Cinta yang Seharusnya #8

amallia dewanty
Karya amallia dewanty Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Februari 2016
Cinta yang Seharusnya #8

#Fiksi

#

Hari ini libur sekolah, Pin sedang bersantai menunggu Cha yang akan datang ke kost-annya.

Tok tok tok, "Itu pasti Cha !" Pin segera menuju pintu, tepat dugaannya.

"Pinnn.." Ucap Cha langsung memeluk Pin. Pin juga membalas pelukan Cha.

-

"Hari ini kita mau kemana Pin ?" Cha terlihat bosan, setelah dua jam berada di tempat Pin.

Pin menyesap teh-nya, "Bagaimana jika kita ke Abenteur ? Book store dan cafe yang pernah aku datangi bersama Tan, kalau kau tidak suka membaca buku, disana ada cafe? dan appetizer? yang terlihat lucu juga lezat, kau pasti suka." Tawar Pin pada Cha.

Cha menengadahkan tatapannya ke arah langit-langit, "Uhm, baiklah." Cha menatap Pin, "Ayo kita berangkat !" Jawabnya dengan semangat.

Pin tersenyum kecil, "Aku siap-siap dulu." Pin beranjak menuju kamarnya mengganti baju.

#

Mereka sudah sampai di halte tempat Pin bertemu dengan Tan sebelumnya, Pin terlihat mengenang saat itu. "Hei, apa yang sedang kau fikirkan ?" Cha menyentuh bahu Pin.

Pin masih dengan kegiatannya mengenang namun tetap menjawab pertanyaan Cha, "Aku jadi teringat perjalanan pertamaku bersama Tan ke Abenteur, aku dan dia bertemu disini."

Cha ingin menanggapi namun bis yang menju ke Abenteur sudah datang, "Pin, Ayo." Mereka bergegas menaiki bis-nya.

Tak lama, 15 menit kemudian mereka turun di halte dimana Abenteur berada, "Pin, apa kita akan berjalan jauh ?" Tanya Cha yang mengeluh karena masih merasa kelelahan akibat perjalanan ke Gunung Pancar kemarin.

"Tidak Cha, hanya 500 meter, nanti kau menunggu saja di cafe, aku akan ke book store di lantai dua, aku akan menghampiri mu satu jam kemudian." Jelas Pin pada Cha.

Cha mengangguk, tak terasa berjalan mereka sudah sampai di Abenteur, Cha takjub dengan kenampakan Abenteur? yang meneduhkan pandangan mata, "Sugoi .." Pujinya.

-

Sesuai dengan rencana, Cha menunggu Pin di cafe Abenteur sedangkan Pin ke book store Abenteur di lantai dua, "Jangan lama-lama Pin, satu jam sudah cukup." Ujar Cha mengingatkan.

"Aku tahu, Cha."

#

"Pin ?" Pin mendengak menatap siapa yang memanggilnya, sempat terbelalak ternyata itu adalah Tan.

"Oh, kau Tan ?"

"Tadi aku sempat ragu untuk menyapamu, ternyata benar itu kau." Tan mendekati Pin.

Pin tersenyum simpul, "Kau bersama siapa kesini ?" Tanya Tan.

"Cha, ia sedang menunggu di cafe, ia tidak terlalu suka membaca."

Tan mengangguk mafhum, "Oh iya, aku akan menunjukkan mu buku yang menarik, aku sudah berjanji."

"Buku apa kali ini yang akan kau tunjukkan padaku ?" Pin tampak antusias.

"Mari, aku tunjukkan." Ajak Tan pada Pin, Pin lalu mengikutinya.

-

"Kau suka sastra ?"

Pin mengangguk, "Aku suka, aku suka dengan kata-kata yang bermakna dalam juga tingkat tinggi."

Tan tersenyum, "Nah, ini aku tunjukkan sebuah karya sastra fiksi karya penulis terkenal dan aku sangat mengagumi tulisannya, Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer."

"Aku pernah mendengar nama penulis yang baru saja kau sebutkan."

"Tapi belum pernah membaca bukunya, kan ?"

Pin mengangguk, "Ini aku pinjamkan padamu." Tan menyerahkan buku pada Pin.

Pin menerimanya dengan senang, ia lalu teringat dengan Cha yang dibawah, "Uhm Tan, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama disini, aku akan menghampiri Cha, kau mau bergabung ?"

"Bolehkah ?"

"Tentu." Pin mengajak Tan bergabung menuju Cha.

-

"Hai Cha." Sapa Tan saat melihat Cha.

"Oh, kau Tan."

Tan mengangguk dan tersenyum, "Senang bertemu dengan kalian disini."

"Pin mengajak ku kesini, benar katanya jika tempat ini sangat menarik, kebetulan sekali ya kita bertemu disini, aku juga senang bertemu denganmu Tan." Balas Cha seraya menyesap kopinya.

"Kalian sudah makan siang ?" Tan bertanya pada Pin dan Cha.

"Belum, aku menunggu Pin untuk makan siang bersama." Jawab Cha.

"Baiklah, kita makan siang terlebih dahulu, kalian mau memesan apa ?"

Pin dan Cha melihat daftar menu makanan di Cafe Abenteur, "Aku memesan ayam penyet minumnya cappucino berry." Ujar Cha.

"Aku sama dengan Cha, minumnya strawberry milkshake."

"Oke, ditunggu ya."

