#kurinduITD- Lindswell Kwok, Pemilik Tendangan Angin Puyuh Dari Medan

Amelia Ramadhani
Karya Amelia Ramadhani Kategori Tokoh
dipublikasikan 20 November 2016
#kurinduITD- Lindswell Kwok, Pemilik Tendangan Angin Puyuh Dari Medan

Ada beberapa perbedaan yang bisa dilihat dari sisi keseharian Lindswell Kwok dengan anak-anak lain seusianya. Anak-anak di usia Sekolah Dasar (SD) cenderung menghabiskan waktunya untuk bermain dengan anak-anak satu kompleks perumahan. Terlebih hari minggu, pascapulang dari gereja anak-anak sering bermain sepeda atau main boneka dan segala permainan lainnya. Boleh bisa dikatakan, Lindswell Kwok tidak bisa menikmati beberapa permainan ini. Sejak berusia enam tahun, ia harus berlatih olahraga wushu di Yayasan Kusuma Wushu Indonesia di Jalan Plaju, Medan.

 

Ia mengakui ia tidak banyak memiliki teman. Ia jarang datang ke sekolah karena harus ikut dalam berbagai turnamen, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dalam satu semester paling ia hanya bisa datang selama masa ujian tengah semester dan beberapa minggu menjelang ujian akhir semester. Ia kerap merasa malu kepada teman-teman satu kelasnya sebab hanya datang kala mendekati ujian saja.

 

“Yang penting aku enggak ranking terakhir,” ujarnya.

 

Orang tua Lindswell sangat mendukung karirnya di bidang olahraga asal bisa menyeimbangkan dengan pendidikan. Hanya dua perkara yang tidak boleh dilakukan Lindswell, ranking terakhir di kelas dan tidak naik kelas.

 

Peran Orang Terdekat

Orang yang paling berpengaruh terhadap perjalanan karir Lindswell adalah saudara kandungnya sendiri. Ko Iwan ia memanggilnya. Iwan Kwok adalah orang pertama yang memperkenalkan wushu kepadanya. Waktu itu, ia masih berusia enam tahun dan dipaksa untuk ikut berlatih bersama Iwan ke YKWI setiap hari minggu. Mereka berlatih dimulai pada pukul 09.00 WIB sampai 12.00 WIB.

 

“Aku enggak suka wushu,” kenang Lindswell.

 

Lindswell boleh dibilang anak yang penurut. Walau ia tidak menyukai wushu, ia selalu datang dan menurut kepada Iwan jika diajak untuk berlatih setiap minggu. Bahkan di rumah terkadang Iwan memaksa untuk berlatih kembali dan Lindswell pasti akan menurut.

 

Iwan menilai ada potensi besar yang bisa dikembangkan dari Lindswell. Postur tubuhnya yang mungil dan lemah lembut menurutnya sangat cocok untuk olahraga wushu apalagi kalau diarahkan untuk mengusai jurus taolo taiji jian (jurus pedang) atau taolo taiji quan (jurus tangan kosong).

 

Secara akademis, Lindswell anak yang sangat pintar. Jika dibandingkan dengan anak seusianya, daya tangkap Lindswell bisa dianggap lebih. Iwan merasa kecerdasaran Lindswell ini harus dibarengi dengan kecerdasan emosional. “Biar stabil aja kecerdasan emosi dan juga kecerdasan akademiknya,” tambah Iwan.

 

Selama enam tahun berlatih, Lindswell baru menyadari ada hal yang menarik saat belajar wushu, terlebih saat melihat kokonya sering muncul di televisi karena memenangkan beberapa pertandingan. Teman-teman seusianya pun sudah masuk kelas khusus dan training  untuk kejuaraan wushu  internasional. Sontak ia merasa iri karena hanya ia yang tak bisa bergabung ke dalam grup pelatihan nasional.

 

Keadaan ini dimanfaat Iwan untuk memberikan beberapa motivasi agar Lindswell berlatih  untuk masuk ke dalam grup tersebut. Ia melakukan sesi latihan private  dengan Lindswell setiap harinya di rumah. kemudian ia juga mengirim Lindswell untuk berlatih ke padepokan di Tiongkok.

 

“Sedih banget di sana,” kenang Lindswell.

 

Saat itu ia sama sekali belum bisa berbahasa Mandarin. Sesampainya di Tiongkok, apapun yang dilakukan harus menggunakan bahasa Mandarin. Penduduk tidak bisa menggunakan bahasa Inggris saat berkomunikasi.

