#kurinduITD- Merindukan Indonesia Tanpa Dikriminasi

Amelia Ramadhani
Karya Amelia Ramadhani Kategori Agama
dipublikasikan 20 November 2016
#kurinduITD- Merindukan Indonesia Tanpa Dikriminasi

Semua masyarakat di Indonesia tahu bahwa Sumatera Barat adalah salah satu daerah yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Adapun beberapa yang beragama Kristen, Budha, Hindu, dan Konghuchu bukanlah disebut dengan Urang Awak sebab keturunan Minang adalah manusia-manusia yang beragama Islam. Hal ini jugalah yang menyebabkan masyarakatnya intolerance terhadap masyarakat bergama selain Islam.

 

Saya mencontohkan Ibu saya dengan sikap intolerance-nya. Sewaktu SMA, saya sekolah di salah satu sekolah terbaik di Kota Bukittinggi. Ia menyuruh saya untuk berhati-hati jika bergaul dengan teman yang beragama selain Islam. SMA untuk non-muslim saat itu belum ada sehingga anak-anak keturunan Tionghoa atau Kristen akan bersekolah di sekolah negeri. Ibu saya selalu mengingatkan saya untuk tidak makan satu sendok atau minum satu botol dengan mereka yang non-Islam.

 

          “Mereka makan babi. Itu haram,” kata-kata inilah yang selalu diucapkan Ibu saya ketika saya membawa bekal makanan ke sekolah.

 

Padahal di zaman dahulunya, Nabi Muhammad SAW juga pernah minum susu domba di tempurung yang sama dengan kaum kafir Kurays. Orang yang pertama minum waktu itu adalah Abu Bakar Shiddiq RA kemudian seorang keturunan Kurays dan tidak beragama Islam, setelah itu barulah Nabi Muhammad SAW. Sepemahaman saya, hal yang tidak boleh diikutcampurkan itu adalah urusan iman. Sebagai umat yang menganut agama Islam, saya harus beribadah sesuai dengan ketentuan agama saya bukan ikut-ikutan ke gereja, pura, atau kuil. Jadi tidak ada salahnya jika makan satu sendok atau minum satu botol dengan mereka yang beragama Kristen.

 

Tak hanya Ibu saya saja yang berpikiran seperti itu, kakak perempuan saya dan juga beberapa orang tua teman-teman saya yang lain. Salah satu teman saya mengatakan kalau ia dilarang untuk mengucapkan Selamat Hari Natal kepada salah satu teman yang beragama Protestan di kelas kami. “Itu hanya agenda orang-orang kafir,” ujarnya menirukan kata-kata Ibunya. 

 

Peran sekolah dalam diskriminasi

Hal yang sangat disayangkan adalah institusi sekolah juga ikut andil dalam memelihara bibit diskriminasi ini. Sekolah mewajibkan teman-teman yang beragama Kristen untuk mengenakan jilbab ke sekolah. Mereka juga diwajibkan untuk mengikuti Kultum (Kuliah Tujuh Menit-Penulis) yang diadakan setiap hari Jumat. Mereka kan bukan Islam dan memang tidak ada kewajiban untuk memakai jilbab di dalam ajaran agamanya. Kenapa begitu intolerance kepada mereka?

 

Usaha sekolah untuk melestarikan sikap intolerance ini bertahan hingga sekarang, 2016. Dahulu, tepatnya di tahun 2013, waktu itu saya masih kelas satu. Hanya ada satu anak perempuan yang beragama Protestan sehingga ia merasa malu jika tidak berjilbab ke sekolah. Hal ini masih bisa diterima dengan akal sehat. Bisa saja ia merasa canggung masuk ke sekolah yang semua anak perempuannya mengenakan jilbab. Tapi kenapa harus malu? Sekolah adalah tempat umum layaknya fasilitas umum lainnya. Sekolah ini adalah SMA (Sekolah Menegah Atas- Penulis) bukan MA (Madrasah Aliyah-Penulis) khusus untuk beragama Islam. Saya beberapa bulan yang lalu sempat menghubungi pihak sekolah untuk menumpulkan data siswa non muslim. Sebelum ajaran baru ini dimulai, ada sebanyak sembilan anak perempuan yang beragama Katolik dan Protestan. Dan seluruh siswa tetap harus berjilbab ke sekolah.

 

Pihak sekolah sudah selayaknya untuk sadar diri, menyadari kalau sekolah adalah salah satu fasilitas umum dan bebas digunakan oleh setiap umat tanpa memandang latar belakang agamanya. Sekolah ini juga bukah MA di mana semua siswanya harus berlatar agama Islam.

 

Sekolah juga harus berani melihat sekolah tetangga yang juga tak kalah hebatnya dan masih menerapkan azas toleransi. SMA Negeri 1 Bukittinggi sebagai contoh nyatanya. Sekolah ini salah satu sekolah yang selalu dibidik oleh siswa-siswa SMP yang berasal dari Kota Bukittinggi maupun siswa-siswa SMP yang berasal dari Kabupaten Agam Timur. Tak hanya mereka yang beragama Katolik, Protestan, Islam ,Hindu, Budha bahkan mereka yang menganut kepercayaanpun masih bebas menunaikan haknya. Mereka semua diizinkan untuk tidak memakai jilbab ke sekolah. Siswa tetap menggunakan rok panjang dan kemeja lengan panjang sebagai seragam sekolah tapi minus jilbab karena memang bukan kewajiban mereka untuk berjilbab. 

