Cinta yang Seharusnya #9

amallia dewanty
Karya amallia dewanty Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Februari 2016
Cinta yang Seharusnya #9

#Fiksi

#

Pin sudah sampai dikost-nya, Liu mengikutinya.

"Liu ?"

Liu diam tak menjawab, "Kau mengikutiku ?" Tanya Pin memastikan.

Liu mengangguk, "Hanya memastikan kamu selamat sampai rumah."

Pin tertawa mendengarnya, "Serious ?"

Liu menggeleng dengan tidak menampakkan ekspresinya, Pin membatin, "Pelit ekspresi sekali orang ini."

"Baiklah, silahkan masuk." Pin mempersilahkan Liu masuk kekost-annya.

-

Pin membawa dua cangkir teh yang ia letakkan di ruang tamu, di ruang Liu berada.

Pin dan Liu bersama-sama menyesap teh-nya, "Apa ada yang ingin kau sampaikan ?" Tanya Pin seraya menaruh cangkir teh-nya di atas meja begitu pun dengan Liu.

Liu menaruh cangkirnya, "Tidak, aku hanya memastikan kamu selamat sampai rumah. Itu saja."

Pin jadi kefikiran, "Apakah ada seseorang yang mengikutiku atau berniat menjahatiku ?" Ujar Pin was-was.

Sedangkan Liu jadi tidak enak karena membuat Pin jadi berfikiran tidak-tidak, Liu jadi gelagapan, "Oh itu tidak, tidak seperti itu, aduh gimana ya menjelaskannya ?"

Pin jadi bertanya-tanya akan maksud Liu, "Maksudnya bagaimana Liu ? Kau jangan membuatku jadi takut."

Liu menggaruk kepalanya gugup, "Tidak ada yang mengikutimu, aku hanya..." Liu tak mampu menyelesaikan perkataannya.

"Hanya ?" Tanya Pin penasaran seraya menaikkan kedua alisnya.

"Sudahlah lupakan, tidak ada yang mengikutimu atau yang berniat menjahatimu." - "Kecuali aku yang mengikutimu."- Ujar Liu dalam hatinya.

Pin menghela nafas lega, "Aaahh, syukurlah aku sudah mengira yang tidak-tidak tadi."

"Kau sudah makan ?" Liu bertanya pada Pin yang sedang menyesap teh-nya lagi.

"Belum." Pin teringat dengan kulkasnya yang tidak ada isinya, hari ini adalah jadwal belanja bulanannya. "Di kulkas ku tidak ada apa-apa, maaf. Aku mau berbelanja bulanan dulu, ya. Kau mau ikut ?" Sebenarnya Pin mengajak hanya berbasa-basi saja karena tidak enak ada Liu dirumahnya, tidak mungkin kan Liu tetap dirumahnya sementara ia pergi berbelanja ?

Liu mengangguk, "Boleh juga, ayo !" Pin terhenyak ditempatnya mengira Liu akan memilih untuk pulang, ternyata dugaannya salah.

"Ba, baik, tunggu ya, aku mau ganti baju dulu." Liu mengangguk lalu Pin ke kemarnya untuk berganti baju.

-

Pin terlihat serius melihat daftar belanjaan serta barang yang akan dibelanjakannya, sekarang ia sedang melihat shampoo dan sabun mandi, sedangkan Liu berdiri menemani disampingnya dengan sabar.

Setelah itu mereka menuju bagian sayur dan buah-buahan, Pin menoleh ke arah Liu, "Liu, kau mau makan apa hari ini ?"

Liu nampak berfikir, "Terserah kau saja."

Pin memanyunkan bibirnya, sebal, lalu ia kembali berjalan diikuti Liu di belakangnya. Pin sibuk memilih sayuran, nugget, kentang goreng, serta ayam potong dengan serius dan teliti.

Cukup lama mereka berbelanja, tiga jam, namun Pin merasa sangat puas dengan senang.

"Makasih ya sudah menemaniku hari ini." Ujar Pin seraya tersenyum menatap Liu.

