Cinta yang Seharusnya #7

amallia dewanty
Karya amallia dewanty Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Februari 2016
Cinta yang Seharusnya #7

#Fiksi

#

Sian terkesiap melihat Liu yang membawa kameranya yang Sian tahu sudah setahun belakangan tak pernah Liu pegang. Cha yang melihat Sian, terheran-heran, "Sian, ada apa ?"

"Aku, tidak apa-apa. Memangnya ada yang aneh padaku ?" Tanya Sian mengalihkan perhatian Cha.

"Hm, kau melihat sampai segitunya pada Liu, ada apa sebenarnya ?"

"Oh itu..." Cha terus menatap Sian menunggu kelanjutan ucapannya.

Sian menggaruk kepalanya, "Itu.. Ketua sudah setahun belakangan tidak memegang lagi kameranya, baru hari ini aku melihatnya kembali memegang kameranya."

"Liu suka fotografi ?" Cha semakin penasaran.

Sian mengangguk, "Bisa dibilang ketua berbakat dalam bidang fotografi, hanya saja ia jadi tidak memotret lagi semenjak.." Sian sadar ia terlalu banyak bercerita pada Cha, lalu segera menghentikan pembicaraan tersebut.

Cha menaikkan alisnya penasaran, "Semenjak ?"

Sian sedikit gelagapan menghadapi rasa penasaran Cha yang seharusnya tak ia ceritakan pada orang lain, karena Liu tidak suka. "Itu.. itu.. Cha, ayo kita menghampiri ketua juga Pin." Sian menarik tangan Cha menuju Liu dan Pin.

"Ketuaa..." Teriak Sian memanggil Liu, Liu menoleh. "Apa yang sedang kalian lakukan ?" Tanya Sian pada Liu dan Pin.

"Liu mengajariku cara memotret." Jawab Pin antusias.

Sian dan Pin terlibat perbincangan seru mengenai kegiatan baru Pin, memotret yang sesekali? ditanggapi oleh Liu. Sedangkan Cha memandang penuh selidik pada Sian, yang menyembunyikan sesuatu mengenai Liu.

"Liu, bagaimana menurutmu ?" Pin menunjukkan hasil fotonya pada Liu, meminta pendapatnya.

Liu mengambil Bertha dari genggaman Pin, "Cukup bagus, angle-nya juga oke. Kau cepat belajar rupanya." Lalu Liu tersenyum.

Pin senang dengan pujian Liu padanya, ia mengambil Bertha dari tangan Liu, mencoba untuk memotret lagi, namun Pin salah memencet harusnya tombol yang disebelah kanan untuk kembali ke menu kamera, melainkan ia memencet tombol sebelah kiri yang menunjukkan menu galeri foto. "Uuppss.." Pin kelabakan karena salah memencet, tapi setelah melihat foto dalam galeri itu, Pin sangat kagum akan foto-foto yang sudah Liu potret, "Bagus sekali..." Ucap Pin dalam hati.

"Hhmm.." Suara tersebut membuat Pin terkejut, habislah ia karena tertangkap basah oleh Liu sedang melihat koleksi foto Liu.

"Uhm, itu, itu aku tidak, tidak sengaja melihatnya, itu terjadi begitu saja, lalu aku begitu kagum melihatnya." Jelas Pin dengan terbata, sedang Liu menatapnya datar, "Kau marah ?" Tanya Pin dengan takut-takut.

Tanpa diduga, Liu memberi Pin senyuman, "Kau menyukai gambar yang aku potret ?"

Pin melirik ke arah kanan lalu kiri, mengangguk dengan ragu, bukan karena tidak suka melainkan heran dengan ekspresi Liu yang tiba-tiba berubah.

"Ayo, aku tunjukkan gambar lain padamu." Ajak Liu pada Pin memperlihatkan galeri fotonya.

#

"Sepertinya aku memang salah menduga Liu." Ucap Cha seraya memperhatikan Pin dan Liu yang sedang asyik memotret. Sian langsung menolehkan wajahnya pada Cha, "Maksudmu Cha ?"

Cha membalas tatapan Sian dan menjelaskan, "Aku sering mendengar track record? kalian yang buruk, suka berduel, perusuh dan... berandal."