 

Peran Pendidikan

Saya masih teringat waktu pertama kali saya datang ke Medan untuk melanjutkan studi sarjana S1. Pada umumnya, para tetangga saya berpesan untuk hati-hati dalam memilih makanan sebab mayoritas penduduk di Medan beragama Kristen dan mereka mengkonsumsi babi. Sebagai anak yang baik, saya jelas mengiyakan nasihat yang diberikan oleh mereka semua.

 

Saya yakin saya tidak akan pernah salah memilih makanan jika berbelanja karena saya bisa membaca apakah makanan tersebut bisa saya makan atau tidak. Hal yang akhirnya saya sadari adalah sikap intolerance itu datangnya dari masyarakat yang memiliki pendidikan rendah, jarang berpetualang, dan enggan untuk membaca.

 

Masyarakat yang minim ilmu pengetahuan pasti akan merasa ia akan selalu dibodoh-bodohi oleh siapapun, selalu gegabah dalam mengambil keputusan, kurang berpetualang dan suka memojokkan orang-orang yang berasal dari kaum minoritas. Saya bisa memaklumi kekhawatiran Ibu saya karena pendidikannya hanya sampai kelas tiga SD. Wajar saja semua tetangga meragukan keabsahan makanan yang nanti akan saya konsumsi karena mereka sama sekali belum pernah mengunjungi Medan. Padahal di kenyataan yang sebenarnya, banyak sekali rumah makan Minang, Melayu, dan Jawa yang bisa disinggahi dan itu halal tentunya. 

 

Kebiasaan berpetualang bisa menjadikanmu lebih toleran terhadap kaum minoritas. Ketika saya melakukan proses peliputan ke Kawasan Relokasi Siosar di Kabupaten Karo, masyarakatnya sangat terbuka dan ramah meyambut kedatangan kami di desanya. Padahal mereka tahu kalau saya dan satu rekan saya adalah beragama Islam karena kami memakai jilbab. Saya dan rekan saya adalah kaum minoritas yang datang ke kawasan mayoritas Kristen. Mereka menawari saya untuk menginap di rumahnya dan memberi saya makanan yang bisa saya makan. Mereka sengaja menggorengkan kami dua butir telur agar kami tetap bisa makan di rumahnya. 

 

Terapkan Zero Tolerance

Andreas Harsono, jurnalis dan peneliti di Human Right Watch, menuliskan kutipan pidato Presiden Soekarno di Universitas Indonesia tanggal 7 Mei 1953 tentang kaum yang memeluk agama minoritas pada laman blog pribadinya, www.andreasharsono.net. Kalau kita mendirikan negara berdasarkan Islam, banyak daerah yang penduduknya bukan muslim, seperti Maluku, Bali, Flores, Timor, Kepulauan Kei, dan Sulawesi, akan memisahkan diri. Dan Irian Barat, yang belum menjadi bagian wilayah Indonesia, tidak ingin menjadi bagian Republik.

 

Atau kita semua bisa berkaca pada sikap Sofyan Tan berusaha melawan kerasnya arus ketidaktoleranan masyarakat Indonesia. Ia gagal beberapa kali masuk sekolah kedokteran karena berasal dari suku Tionghoa. Ia juga tidak diterima di masyarakat karena ia seorang Tionghoa dan dianggap membahayakan bagi masyarakat sekitar. Tapi apa yang dilakukannya sekarang adalah campukan besar bagi kita semua. Ia mendirikan yayasan di mana semua umat bisa bersekolah di yayasannya. Ia memberikan fasilitas tempat ibadah untuk semua murid-muridnya. Ia bangun masjid, gereja, pura, klenteng.

 

Semua fasilitas ini ia bangun guna menciptakan rasa aman dalam menuntut ilmu. Ia juga mengajarkan kepada semua murid-muridnya bahwa pendidikan adalah hak semua orang tanpa kecuali ia memeluk suatu agama atau menganut kepercayaan tertentu.

 

Kutipan Andreas Harsono dan sikap Sofyan Tan ini patut untuk dipertimbangkan oleh sekolah saya dalam mengambil kebijakan mengenai hak-hak kebebasan masing-masing individu dalam beribadah sesuai dengan agamanya. Sebab, negara sudah menjamin hak-hak tersebut dalam konstitusinya, UUD 1945.

 

Selayak seluruh elemen sekolah; staf pengajar sampai pegawai harus saling mendukung untuk mewujudkan sekolah berkarakter dan menjunjung toleransi tinggi. Zero tolerance, adalah satu cara yang cocok untuk diterapkan, sebab ia tak memandang baik buruknya suatu agama atau banyak atau tidaknya pengikutnya di daerah tersebut. Hal penting yang terdapat di zero tolerance adalah bentuk toleransi terhadap kepercayaan apapun yang dianut.

  • view 179