 

Kesusahan lain yang dirasakannya adalah keterbatasan uang saku. Ia harus memilih untuk menelpon orang tua atau menyimpan uangnya untuk keperluan lainnya. Biaya menelpon ke Indonesia saat itu cukup mahal.

 

“Apalagi waktu itu aku masih dua belas tahun. Masih kecil dan enggak tahu banyak tentang Tiongkok,” ujarnya.

 

Wushu Melatih Kesabaran

Saat ini Lindswell sudah berusia 25 tahun. Artinya sudah 19 tahun lamanya ia berkenalan dengan olahraga wushu. untuk menemukan ketertarikan terhadap wushu Lindswell membutuhkan waktu selama enam tahun. Kemudian ia berlatih secata gigih hingga akhirnya berhasil mendapatkan predikat sebagai Junior World Wushu Champion pada tahun 2008 di Singapura pada ajang Junior World Wushu Championship.

 

Setelah sembilan tahun bergelut di bidang olahraga wushu satu hal yang dapat dipelajarinya adalah kesabaran. Wushu berhasil memberinya banyak filosofi dari setiap gerakan yang dipelajarinya, terutama kesabaran. Dalam berlatih wushu waktu satu tahun bukanlah waktu yang bisa member jaminan seseorang bisa menguasai satu jurus saja. Bahkan waktu enam tahun sekalipun belum bisa menjamin seseorang bisa mengusai satu jurus wushu.

 

“Kita harus telaten dalam berlatih. Harus kontrol emosi juga,” tambahnya.

 

Untuk mencapai kestabilan emosi dan prestasi, Lindswell membutuhkan waktu selama empat belas tahun. Baginya wkatu empat belas tahun adalah wkatu yang cukup lama untuk mematangkan emosi dan juga strategi. Namun di balik semua itu ada pelajaran dan filosofi yang begitu tinggi. Baginya wushu  adalah jenis olahraga yang bisa dikembankan sendiri. Wushu adalah olahraga yang takkan ada habisnya untuk dipelajari.

 

Jangan Takut Gagal

 

Kata-kata jangan takut gagal merupakan kata-kata keseharian yang sering didengar ketika sedang menonton sebuah channel motivasi. Namun, hal ini ada benar adanya dan telah dibuktikan langsung oleh Lindswell.

 

Ia menyebutkan tahun 2010 adalah tahun tersuram dalam hidupnya. Semua hal yang sudah diimpikannya lenyap seketika setelah pengumuman juara wushu dunia di ASIAN Games. YKWI, pelatih dan kerabat terdekat telah memasang strategi untuk memenangkan Lindswell. Semua channel televi heboh memberitakan hanya satu sesi lagi yang ditunggu untuk pembuktian Indonesia keluar sebagai juara umum pada cabang olahraga wushu tahun di ASIAN Games 2010.

 

“Jujur aku sangat tertekan sekali. Semua orang meumpukan harapan besar kepadaku,” ujarnya tersenyum mengingat kejadian di tahun 2010 tersebut.

 

Lindswell sempat patah. Ia sempat tak bersemangat lagi untuk melanjutkan karirnya di bidang wushu. namun, sikap penurut Lindswell memang tak mudah hilang. Ia tetap datang untuk berlatih wushu  di YKWI setiap harinya. Sayangnya, ia tak melakukannya dengan sepenuh hati. Ia tetap saja terbayang-bayang betapa malunya ia sebagai salah satu kandidat yang dijagokan tetapi tak berhasil memboyong emas untuk Indonesia. Ia hanya mampu bertahan di posisi enam besar.

 

Ia malu berjumpa dengan pelatih. Walaupun sikap pelatihnya tidak pernah berubah walau ia gagal meraih emas pada ASIAN Games 2010. Ia sempat malu kepada semua teman satu padepokan. Ia merasa mereka akan melihatnya dengan sebelah mata karena tidak berhasil menjadi jagoan seperti yang diharapkan.

 

Ia merasa menyesal dengan cedera lutut yang didapatnya saat tampil ajang ASIAN Games 2010 tersebut. Ia juga menyayangkan sikapnya yang tidak bisa menahan emosinya sat sedang tampil memperagakan jurus-jurus andalannya.

 

“Aku sempat mau berhenti saja. Enggak sanggup liat muka orang-orang di sini,” tambahnya.

 

Perhatian yang diberikan oleh orang-orang di sekitarnya membuatnya kembali mengingat kejadian di ASIAN Games 2010 bukan semata-mata memberikan dampak buruk kepadanya. Tanpa ia sadari, semua orang-orang disekitarnya sangat berusaha keras untuk membangkitkan kembali semangatnya untuk beraltih dengan baik dan menyeimbangkan emosi.

