Menjadi Seniman Dengan Perintah Iqra'

Amar Faizal
Karya Amar Faizal Kategori Inspiratif
dipublikasikan 08 April 2016
Menjadi Seniman Dengan Perintah Iqra'

?

Bismillahirrohmanirrohim?

???? ???? ???? ???? ???

?Iqra? adalah sebuah perintah dalam ayat pertama yang Allah SWT turunkan kepada Rasulallah Saw. Pada ayat tersebut, kita semua mengetahui bahwa perintah Iqra yang dalam terjemahan Depag (Departemen Agama) diartikan sebagai "membaca", tak memiliki suatu objek yang secara spesifik disebutkan. Tentu kemudian kita bertanya-tanya, apa yang harus kita baca? Lazimnya perintah membaca selalu disandingkan dengan suatu objek, contoh; bacalah ?kitab?, bacalah ?fikiranya?, bacalah ?isi hatinya?, dll. Lalu kita akan kembali bertanya objek apa yang harus kita (manusia) baca dalam perintah Iqra tersebut?

Berangkat dari rasa ingin tahu dan keraguan ini, saya dan beberapa teman berdiskusi untuk mencoba meng-Interpretasi kembali makna Iqra dengan pendekatan filosofis sebagi alat epistemologinya. Diskusi tersebut kami namakan Kasyful Ma?ani (menyigkap makna-makna). Setelah berdiskusi cukup panjang dengan beragam asumsi yang dikemukakan, kita menyepakati bahwa makna ?Iqra? di atas adalah ?menyingkap?. Menyingkap berarti ?aktifitas mencari makna sesuatu secara mendalam?. Sebagai contoh, ketika kita mendengar sebuah lagu, kita mencoba mencari apa sebenarnya makna lagu tersebut, apa yang mendasari lagu tersebut diciptakan, dan untuk siapa lagu tersebut diciptakan. Nah aktifitas mencari atau menjawab pertanyaan tersebut kurang lebih dapat mewakili arti dari ?menyingkap?. Ada hal menarik yang saya dapatkan, ketika kami memaknai Iqra dengan arti ?menyingkap?, proses diskusi yang kami lakukan, saya anggap sebagi kepatuhan kami terhadap perintah Iqra. Kami berusaha mencari makna yang tepat dan cukup mendalam untuk memaknainya.

Belum berhenti dengan memaknai Iqra, kami lanjutkan untuk mencari objek apa yang harus disingkap? Kembali asumsi-asumsi dikemukakan, asumsi pertama, bahwa yang harus kita singkap adalah ?sesuatu yang telah kita ketahui?. Namun asumsi ini terbantahkan dengan kaidah logika, ?sesuatu yang telah kita ketahui? adalah proposisi positif. Lalu ketika kita ingin negasikan (negatifkan) maka ?sesuatu yang tidak kita ketahui?. Pertanyaanya sekarang, adakah sesuatu yang tidak kita ketahui? Filsafat menjawab, di dalam wujud dzihni (Mental) tak ada satu pun yang tidak kita ketahui, bahkan ketika kita katakana ?kita tidak tahu?, pada saat yang sama kita ?mengetahui bahwa kita tidak tahu?. Kemudian asumsi kedua, bahwa yang harus kami singkap adalah ?segala sesuatu?. Mengapa segala sesuatu, karna filsafat mengatakan bahwa, realitas bukan hanya dunia materi ini, tapi ada realitas lain selain dunia materi, salah satunya adalah realitas di alam dzihni (mental) kita. Tidak ada satupun yang tidak ada di alam mental kita, argumentasinya telah saya jelaskanpadai asumsi pertama. Maka kami sepakat bahwa objek yang harus disingkap adalah ?segala sesuatu?.?

???? ???? ???? ???? ???

?Singkaplah, segala sesuatu dengan nama Tuhan-mu?

Kembali kepada judul tulisan saya, mengapa saya berikan judul untuk tulisan saya ini dengan ?menjadi seniman dengan perintah Iqra?, karna saya terinspirasi oleh sebuah buku, yang berjudul Memandang Dunia, karya Khusni Mustaqim. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa seni itu bukan hanya ketika kita mampu melukis dengan indah, bernyanyi dengan suara yang merdu, atau menciptakan tulisan yang baik, namun ada satu seni yang memiliki tingkatan lebih tinggi dari seni yang pernah kita bayangkan, yaitu kita ?memaknai segala hal? dengan menyingkapnya (dengan perintah Iqra). Seluruh hidup, gerak-gerik, tingkah laku, dan pemikiran kita, akan menjadi sebuah seni ketika kita mampu memkanainya. Hal ini saya rasa selaras dengan perintah Iqra, dimana kita diperintahkan untuk mencari makna dan memaknai segala sesuatu. kita semua tahu bahwa? Iqra merupakan perintah pertama yang Tuhan perintahkan dalam Al-qur?an. Maka ?jadilah seniman dengan dengan perintah Iqra?.

?

  • view 158