Nak... [Surat untuk Calon Anakku] (2)

Okiviani Amanda Sastri
Karya Okiviani Amanda Sastri Kategori Inspiratif
dipublikasikan 18 April 2016
Nak... [Surat untuk Calon Anakku] (2)

Aku ingin mengajarkanmu soal cinta.

Walaupun sejujurnya aku tidak tahu banyak soal cinta. Dulu yang kuketahui soal cinta adalah perasaan yang menggelora yang membuat seseorang bisa menempatkan hati dan pikirannya ke orang/benda tertentu. Teralihkan sepenuhnya pada apa yang ia cintai, sehingga melakukan segala macam cara untuk mendapatkan orang/benda tersebut.

Tetapi ada satu malam dimana aku menangis karena aku merasakan pahitnya kebodohan. Dan dari sana aku menyesali banyak hari di mana aku sebenarnya pernah terjebak dalam jurang kebodohan. Aku tidak akan bohong bahwa aku tidak pandai dalam akademisku, pernah ada masa-masa di mana aku tercenung menatap soal ujian dan aku tak bisa menjawabnya sama sekali. Terkadang jika aku sedang dalam kondisiku yang paling waras, aku akan menertawakan kebodohanku. Tetapi malam itu aku menangis karena aku tidak bisa melakukan sesuatu yang seharusnya aku bisa melakukannya.

‘Seandainya aku belajar lebih giat…’ adalah sebuah kerinduan tersendiri. Kerinduan akan kondisi yang menginginkan diriku menjadi orang yang lebih giat belajar dan rajin sehingga aku bisa mendapatkan kemenangan. Berupa nilai bagus atau ilmu yang meninggikan derajatku. Kerinduan yang suram… karena nyatanya aku tak mendapatkan nilai bagus apalagi sebuah derajat berupa keilmuan dalam beberapa waktu.

Ah, kau pasti bingung, apa hubungan semua ini dengan cinta?

Ini dia, Nak, aku sebenarnya tak punya rasa cinta dengan yang namanya belajar semenjak aku kecil. Dan apakah ini menjadi salah? Iya, salah. Karena pada dasarnya, kau harus belajar untuk mencintai proses belajar agar kau bisa menyecap manisnya ilmu. Lihat, bahkan aku merangkai kata belajar - mencintai - belajar, karena memang mencintai itu belajar, belajar untuk mencintai. Bagiku keduanya sangat erat kaitannya.

Dan tentu saja kau butuh diajari. Dan dariku lah kau akan diajari apa itu cinta, dan aku yang akan membuatmu mencintai belajar. Bagaimana caranya? Aku harus mencari tahu sejak detik ini. Bahwa mencintai itu manis, bahwa ada rasa pahit di awal belajar yang akan membuatmu merasakan manisnya karena diiringi dengan cinta. Sebuah kerinduan akan ilmu, sebuah kerinduan akan kemenangan, dimana semua harus tersemat di dalam belajar tanpa bentuk paksaan yang akan menyakitimu.

Karena nanti kau akan belajar berbagai macam hal. Bukan dalam akademis saja. Banyak… banyak… banyak hal. Jika kau ingin menggenggam bumi dan langit, kau harus mengenalnya melalui belajar. Dan nanti kau akan melihat bahwa semuanya luar biasa, bahwa kau bisa melihat sisi baik dan magisnya melalui cinta itu.

Aku, aku lah yang akan mengajarkanmu cinta itu.

Dan sebelumnya, aku harus mencintai siapa yang kuajari agar yang kuajari pun mencintaiku. Dari sini, dari detik ini, walaupun kau masih menunggu giliranmu di Surga untuk nantinya ruhmu dikirimkan ke dalam rahimku, aku akan belajar… dalam sebuah imajinasi yang masih tak kasat mata, 

bahwa aku mencintaimu.

Bandung, 18 April 2016

 

  • view 158