-

"Disini unik ya, nama cafe dan book store-nya kebaratan, tapi disini juga menyediakan menu khas Indonesia sekali." Cha memakan ayam penyetnya dengan semangat.

Pin dan Tan tersenyum mendengar celotehan Cha, "Pin, tega nya kau baru mengajakku ke tempat secozy ini." Cha menggelembungkan kedua pipinya.

"Aku baru dua kali Cha kesini, dan hari ini adalah yang kedua kalinya." Jelas Pin.

Cha mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, "Jadi yang pertama bersama Tan ?" Cha kemudian tersenyum jahil, "Ah, ya kencan bersama Tan."

Pin yang mendengar itu langsung memerah wajahnya menahan malu, sementara Tan tersenyum kecil salah tingkah. "Kenapa kalian berdua jadi salah tingkah ? Apakah kalian memang mempunyai hubungan spesial ?" Cha kembali mengajukan pertanyaan menukik.

"Itu tidak seperti yang kau bayangkan, kami hanya, hanya bertukar pendapat mengenai buku bacaan yang menarik, tidak lebih." Pin menjelaskan dengan gugup.

Namun Cha masih tetap dengan pandangannya yang tidak percaya jika antara Pin dan Tan tidak ada hubungan apapun. Sedangkan Tan hanya menatap keduanya bingung juga salah tingkah.

#

"Aku yang mengajakmu, jadi aku akan mentraktir." Pin menghalangi Tan untuk membayar tagihan makan dan minum mereka. Tan memaksa untuk tetap membayar tapi Pin juga lebih memaksa, akhirnya Tan mengalah.

"Lain kali aku yang akan membayar." Ucap Tan.

Pin diam tak menanggapi. "Kalian pulang naik apa ?" Tanya Tan, seraya berjalan menuju keluar Abenteur.

"Aku dan Cha akan naik ojek, tadi kami sudah menghubunginya." Jawab Pin.

"Baiklah, kalian hati-hati ya." Setelahnya mereka berpisah.

#


Rin kembali duduk disebelah Pin hari ini, "Hai Pin."

"Hai Rin." Pin menjawab sapaan Rin dengan senyuman.

"Bagaimana liburanmu ?" Rin bertanya seraya mengeluarkan buku dari dalam tas nya.

"Menyenangkan sekali, bagaimana denganmu ?"

"Oh, aku juga."

#

Cha menghampiri Pin ke kelasnya, ia tidak sendiri tapi bersama Sian.

"Kalian berdua ?" Pin menaikkan alisnya terheran-heran.

Cha mengangguk malu, lalu membisikkan sesuatu pada Pin, "Liu akan mentraktir kita makan di kantin, aku dan Sian disuruh menjemputmu."

"Baiklah, tapi tidak lama ya, karena aku mau ke perpustakaan."

Cha mengangguk, "Baiklah, tak akan lama."

#


Saat Pin, Liu, Cha juga Sian sedang makan bersama di kantin, tatapan heran dari siswa Goethe mengiringi mereka, Pin yang tidak biasa menjadi pusat perhatian menjadi risih. Ia segera menyelesaikan makannya lalu pamit ke perpustakaan.

"Pin buru-buru sekali." Sian menatap kepergian Pin.

"Ya, kalian tidak sadar jika daritadi kita diperhatikan ? Pin tidak biasa akan hal itu, dia itu gimana ya ? terlalu pemalu." Jelas Cha.

"Pantas..." Ujar Sian memaklumi.

"Cha." Panggil Liu, Cha langsung menoleh ke arah Liu. "Ya ?"

"Apa hubungan Pin dengan Tan ?" Tanya Liu langsung pada intinya.

"Uhm, sepengetahuan ku hingga kemarin kami yang juga tidak sengaja bertemu dengan Tan, hubungan mereka sebatas teman." Cha menerka.

"Kemarin bertemu ?" Liu mendekatkan tubuhnya pada Cha.

Cha menatap Liu, "Ya, tidak sengaja di Abenteur."

"Abenteur ?" Liu mengernyitkan dahinya.

"Oh, itu toko buku dan kafe langganan Pin juga Tan." Jelas Cha.

#

Pin duduk disebelah kanan Tan, disebelah kiri Tan juga ada Rin. Tan menyadari kehadiran Pin lalu menyapanya, "Hai, tumben baru datang ?"

Rin yang melihat Pin juga menyapanya, "Hai Pin."

"Hai, Tadi aku makan siang dulu bersama Cha."

Tan menghadap Pin, "Oh, kau sudah mulai membaca bukunya ?"

"Ya, benar katamu, buku yang menarik, buku fiksi sejarah yang membuat aku tidak bosan membacanya. BumicManusia mengisahkan zaman setelah pemerintahan Belanda yang disebut dengan? Hindia?Belanda. Kehidupan di Indonesia dimana budaya dan peradaban Eropa dielu?elukan sedangkan Pribumi hanya dianggap sebelah mata, diremehkan dan ditindas." Jelas Pin.

Tan pun menanggapi, "Saat aku membaca buku Bumi Manusia walaupun itu adalah karangan fiksi, namun entah mengapa aku merasa memang seperti itulah penggambaran keadaan saat Indonesia dijajah, aku merasa sangat bersyukur hidup di zaman sekarang,? zaman dimana negeri kita sudah merdeka, walaupun tidak merdeka sepenuhnya, masih terasa "penjajahan" terselebung."

#

?

  • view 121