 

Awalnya Ko Iwan datang menghampirinya. Tiba-tiba ia bercerita tentang pengalamannya waktu masih produktif menjadi atlet wushu di Indonesia. Ia juga pernah merasakan berada di titik terbawah seperti yang dihadapi oleh Lindswell. Ia bercerita masa-masa di mana ia harus jauh berlatih sampai ke Tiongkok seperti yang dialami oleh Lindswell seperti saat ini.

 

Kemudian, satu per satu pelatihnya juga mulai bercerita tentang masa-masa kegagalan mereka. Berbagi pengalaman ini mereka lakukan di sela-sela istirahat. Sambil duduk-duduk saat jeda latihan di YKWI. Beberapa pelatihnya yang berasal dari Tiongkok juga mencontohkan perjuangan Jet Li untuk mendapatkan gelar juara dunia sampai lima kali berturut-turut. Gurunya memberi peringatan bahwa hal terpenting yang harus dijaga saat tampil di depan dewan juri adalah kestabilan emosi.

 

Jujur saja, Lindswell tak tampil secara maksimal saat di ASIAN Games 2010. Ia hanya fokus pada strategi jitu untuk mendapatkan juara. Ia tak bisa menenangkan pikirannya setelah melihat betapa besarnya harapan Indonesia terhadapnya. Hanya ia yang ditunggu untuk meloloskan Indonesia sebagai juara umum.

 

“Aku fokus pada juaranya, bukan pada memaksimalkan penampilan,” jelasnya.

 

Menurut Iwan, kestabilan emosi saat tampil di podium adalah modal utama. Emosi yang sedan tidak stabil akan memengaruhi kualitas gerakan yang ditampilkan. Hal inilah yang harus dipelajari Lindswell. Jangan hanya fokus ke cara mendapatkan juaranya tapi bagaimana caranya untuk tampil secara maksimal.

 

Prestasi

Pertama kali Lindswell mendapatkan penghargaan pada tahun 2008 silam. Ia dinobatkan sebagai juara dunia wushu untuk kategori junior yang diadakan di Singapura. Sejak itu Lindswell harus berlatih secara rutin di YKWI dan dua kali dalam satu tahun ia akan diberangkatkan untuk belajar lebih dalam lagi di padepokan Jet Li di Tiongkok.

 

Ia gagal di tahun 2010 untuk menjadi juara pada ajang ASIAN Games dan berjanji akan membalas kekalahan tersebut pada Sea Games 2011. Dengan berlatih secara konsisten, akhirnya ia berhasil meraih dua emas untuk kategori taolo taiji jian dan taolo taiji quan.

 

Untuk rentang tahun 2011 hingga 2016 ia mencapai masa kejayaannya dengan cara membawa pulang emas pada setiap pertandingan yang digelar. Ia berhasil meraih gelar sebagai juara dunia pada ajang bergengsi wushu internasional, World Wushu Championship yang adiadakan di Ontario, Kanada pada tahun 2011. Perolehannya emasnya kali ini merupakan kali kedua setelah berhasil memeroleh emas di World Wushu Junior Championship pada tahun 2008 di Singapura. Sedangkan untuk kejuaraan tingkat Asia lainnya Lindswell selalu mendapatkan emas, seperti SEA Games, ASIAN Games, Pekan Olahraga Nasional, dan berbagai macam kejuaraan lainnya.

 

Harapan

Tak banyak harapan Lindswell. Ia hanya ingin bisa tetap rendah hati dan selalu belajar. Baginya wushu  adalah salah satu ilmu yang tidak ada habisnya jika dipelajari sebab gerakan wushu  bisa dikembangkan. Wushu tak hanya sekadar untuk ilmu bela diri yang diikutsertakan dalam berbagai maca lomba, namun gerakan-gerakan wushu  mengandung beberapa filosopi yang harus ia pahami. Selain itu wushu  sangat baik untuk kesehatan: kesehatan tulang belaknag dan juga pencernaan.

 

Kelak ia pensiun, ia berharap wushu tetap menjadi salah satu kebnaggaan di Indonesia. wushu  harus tetap eksis di Indonesia. saat ini atlet wushu  dari Indonesia menjadi salah satu kontingen yang selalu disegani oleh Indonesia. ia berharap pelatih dan atlet senior maupun junior tidak egois ingin mengejar prestasi pribadi. Namun, hal yang harusnya dipikirkan adalah bagaimana caranya mengembangkan potesi-potensi yang ada di sekitarnya.

 

  • view 218