Menjaga Sikap Kritis

Amar Faizal
Karya Amar Faizal Kategori Filsafat
dipublikasikan 27 April 2016
Menjaga Sikap Kritis

Sepanjang sejarah perjalananya, filsafat memang dikenal tidak bersahabat dengan finalitas pengetahuan, karena jika itu terjadi, maka aktifitas berfikir akan terancam berakhir.
Selalu akan ada peluang untuk terus mengkritisi-dikritisi dan memperbaiki-diperbaiki.
Kita dapat melihat, meskipun tidak banyak, namun bibit-bibit pemikir (filsafat) terus tumbuh dan akan selalu ada.

Sebagai mahasiswa filsafat, kita diajarkan untuk membangun karakter tersebut (kritis dalam berpikir) mulai dari ruang-ruang kelas, forum-forum diskusi, hingga warung kopi yang hampir tak tersorot dan terpotret oleh lensa kamera.
Oleh karena itu, mahasiswa filsafat sadar bahwa salah satu tuntutan dharma pengabdian masyarakat adalah selalu menjadi yang terdepan dalam melakukan intrupsi terhadap arogansi dan totalitarianisme dengan berbagai bentuknya.
Intrupsi yang paling potensial tentunya adalah intrupsi gagasan, pemikiran, dan saran.

"Menolak Bungkam" adalah platform yang selalu mengiang di telinga Socrates saat mengetahui bahwa kebenaran dipermainkan oleh kaum sophis. Sama halnya dengan Musa as yang melawan monopoli kekuasaan dan kebenaran yang dilakukan fir'aun. Begitupula Muhammad saw yang selalu menjaga spirit kritisnya untuk melawan kekuasaan dzalim sebagai bentuk keberpihakanya pada yang lemah (mustad'afin).

  • view 108