He is Franklin

ami edelweiss
Karya ami edelweiss Kategori Inspiratif
dipublikasikan 21 April 2016
He is Franklin

Namanya Franklin.
Usianya hampir 4thn dg berat badan sktr 20kg.

 

Setiap seminggu 3 kali, saya bertemu dengannya. Belajar banyak darinya. Terutama tentang menghargai setiap kekurangan dan mendukung setiap kelebihannya.

 

Di kepalanya sebelah kiri, ada bekas operasi. Semacam ada alat yg dimasukkan ke kepalanya sewaktu kecil. Arachnoid cyst (kista arachnoid) di Lobus temporal kiri adalah penyakit yg pernah dideritanya sewaktu kecil. Di perutnya pun juga ada bekas jahitan. Karena penyakit yg pernah dideritanya sejak lahir maka ia hingga saat ini masih mengkonsumsi obat yg efek sampingnya membuat ia tidak bisa mengontrol geraknya. Ia cenderung menjadi hiperaktif. Namun, ia sangat baik dalam berbicara. Banyak kosakata yg sering keluar dari mulutnya meski belum sepenuhnya ia paham maknanya. Ini dikarenakan kemampuan memori auditorinya yg berkembang sangat baik dibanding anak-anak seusianya sehingga ia cepat menyerap setiap yg ia dengar, baik disengaja ataupun tidak.

 

Sisi lain yg membuat ia sangat menyenangkan adalah ia murah sekali tersenyum. Kadang jahil. Badannya yg gempal membuat saya suka sekali memeluknya dan ia pun juga. Tidak bisa lama memeluknya karena kebutuhan gerak yg terus menerus aktif di tubuhnya membuat ia sendiri kesulitan mengontrol geraknya.

 

Sekali waktu, ia ingin mengambil sabun botol tapi karena belum bisa mengontrol penuh geraknya alhasil ia malah menggeser/mendorong sabun tersebut. Serupa saat ia ingin mengambil barang apapun, seringkali terjadi seperti itu. Anggota gerak lainnya pun seperti itu. Kakinya, hampir tidak bisa ia kendalikan utk sekedar berjalan tenang. Bisa berjalan tenang tapi hanya bertahan sekitar beberapa detik kemudian ia akan berlari atau kadang ia menendang-nendangkan kakinya ke tembok atau benda di dekatnya.

 

Franklin masih memerlukan instruksi penuh utk mengendalikan gerak dan pemahaman kognitifnya. Tidak hanya membiasakan pola tapi juga perlu dilahirkan pemahaman pada kemampuan berpikirnya. Ini akan saling mendukung perkembangannya. Maka setiap seminggu 3 kali, saya bertemu anak super duper aktif yg ngangenin. Kurang lebih 1 jam saya menikmati aktivitas dengannya. Kemudian selesai belajar, biasanya saya merasakan pegal di sepanjang lengan kanan dan kiri saya selama 1-2 jam. Pernah sekali waktu, ia marah kemudian menggigit lengan saya 3 kali dan setelah itu berbekas hingga seminggu dengan dua hari saya merasa linu di lengan. Tapi, ia tahu ia salah. Ia pun mau minta maaf dan tidak mengulangi lagi.

 

Ia selalu tersenyum, kadang menangis tanpa air mata yg cuma jadi triknya agar saya melepasnya utk ia kembali bergerak aktif lagi. Sesekali ia bahkan menggunakan trik pipis di celana. Ya, ia selalu punya ide utk bisa terus bergerak dan bergerak. Tapi, saya tetap menang membuatnya kembali duduk tenang dan mengikuti aturan. Sebenarnya tidak selalu saya menang, kadang ia menang juga. Kemudian kami berdua tetap tertawa, tidak peduli siapa yg sedang pegal, siapa yg sedang kesal, siapa yg sedang jahil, dan siapa yg sedang menangis pura-pura. Pelan-pelan, saya terus mempelajari triknya, karakternya, dan kebiasaannya. Bukan cara yg mudah dan cepat utk ia bisa memahami instruksi atau sekedar berdiri atau duduk diam di kursi.

 

Semuanya butuh proses.
Tidak boleh menyerah pada prosesnya.

 

Ini sebenarnya saya dapati dari dia.

 

Karena ia pun selalu menunjukkan banyak kemajuan sedikit demi sedikit setiap harinya. Ia pun tetap dan terus tersenyum.

 

Hari ini, ia tiba-tiba bertanya kepada saya, "Ms.ami kenapa?". Saya pun tersenyum saja karena ia tidak pernah sesensitif seperti hari ini ke saya. Mungkin, saya kadang underestimate kepadanya. Padahal sebenarnya ia punya banyak kelebihan yg saya belum paham. Termasuk tentang empati kpd orang lain.

 

Mungkin tidak banyak ia memahami bahasa yg saya ucapkan tapi kami berusaha berkomunikasi terus dengan berbagai cara. Sebenarnya, bukan saya yg mengajari atau melatihnya melainkan ia yg memberi saya kesempatan utk masuk di dunianya. Melihat dan berinteraksi terus dengan mereka yg kata orang lain tidaksempurna justru menurut saya sangat sempurna. Mereka terlalu sempurna karena memiliki banyak kebaikan di dalamnya. Terutama tentang bertahan hidup. Karena mereka juga, maka orang-orang di sekitarnya akan terus belajar, setidaknya tentang belajar menerima.

 
 

Sampai ketemu lagi yaa hari Jumat. Terimakasih banyak utk senyumnya :-)

  • view 164