Sian masih diam mendengar kelanjutan ucapan Cha, "Lalu, tiba-tiba Liu menjadi ada di dekat Pin, yang baru aku tahu beberapa hari lalu, karena Pin menolong Liu yang pingsan di depan rumahnya dengan keadaan yang cukup parah, sepertinya habis berduel dan baru sadar dua hari kemudian. Aku tidak menyukainya karena Pin perempuan yang begitu naif dan Liu sangat tidak cocok untuk Pin jika melihat track record-nya, tapi semenjak kemarin aku mulai merubah pandanganku pada Liu, ia menolongku dari insiden pencurian tas." Cha memberi jeda,? "Tapi Liu tak banyak menunjukkan ekspresi setelahnya, ucapan pun hanya sekadarnya saja ia ucapkan, ia seperti Pin menurutku, acuh dan anti sosial, tapi ketika melihat ia bersama Pin, aku melihat Liu yang berbeda dan begitu pula dengan Pin, Liu orang yang hangat juga perhatian, well? ia tidak seburuk yang aku kira dan semakin baik jika ia menghentikan kebiasaannya menunjukkan kehebatannya, ya kau tahu dengan berduel, seperti hari ini contohnya aku melihat Liu yang manis tidak beringas maupun garang, kau sahabatnya, orang dekatnya pasti bisa melihat perbedaan tersebut." Jelas Cha panjang lebar sembari menatap Sian.

"Ia berduel hanya untuk menolongku dan Hong, yang akhirnya harus kami akui jadi kebablasan dari yang awalnya tidak disengaja." Bela Sian pada Liu.

"Hhmm, aku tahu setiap orang mempunyai alasan tersendiri atas perbuatan yang ia lakukan. Tapi sepertinya dengan berduel, mengadu otot itu bukan penyelesaian dari masalah." Ucap Cha seraya menggerakkan kakinya.

"Ketua tidak sengaja dan sebenarnya tidak berniat untuk melakukan itu... dan kami melakukannya untuk mempertahankan diri." Sian menengadahkan kepalanya menatap langit, lalu melanjutkan ceritanya, "Satu setengah tahun yang lalu, aku dan Hong dihadang oleh sekumpulan siswa dari Independet, siswa Independent? terlalu banyak bagi kami, sepuluh orang sedangkan aku hanya berdua dengan Hong, alhasil kami kalah dan masuk rumah sakit selama seminggu dirawat untungnya kami dapat tertolong, itu pun karena ketua lah yang menolong kami, ia sangat hebat, ia sendirian berduel menolong kami dan membawa kami ke rumah sakit, waktu itu ketua juga menderita luka cukup parah, untungnya ia dapat bertahan."

Sian menghela nafas, "Karena tidak terima, Hong merencanakan pembalasan, ia mengajakku tapi tidak dengan ketua karena ketua sedang proses penyembuhan, aku menyetujuinya karena aku juga tidak terima aku dan teman-temanku tiba-tiba dikeroyok oleh siswa Independent, kami mulai mencari informasi tentang orang yang mengeroyok kami berbekal ingatan kami, dan akhirnya kami dapat menemukan sepuluh orang itu, waktu kami menyerang balik, kami hanya berlima dan berhasil mengalahkan kesepuluh orang menyebalkan itu, tapi siswa Independent? tiba-tiba datang lagi lima orang sedangkan kami berlima sudah kehabisan tenaga untuk melawan lima orang lain, tanpa kami ketahui ketua datang menghajar sisanya, sampai sekarang aku juga tidak tahu darimana ketua tahu perihal pembalasan kami, lalu semenjak itulah kami jadi suka berduel."

Cha mengangguk-anggukkan kepala, mencoba mengerti dari sisi Sian awal mula mereka menjadi seperti sekarang.

Sian lalu melirik Cha, "Sebelumnya aku tak mengenalmu, tapi kau sudah mengenalku." Sian tersenyum percaya diri.

Cha mendecih, "Aku mengenalmu karena track record-mu yang buruk, bukan karena prestasi-mu, kau ingat itu ya." Cha melipat kedua tangannya di dada.

Sian tertawa kembali.

#

"Cha dan Sian akrab sekali, ya." Ujar Pin.

Liu menolehkan pandangannya pada Sian dan Cha yang sedang saling bercanda, "Ya, Sian laki-laki yang mudah akrab, Cha juga."

"Kau benar, mereka memang mudah akrab dan menyenangkan." Pin dan Liu tersenyum.

#

Tidak terasa bagi mereka berempat telah menghabiskan waktu hingga sore, mereka sepakat turun dan sampai dirumah jam enam sore, Liu mengantar Pin, dan Sian mengantar Cha.

-

"Piinnn..." Teriak Cha di telepon.

"Hei, kau tidak usah berteriak. Pendengaran ku masih sangat baik Cha untuk mendengar suara pelanmu." Pin mengusap kuping kiri-nya.

Cha terkikik, "Maaf, hari ini sangat menyenangkan."

Pin tersenyum, "Ya benar, sangat menyenangkan."

#

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

  • view 106