Liu membalas tatapan Pin dan tersenyum juga tanpa mengatakan apapun. Pin yang melihat senyuman Liu menjadi salah tingkah, senyuman Liu yang jarang ia tunjukkan mempunya efek tersendiri untuk Pin, Liu akan terlihat berkali lipat lebih menarik jika tersenyum.

Beberapa menit dalam keheningan, Pin berinisiatif untuk mengajak Liu berbicara. "Uhm, Liu." Liu menoleh ke arah Pin. "Kau tahu, kau sangat sabar menemaniku berbelanja padahal kau laki-laki, Cha saja yang perempuan tidak tahan dan sangat bosan menemaniku berbelanja." Ujar Pin yang diakhiri dengan sedikit terkekeh.

"Membosankan ? Aku sama sekali tidak bosan, justru itu adalah acara berbelanja untuk pertama kalinya yang sangat menyenangkan untukku." Liu menaruh tangan kanan didagunya, sedangkan Pin salah tingkah.

"Uhm, aku akan memasakkanmu sesuatu, tunggu ya." Pin beranjak ke dapur untuk meminimalisasi kegugupannya di depan Liu.

-

Pin memasakkan Liu sebuah makanan sederhana Chicken Vege Nugget, resep sederhana yang ia lihat di sosial media.

Liu menatap makanan didepannya dengan tatapan berselera. "Sepertinya makanan ini enak, baunya menggugah selera." Liu memuji.

Pin tersenyum dan menyendokkan nasi untuk Liu, "Cukup atau mau tambah lagi ?" Pin menyerahkan sementung nasi pada Liu.

Liu menggeleng, "Kalau kurang bisa tambah lagi." Setelahnya mereka makan dalam keheningan.

-

Pin mengantar Liu hingga di depan pagar kost-annya, "Terima kasih untuk hari ini dan makan malamnya, sangat enak."

Pin tersenyum, "Aku juga berterima kasih karena sudah ditemani berbelanja."

Liu tersenyum, membuat Pin terpesona, setelahnya ia berjalan menjauh dari pandangan Pin, ia menoleh kembali lalu tersenyum, setelahnya berjalan terus tanpa menoleh lagi.

#

Pin sedang bergelung dengan bantal juga selimutnya, ia masih terbayang saat ia bersama Liu tadi di pusat perbelanjaan, bagaimana Liu dengan begitu sabar dan teliti membantunya memilih barang.

Ia tidak bisa tidur karena terbayang-bayang senyuman Liu, lalu mebalikkan badan ke arah kanan, melihat buku yang dipinjamkan oleh Tan, seperti tersadar akan sesuatu, "Tan meminjamkan buku ini di Abenteur, apakah ia juga meminjamnya dari Abenteur ? Oh gawat aku belum menyelesaikannya." Ujar Pin panik, sekaligus bersyukur jadi ada bahan untuk mengalihkan fokusnya pada hal lain.

#

Sementara di lain tempat, Liu juga belum bisa tidur karena juga terbayang saat-saat bersama Pin. "Betapa menyenangkannya." Ujarnya yang hanya didengarnya sendiri lalu tersenyum. Liu lalu mengambil kameranya, Bertha, "Bertha, hari ini aku pergi berbelanja bersama Pin, ternyata berbelanja itu hal yang menyenangkan ya ! Selain itu aku juga memakan masakannya, memang bukan masakan terenak yang pernah ku makan, tapi entah mengapa memakannya membuatku jadi ketagihan ! " Liu lalu tersenyum kembali.

#

"Hai !" Tan meyapan Pin yang sedang membaca bukunya dengan serius.

Pin menoleh ke arahnya lalu tersenyum, "Hai Tan !" Sapa Pin dengan senyum namun senyumnya pudar, Tan terheran-heran melihatnya.

"Ada apa Pin ?" Tan duduk di sebelah Pin.

"Uhm, Tan, aku minta maaf."

Tan mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti maksud Pin, "Ada apa Pin ?"

