#KurindoITD- Gadis Pantai, Potret Nyata Strata di Indonesia

Amelia Ramadhani
Karya Amelia Ramadhani Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 20 November 2016
#KurindoITD- Gadis Pantai, Potret Nyata Strata di Indonesia

Judul Buku        : Gadis Pantai

Pengarang        : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit            :Lentera Dipantara

Tahun Terbit      :2015, cetakan ke 10

Tebal Buku        : 280 halaman

Harga               : Rp 42.000

Gadis Pantai merupakan roman yang tidak selesai. Sejatinya buku ini berisi cerita yang berkelanjutan yang dikemas dalam trilogi. Namun dua dari buku ini ludes dibakar oleh angkatan darat ketika semua buku karangan Pramoedya Ananta Toer dilarang peredarannya di Indonesia. Satu buku dari novel triogi ini terselamatkan melalui salah satu mahasiswa Universitas Negeri Australia yang menjadikan buku ini sebagai bahan kajian tesisnya.

 

Sama dengan novel Penulis pada umumnya, novel ini berlatarkan kehidupan masyarakat di pulau Jawa. Kali ini Gadis Pantai menceritakan tentang perbedaan kehidupan antara msayarakat kampung nelayan dan beberapa pembesar Belanda serta pedagang yang tinggal di kota.

 

Penulis menggambarkan Gadis Pantai sebagai seorang kembang desa yang kecantikannya tersohor seantero Jawa. Ia juga anak yang patuh kepada kedua orang tuanya. Sikap dan tindak tutur Gadis Pantai disukai oleh semua penduduk Kampung Nelayan. Tak hanya pemuda yang jatuh hati akan kecantikannya, namun banyak juga laki-laki paruh baya yang menginginnya untuk menjadi istri.

 

Kecantikan Gadis Pantai tak hanya mejadi bulan-bulanan di Kampung Nelayan. Kecantikannya juga memikat hati seorang priyayi tua yang ada di kota. Ia kerap dipanggil Bendoro. Ia bekerja pada bagian administrasi Belanda dan juga dikenal sebagai santri yang taat beribadah.

 

Sedang asyik menikmati masa remaja, datanglah pinangan dari kota kepada Gadis Pantai. Berita suka tersebut dibawa oleh Kepala Desa Kampung Nelayan kepada orang tua Gadis Pantai. Namun, berita suka ini tak dikehendaki oleh Gadis Pantai. Ia tak mau dikawainkan dengan Bendoro. Ia berontak kepada kepada ayahnya. Tapi ayah Gadis Pandai memaksanya mengucapkan pangestu ata slamaran tersebut.

 

Ia tak dinikahi secara Islam walau si Bendoro adalah santri terkenal di daerah Rembang. Gadis Pantai dinyatakan istri Bendoro setelah kedua orang tuanya menerima keris tersebut. Pada umumnya seorang seorang santri akan mengucapkan ijab kabul saat melakukan pernikahan di depan beberapa saksi. Ataupun seorang nasrani juga akan mengucapkan janji di depan pendeta.

 

Penulis berusaha menghadirkan rasa ketidakadilan terhadap Gadis Pantai melalui dialog dan narasi yang singkat. Jawaban-jawaban penurut Gadis Pantai ketika bercakap dengan Bendoro memberitahu pembaca bahwa adanya kesenjangan kasta antara Bendoro dan Gadis Pantai. Hanya kata ‘Sahaya Bendoro’ yang mampu diucapkan Gadis Pantai di depan Bendoro.

 

Novel ini hanya menyuguhkan dialog-dialog singkat antar tokoh yang ada di dalamnya. Namun, ketidaksetaraan antar orang-orang penghuni rumah yang ditinggali Gadis Pantai sangatlah terasa. Beberapa pelayan tidak berani menatap mata Gadis Pantai ketika berbicara karena ia adalah istri Bendoro. Mereka perlahan mundur ke belakang ketika pembicaraan telah selesai.

