Salam yang Saling Melengkapi

Amar Faizal
Karya Amar Faizal Kategori Inspiratif
dipublikasikan 08 April 2016
Salam yang Saling Melengkapi

Di antara sekian banyak pelajaran yang saya dapatkan dari Pelatihan Advokasi, Toleransi antar Umat Beragama di Bogor, tempo hari, ada satu momen yang selalu saya ingat dan membuat saya sangat terharu, yaitu ketika beberapa dari kita (para peserta pelatihan, yang berlatar belakang keyakinan yang berbeda) bercerita tentang pengalaman beragamanya masing-masing. Sebagian dari kami yang hadir merupakan korban kekerasan dan diskriminasi dari kelompok yang menganggap diri mereka representasi atas ?kebenaran mutlak? dan mewakili kaum mayoritas. Sahabatku penganut ajaran Islam Ahmadiyah misalnya, sejak sebagian orang mengetahui bahwa dia pengikut ajaran Ahmadiyah, dia mulai mendapatkan perlakuan yang tidak sewajarnya diberikan. Orang-orang sekitarnya yang tidak mengenal kepribadianya mengasingkanya, dan mereka menutup diri? untuk berbaur denganya. Alasanya sederhana, karena sahabatku itu dianggap menganut ajaran ?sesat?. Sehingga ketika sudah dilabeli sesat, maka tertutuplah nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan. Prof. Komarudin Hidayat dalam? bukunya The Wisdom of Life mengatakan, ?Jika memang agama diwahyukan untuk manusia, dan bukan manusia untuk agama, maka salah satu ukuran baik-buruknya sikap hidup beragama adalah dengan menggunakan standar dan kategori kemanusiaan, bukanya ideologi dan sentimen kelompok?.

Diakhir cerita kami, salah seorang pembimbing organisasi mahasiswa dari beberapa agama seperti Hindu, Budha, dan Konghucu, berbagi sedikit tentang ajaran dari agama Konghucu (yang mungkin asing bagi kita) tentang bagaimana mereka menyampaikan salam. Sebagaimana Islam dengan ?Assalamu?alaikum wr. wb.? (keselamatan, rahmat, dan berkah Allah, semoga tercurah untuk kalian), Kristen dengan ?Salam sejahtera bagi kita semua?, Konghucu memiliki salam yang menurut saya sangat menarik, ?Wei De Dong Tian? (Dalam kebajikan Tuhan berkenan).

Jika kita perhatikan dan coba untuk membandingkan, salam yang disampaikan oleh para penganut agama Konghucu dengan para penganut agama Islam dan Kristen, maka akan terlihat jelas perbedaam. Islam dan Kristen mengucapkan salam dalam arti ?doa dan harapan? untuk seseorang atau kelompok yang diberi salam. Sementara agama Konghucu mengucapkan salam dalam arti ?peringatan?. Saya membayangkan bagaimana efek dari salam itu (salam dalam agama Konghucu) ketika ada seseorang yang berniat jahat pada mereka, lalu mereka sampaikan salam itu kepada seseorang yang berniat jahat tersebut, ?Dalam kebajikan Tuhan berkenan?, saya yakin, minimal ada kehawatiran baginya (orang yang khendak berbuat jahat), bahkan bisa jadi niat jahat itu diurungkan ketika dia mendengar salam tersebut.

Sesekali saya berandai-andai, andai kedua salam itu dipersatukan dalam keseharian tanpa harus dipertentangkan, maka ajaran ?amar ma?ruf-nahi munkar (perintahkan/lakukan yang baik, dan cegah yang buruk) dalam ajaran Islam, akan teraktualkan dalam bentuk aktifitas sehari-hari yang sangat sederhana. Mendoakan saudara kita dengan salam, melalui ajaran Islam dan Kristen, adalah perwujudan dari ?amar ma?ruf, sedang peringatan dalam salam ajaran Konghucu adalah perwujudan dari nahi munkar.? Setidaknya hal ini dapat menjadi alternatif yang baik bagi kita untuk menghadirkan Tuhan dalah tindakan kita sehari-hari, jika dibanding dengan kita berusaha ?menghadirkan Tuhan? dengan cara mengangkat senjata, menghancurkan, dan membunuh dengan alasan menjalankan nahi munkar (pencegahan atas kemungkaran).

?

?Selamat atas kita semua, Semoga kita senantiasa bergerak menuju kedewasaan dalam bersikap, serta semakin cerdas dan bijak dalam menyuguhkan firman Tuhan dan ajaran agama kita?.

Salam.

  • view 157