UU Ormas dan Terorisme

Amidhan Shaberah
Karya Amidhan Shaberah Kategori Agama
dipublikasikan 24 Oktober 2017
UU Ormas dan Terorisme

 

UU Ormas dan Terorisme

 Amidhan Shaberah

 Ketua MUI (1995-2015)/Anggota Komnas HAM (2002-2007)

 

Sebanyak tujuh fraksi di DPR (PDIP, Golkar, Nasdem, Hanura PKB, PPP, dan Demokrat) setuju Perppu Nomor 2/2017 disahkan menjadi undang-undang dalam rapat pandangan umum Senin (23/10) di Senayan, Jakarta. Itu berarti, mayoritas partai politik di DPR menerima Perppu tentang Organisasi Masyarakat (Ormas)  ini.

Seperti kita ketahui, Perpu Nomor 2/2017 ini awalnya dibuat pemerintah berkaitan dengan pembubabaran organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). HTI dibubarkan karena tujuannya ingin mendirikan khilafah atau kekhalifahan Islam di Indonesia. Tujuan tersebut jelas-jelas bertentangan dengan dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila. Seandainya organisasi semacam HTI dibiarkan tumbuh, pemerintah khawatir nanti akan ada gerakan untuk merongrong Pancasila.

Tidak hanya itu. Pemerintah juga khawatir kalau organisasi yang anti-Pancasila itu dibiarkan, akan memicu tumbuhnya terorisme di Indonesia. Padahal Indonesia dalam 25 tahun terakhir sering diguncang tindakan terorisme. Dan hampir semua tindakan terorisme di Indonesia digerakkan oleh organisasi-organisasi yang anti-Pancasila yang bertujuan untuk mendirikan negara Islam. Dengan demikian, Perpu yang akan jadi undang-undang itu, merupakan upaya mencegah bangkitnya terorisme.

 Kenapa terorisme? Karena terorisme di Indonesia mudah sekali meletus, lalu menghancurkan sarana umum, dan kadang merampok (fa’i) untuk mendapatkan uang segar guna membiayai kegiatannya. Indonesia memang rawan terorisme karena mayoritas rakyatnya belum hidup dalam budaya Pancasila. Kondisi tersebut ditambah lagi dengan masih banyaknya penduduk miskin yang  mudah terprovokasi anti-Pancasila dan NKRI. Semua itu menjadi lahan subur terorisme.

 Akar Terorisme

Akar terorisme sangat  kompleks. Pertama pada tingkat doktrinal, agama berpotensi menimbulkan tindakan anarkisme dan ekstrimisme yang ujungnya bermuara pada terorisme. Kedua, era postmodernisme ditandai dengan munculnya kekerasan spiritual yang kemudian mengarah pada kekerasan sosial. Gerakan fundamentalisme dan ekstrimisme muncul di berbagai komunitas, tulis Karen Armstrong, untuk merespon gerakan modernitas yang dianggap sebagai kebudayaan Barat. Sekularisme dan rasionalisme yang dikembangkan Barat diangap kaum fundamentalis dan teroris sebagai westoxification (racun Barat). Ketiga, terorisme muncul sebagai respons Islam terhadap hegemoni kebudayaan Barat. Alasan Imam Samudera  dalam meledakkan bom di Bali, misalnya, lebih bersifat antihegemoni kebudayaan Barat sehingga tidak peduli dengan  adanya korban-korbanya yang muslim. Hegemoni Barat ini menyangkut kehidupan sosial, agama, dan budaya Barat yang jelas-jelas menyingkirkan kehidupan Islam.

Meskipun faktor-faktor yang menyebabkan munculnya terorisme sangat beragam, namun semua itu bermuara pada satu titik – yaitu perasaan tertindas.  Perasaan tertindas itu, di samping karena tiga faktor di atas,  juga  muncul karena berbagai persoalan sosial ekonomi dan budaya yang melingkupi kehidupan mereka. Secara naluriah, seseorang atau kelompoknya akan melakukan resistensi atau  perlawanan jika mereka merasa terancam dan diperlakukan tidak adil.

 Dari pendekatan inilah kita mengetahui lebih jelas hubungan antara terorisme dan lingkungan sosial budayanya. Dari paparan inilah kita bisa menganalisis kenapa terorisme itu muncul di suatu daerah dan budaya tertentu. Dari sana, kita pun bisa mencari solusi bagaimana mengatasi persoalan terorisme tersebut.

Kita tahu, determinasi  kebudayaan ditentukan   oleh    faktor-faktor   geografis,   demografis,  sosial    ekonomi, ideologi politik, sosial budaya, dan kondisi keamanan. Kondisi  determinasi kebudayaan   Indonesia  saat   ini memperilihatkan   hal-hal ini sebagai berikut. :

 Pertama, kondisi geografis Indonesia yang sangat luas yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, terdiri dari berbagai pulau yang dikelilingi lautan; memiliki dataran rendah dan tinggi yang cukup luas; udara tropis yang diametral antar musim hujan dan musim kemarau telah membentuk karakter-karakter manusia Indonesia yang beragam yang tersebar di seluruh wilayah. 

         Kedua, penduduk Indonesia yang besar dan plural dimana memiliki berbagai macam suku bangsa, agama, ras, dan antar golongan (SARA) memiliki sub-sub kebudayaan yang sangat besar dan potensial bagi upaya membangun kebudayaan nasional. Namun kondisi saat ini menunjukan timbulnya gejala konflik yang bernuansa SARA. Penyebabnya karena  ada deprivasi pada masyarakat serta belum selesainya pembangunan karakter bangsa (national character building).

           Ketiga, kondisi sosial ekonomi sejak terjadinya krisis multidimensional masih belum sepenuhnya bangkit, masih menyisakan banyak penduduk miskin dan pengangguran. Sementara kesenjangan ekonomi masih terlalu besar di kalangan masyarakat Indonesia. Kondisi ini telah menciptakan deprivasi pada masyarakat, baik deprivasi absolut maupun deprivasi relatif yang banyak menumbuhkan konflik-konflik sosial psikologi di dalam kehidupan masyarakat.

 Dari paparan di atas, jelas sekali timbulnya terorisme di Indonesia penyebabnya amat kompleks – namun  bila dilihat secara keseluruhan, lebih bersifat problem sosial budaya. Karena itu, sekali lagi, pendekatan sosial budayalah yang perlu ditekankan dalam mengatasi masalah-masalah terorisme tersebut.  Ini artinya, kita jangan melihat terorisme hanya dari persoalan pemhaman keagamaan belaka. Sebab bisa jadi, pemahaman keagamaan yang ekstrim tersebut sekadar kemuflasi dari ketidak-berdayaan sekelompok masyarakat atas kondisi sosial-budayanya.

 Lantas, kenapa persoalan sosial budaya itu muncul? Menurut pendapat saya, persoalan utamanya berasal dari adanya ketidak-adilan. Ketidak-adilan baik dalam lingkup sosial, budaya, ekonomi, dan lain-lain akan berakibat pada rusaknya  integrasi kemanusiaan. Itulah sebabnya, keadilan perlu ditegakkan dalam kondisi apa pun. Seperti dinyatakan khatib salat Jum’at, sesungguhnya Allah menyuruh orang berbuat adil dan ihsan (baik). Inilah inti ajaran semua agama. Jika itu dilakukan, niscaya terorisme tidak akan muncul di muka bumi.

 

 

 

 

 





  • view 49