 

Tak hanya dalam dialog, Penulis juga menyuguhkan bentuk ketidaksetaraan strata sosial ini melalui gumaman para pelayan. Gumaman pelayan ini berhasil menyampaikan rasa kasihannya terhadap Gadis Pantai. Gadis cantik yang nantinya akan tetap terbuang dan terasing setelah melahirkan seorang bayi. Bahkan ia akan menghamba kepada sanga bayi karena terlahir sebagai priyayi.

 

Lagi-lagi Penulis menampilkan ketidaksetaraan ini melalui sosok pelayan baru – Mardinah - yang dihadirkan di dalam novel. Ia berasal dari Kerajaan Demak yang juga kerabat jauh Bendoro.  Mardinah juga keturunan priyayi. Karena telah janda, ia dikirim untuk menjadi pelayan Gadis Pantai. Namun sikapnya tentulah  bukan sikap pelayan pada umumnya. Karena ia seorang priyayi.

 

Gadis Pantai hanyalah sebagai wanita penghibur bagi Bendoro dan tidak dimasukkan ke daftar keluarga karena ia bukan priyayi. Senjangnya, Bendoro akan tetap dipandang sebagai perjaka oleh kaum priyai lainnya karena ia belum menikah dengan priyayi sepertinya.

 

Novel ini berhasil membawa emosi pembaca naik turun melalui narasi-narasi yang menyentuh. Terlebih saat Gadis Pantai berusaha melawan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pelayan mudanya, Mardinah.  

 

Novel ini cocok dibaca oleh kalangan apapun. Sebab Penulis menyajikannya dalam kemasan bahasa yang ringan dan dapat dimengerti. Walau kejadian dalam novel ini menceritakan tentang kehidupan di zaman kerjaan dan koloniali, namun istilah yang digunakan dapat dipahami secara mudah.

 

Novel ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan karya pengarang lainnya. Tetralogi Pulau Buru sebagai contohnya. Di dalam novel tersebut penulis juga menjelaskan tentang betapa berbedanya strata seorang wanita pribumi jika dibandingkan dengan para priyayi. Nyai Ontosoroh di dalam novel Bumi Manusia juga mengalami nasib yang tidak jauh berbeda dibandingkan dengan Gadis Pantai.

 

Penulis tampaknya berusaha menujukkan kepada pembaca betapa malangnya seorang pribumi yang hidup berdampingan dengan priyayi. Penulis patutu diapresiasi karena berhasil menggambarkan kehidupan kedua tokoh di dalam novel bisa dibayangkan sejelas-jelasnya oleh pembaca.

 

Dari beberapa karyanya, penulis tampaknya berusaha keras menunjukkan kepada pembaca tentang nasib buruk yang menimpa wanita-wanita pribumi di Indonesia. Di lain sisi, boleh dikatakan kalau penulis berusaha mengadvokasi wanita-wanita Indonesia untuk mendapatkan haknya seperti wanita-wanita yang ada di luar negeri.

 

Di akhir cerita, Penulis berusaha mengahadirkan wujud pembelaan kaum pribumi terhadap nasibnya. Setelah terusir dari istana Bendoro, Gadis Pantai tak bersedia pulang bersama orang tuanya ke Kampung Nelayan. Ia meminta izin untuk memperbaiki nasib dan merantau ke kota yang jauh dari kampung. Ia berjanji kepada orang tuanya untuk memberikan kehidupan yang lebih layak.

 

Namun sayang, pembaca tidak dapat menikmati hasil dari pembelaan nasib si pribumi. Penulis sengaja memangkas ceritanya sebab akan dilanjutkan pada buku kedua kemudian dirangkaikan pada buku bagian ketiga. Pembaca harus rela ditinggal dengan rasa penasaran dan berhenti pada akhir cerita yang tak selesai.

  • view 219