Memaknai Fenomena Hari Pertama Masuk Sekolah

Amanda Fuadillah
Karya Amanda Fuadillah Kategori Renungan
dipublikasikan 20 Juli 2016
Memaknai Fenomena Hari Pertama Masuk Sekolah

Mangkok plastik berwarna merah-hijau itu terlihat semarak di halaman bangunan-bangunan yang bercat baru. Terlihat hidup dan serasi sekali dengan kibaran-kibaran jilbab putih pemakainya. Jika sudah masuk waktu makan siang, mangkok-mangkok itu akan beralih fungsi dari yang penutup dan penghias kepala menjadi wadah-wadah berisi nasi-sayur bayam-sambal dan tentunya tempe, menu makan siang sehat kami. Ah…lezatnya..!!

Pengalaman diatas masih nyata sekali teringat dalam benak saya. Tahun 2002, iya tidak kurang dari 14 tahun yang lalu saya turut merasakan bagaimana euforia rasanya masuk pertama kali ke sekolah. Sendiri tanpa orang tua menemani. Hal ii berkaitan dengan posisi saya yang saat itu kebetulan bersekolah di sebuah pondok pesantren di mana santri sudah harus tidur di asrama beberapa hari sebelum masuk sekolah. Pengalaman pergi ke sekolah sendirian di hari pertama masuk sekolah tidak hanya dialami oleh saya dan teman-teman yang kebetulan mengambil jalur pendidikan pondok pesantren. Tetapi juga dilakukan oleh mayoritas anak-anak di sekolah di kampung dimana saya tinggal.

Pergi ke sekolah sendiri tanpa diantar orang tua menjadi salah satu kebanggaan bagi kami waktu itu. Stereotype sudah mandiri, tidak cengeng, tidak manja, yang diberikan oleh bapak ibu guru juga tetangga-tetangga sekitar membuat orang tua kami sukses hanya mengantar putra-putrinya sekolah di muka pintu rumah saja. Kami bangga, jika pergi ke sekolah sendiri, terutama di hari pertama masuk sekolah.

Layaknya sesuatu yang mutlak. Perubahan pasti terjadi. Kebiasaaan anak-anak datang ke sekolah sendiri terutama di hari pertama masuk sekolah yang menjadi kebiasaan beberapa waktu silam menjadi agak tidak relevan untuk dipraktekkan saat ini. Kebutuhan gizi anak-anak yang lebih mudah dicukupi, keadaan lingkungan yang merangsang pertumbuhan anak-anak menjadi lebih cepat, pengaruh berbagai budaya lewat media cetak dan media elektronik, juga kemudahan mengakses berbagai informasi lewat berbagai teknologi modern, serta berjaraknya hubungan antara orang tua dan pihak sekolah turut ambil bagian dalam perubahan pola perilaku dan kebiasaan ini.

Karena itu, langkah pemerintah terutama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Rebublik Indonesia, dalam menggalakkan gerakan #Hari Pertama  Masuk Sekolah  patut diapresiasi. Bapak Anis Baswedan selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menghimbau para orang tua untuk turut ambil bagian mengantar dan menemani putra-putrinya di hari pertama masuk sekolah. Orang tua dapat  melihat lebih jauh sekolah dimana anak-anaknya menghabiskan waktu untuk belajar, meng-eksplore berbagai sisi lingkungan sekolah, berkenalan dengan sesama orang tua siswa, juga mulai menjalin komunikasi yang baik antara orang tua dengan guru selaku perwakilan pihak sekolah.  

Langkah konkrit yang dilakukan oleh pemerintah dalam mewujudkan keharmonisan pendidikan dengan melibatkan orang tua siswa dan dan pihak sekolah sesuai dengan pernyataan Ki Hajar Dewantoro terkait tiga pusat pendidikan, yang meliputi keluarga, sekolah, dan masyarakat. masing-masing tiga pusat pendidikan tersebut memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk, mempengaruhi, membiasakan sikap dan tingkap laku siswa. Karena itu, sudah seyogyalah antara keluarga, sekolah, dan masyarakat saling bahu membahu mewujudkan model pendidikan yang ramah anak.

  • view 197

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    "...mangkok-mangkok itu akan beralih fungsi dari yang penutup dan penghias kepala menjadi wadah-wadah berisi nasi-sayur bayam-sambal..."

    ini mangkok plastiknya dipake nutup kepala gimana mbak? hehe. saya masih berusaha ngebayangin.