mengejutkan.

          Cepat atau lambat, umat Islam akan menjadi warga masyarakat AS yang jumlahnya signifikan dan bisa memengaruhi kebijakan White House dan Capitol Hill. Kondisi yang sama terjadi di Eropa. Jumlah umat Islam terus bertambah, baik di Eropa Barat, Eropa Tengah, maupun Eropa Timur.

          Pertumbuhan jumlah kaum muslimin di Eropa ini bukan hanya terjadi karena faktor kaum imigran muslim yang berasal dari Timur Tengah, Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh), dan Afrika, tapi juga berasal dari warga setempat yang berdarah asli Eropa. Di Inggris misalnya, menurut CNN, jumlah umat Islam sekarang sudah mencapai 4,7% dari populasi atau sekitar 3 juta jiwa.

         Ini artinya, dalam 10tahunterakhir, populasikaum muslim di Inggris naik 100%. Yang menarik, kata CNN, jumlah umat Islam di Inggris ini tiap tahun terus meningkat. Hal yang hampir sama terjadi di Prancis, Belgia, dan Spanyol. Jumlah umat Islam terus meningkat. Ironinya, peningkatan tersebut justru terjadi ketika citra Islam terpuruk akibat isu-isu terorisme.

        Saat ini memang citra Islam masih terpuruk di Inggris akibat isu-isu terorisme, tapi orang-orang Inggris percaya, para pelaku terorisme adalah orang-orang biadab yang ”menggunakan Islam” sebagai topeng. Sedangkan Islam adalah agama yang dalam sejarah terbukti pernah memberikan teladan hidup yang damai, toleran, dan cinta pengetahuan kepada umat manusia.

       Sejarah juga membuktikan revolusi industri di Inggris pun terpicu oleh penyebaran dan perkembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh umat Islam. Akhirnya, terpilihnya Sadiq Khan sebagai wali Kota London menyadarkan Barat, terutama Inggris, bahwa kampanye hitam terhadap Islam sudah bukan zamannya lagi.

       Yang sekarang dibutuhkan dunia adalah kerja sama antaragama untuk membangun peradaban yang cinta damaidanmembangunkesejahteraan umat manusia. Dalam Alquran disebutkan, Allah menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan dan menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling kenal-mengenal (Al-Hujarat 13).

          Ayat ini menyuruh manusia agar berpikir universal, humanis, dan saling menghargai. Nabi Muhammad sendiri menyatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain.

  • view 33