"Aku belum selesai membaca buku Bumi Manusia? yang kau pinjamkan, kau pasti juga meminjam dari Abenteur, maaf, ini aku kembalikan walaupun belum selesai membacanya." Pin merasa bersalah pada Tan lalu memberikan bukunya pada Tan.

Tan tersenyum, "Tidak apa-apa Pin, aku meminjamnya seminggu, tidak apa-apa, kau baca saja." Jawab Tan seraya menyerahkan kembali bukunya pada Pin.

Pin tersenyum senang menerima kembali buku Bumi Manusia.

#

Sian terlihat semakin dekat dengan Cha, mereka sedang mengobrol lalu Hong menghampirinya.

"Hai Cha, aku pinjam Sian sebentar ya." Ujar Hong pada Cha. Cha mengangguk.

Hong membawa Sian agak menjauh lalu menyerahkan sebuah surat tantangan pada Sian.

"Aku mendapatkannya tadi, kita ditantang lagi oleh Independent, mereka sepertinya tidak rela dengan kekalahan mereka kemarin." Hong mengucapkannya sedikit mengejek pada Independent. Sementara Sian diam ditempatnya, bingung harus bagaimana ?

"Hei, kenapa kau diam saja ? Kau laporkan pada ketua tentang tantangan ini, jika ketua tidak mau ikut, kita saja yang akan menghadapi Independent." Hong berkata lagi.

"Uhm, baiklah, aku akan melaporkannya pada ketua."

"Baiklah, aku tunggu ya." Hong lalu pergi setelah melambaikan tangan pada Cha.

Kemudian Sian menghampiri Cha kembali, "Ada apa ?" Tanya Cha pada Sian.

"Tidak ada apa-apa, Cha."

Cha menatap Sian dengan menyipit, "Tadi aku melihat Hong memberikan sebuah kertas padamu, apakah kalian diajak berduel lagi ?"

Sian menggaruk tengkuknya terlihat gugup, "Tidak Cha, tidak." Sian menjawab dengan terbata.

Cha tetap pada tatapan menyipitnya tidak percaya, lalu menghela nafas, "Hhm, baiklah, walaupun kita masih sekolah menengah atas, setidaknya kita sudah bukan anak kecil lagi, kau bisa memilih mana yang baik juga mana yang buruk. Aku ke kelas dulu." Setelah mengatakan itu Cha beranjak dengan perasaan kecewa. Sedangkan Sian menatap kepergian Cha dengan tatapan sendu.

#

Sian menghampiri Liu yang sedang berada di atap gedung, "Ketua." Liu menoleh.

"Kita mendapat tantangan dari Independent, bagaimana ?" Ucap Sian pada ketuanya, Liu.

Liu menghela nafas lalu menggerakkan tangannya dengan maksud meminta Sian duduk disebelahnya. Sian paham lalu duduk disebelah Liu. "Sebenarnya, aku mau mengakhiri aksi lucu kita." Ujar Liu, dengan maksud mengehntikan duel yang selama ini mereka jalani.

"Begitu pun denganku, ketua." Sian lalu merebahkan tubuhnya. Liu juga.

"Tapi bagaimana cara kita menghentikan ini ketua ? Hong sangat dendam, bahkan tantangan terakhir kali tetap kita ikuti walaupun tanpa ketua." Liu tidak tampak terlihat terkejut mendengar pengakuan Sian, ia sudah memprediksi jika Sian dan Hong akan tetap bergerak walaupun tanpa dirinya.

Liu menghela nafas, "Aku akan melibatkan pihak sekolah, bukan hanya pihak sekolah kita,tapi Independent juga."

"Apakah dengan cara itu kita bisa menghentikan duel diantara dua sekolah ?" Sian bertanya nampak pesimis. "Jika kita tidak melawan mereka, kita yang akan dihabisi ketua."

Liu mengerti itu, "Aku sudah memikirkannya solusi serta diplomasi dengan kedua sekolah, butuh waktu memang, tapi dengan cara ini kita bisa mengurangi pertikaian yang terjadi."

Sian mengangguk mafhum, "Apa yang harus kita lakukan saat ini ketua ?"

#

?

  • view 154