Cinta yang Seharusnya #6

amallia dewanty
Karya amallia dewanty Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Februari 2016
Cinta yang Seharusnya #6

#Fiksi

#

Pin sedang membolak-balik buku yang ia baca, hingga sebuah suara mengalihkan perhatiannya, "Hai Pin."

Pin mendengak melihat siapa yang menyapanya, "Oh, ha..hai.." Jawab Pin pada Rin, yang menyapanya.

"Boleh aku duduk di sebelahmu ?"

"Oh, bo, boleh tentu saja." Pin menggeser tubuhnya ke meja sebelah membiarkan Rin duduk disebelahnya.

Rin tersenyum, "Kau sudah lebih bersahabat."

Pin mengerutkan alisnya, lalu mengerti maksud Rin. "Oh, iya.." Jawab Pin tersenyum.

"Aku beberapa kali melihatmu mengobrol bersama Tan di perpustakaan, apakah kau pacar Tan ?" Pin terhenyak mendengar Rin yang menduganya berpacaran dengan Tan.

"Oh, itu, aa.. aku tidak berpacaran dengannya, kami hanya teman." Jawab Pin terbata.

Rin mengangguk mafhum, "Begitukah ? Oh.. ku kira.."

"Ya, begitu.." Jawab Pin menghela nafas gusar.

#

"Pin, kau mau kemana ?" Tanya Rin ketika melihat Pin beranjak, saat ini sedang istirahat.

"Aku mau ke perpustakaan membaca buku." Jawab Pin sekedarnya.

"Boleh aku ikut ?" Rin sedang membereskan buku-bukunya.

Pin mengangguk, "Tentu."

-

Seperti hari sebelumnya, Tan menyapa Pin. "Hai." Sapa Tan berbisik.

Pin menoleh lalu tersenyum pada Tan, "Hai." Sapa Pin balik dengan berbisik juga.

Rin yang melihat kehadiran Tan pun ikut menyapa Tan, "Hai Tan." Tan mengernyitkan keningnya mengingat apakah ia mengenal perempuan yang menyapanya barusan tapi ia tak mengingat pernah mengenalnya sebelumnya, namun demi kesopanan Tan pun membalas sapaan tersebut, "Hai."

Pin lalu mengenalkan Rin pada Tan, "Oh ya Tan, ini teman sekelasku, namanya Rin, dan Rin, ini Tan."

Rin mengulurkan tangan kanannya pada Tan, "Rin." Yang dibalas oleh Tan, "Tan."

Setelah itu, baik Pin maupun Tan larut akan buku yang mereka baca, tiba-tiba Rin? berpindah duduk ke sebelah Tan yang sebelumnya duduk disebelah Pin. "Tan, buku apa yang sedang kau baca ?" Tanya Rin.

Tan terkejut melihat Rin yang mendadak duduk disebelahnya, "Oh, ini sebuah novel, judulnya Crime and Punishment." Jawab Tan seraya menunjukkan sampul buku yang dibacanya.

"Buku tentang kriminal ? Menyeramkan." Rin bergidik ngeri.

Tan tak menanggapi Rin, ia menoleh pada Pin, "Pin, kau sudah menyelesaikan A Short History of Nearly Everything ?" Tanya Tan.

"Sudah." Jawab Pin tersenyum.

Tan juga tersenyum, "Sesuai janji, aku akan menunjukkan buku lain yang menarik untukmu." Ujar Tan dengan suara yang sangat pelan.

Pin mengangguk. Sedang Rin terlihat penasaran dengan apa yang sedang Pin dan Tan bicarakan.

#

Pin, Tan, Cha dan Rin sedang makan siang bersama, Tan memesankan Pin juga Cha makanan sedang Rin mengikuti Tan memesan makanan.

Cha terlihat kesal akan ulah Rin yang tiba-tiba mengikuti ia dan Pin, saat Rin sedang memesan makanan, Cha mengungkapkan kekesalannya pada Pin, "Lihat, apa-apaan dia. Terlihat sekali ia cari perhatian pada Tan, makanya ia mendekatimu, Pin !"

"Begitukah ?"

Cha mendecih, "Kau ini, kau harus hati-hati, bisa saja ia merebut Tan darimu, Pin !"

"Aku dan Tan tidak ada hubungan seperti yang kau maksudkan, Cha."

Cha menggerutu seraya menggeleng-gelengkan kepalanya kesal, "Sukarnya menyadarkanmu, Pin."

#

"Panas sekali hari ini." Cha menyeka keringat dari keningnya. Cha terus berjalan tidak sadar jika ia sedari tadi diikuti oleh seseorang.

Saat merasa keadaan memungkinkan, dengan gerakan cepat orang yang mengikuti Cha berlari lalu mengambil tas Cha, Cha terkejut lalu berteriak sadar tas-nya diambil. Tanpa diduga Cha, Liu berlari mengejar orang yang mengambil tas Cha.

Dapat ! Liu memukul pencuri itu, saat Liu berhenti memukulnya, pencuri itu langsung kabur.

Cha menghampiri Liu, "Kau tak apa ?"

Liu mengangguk, Cha melihat tangan Liu terdapat bercak darah, "Tanganmu berdarah." Cha menarik tangan Liu untuk dilihatnya, namun Liu menangkis tangan Cha, "Aku tak apa." Ujar Liu.

"Te, terima kasih Liu." Ucap Cha, yang ditanggapi Liu dengan anggukan lalu setelahnya Liu pergi tanpa mengatakan apapun pada Cha, sedang Cha tergugu ditempatnya.

#

"Piinnnnn.." Teriak Cha ketika ia sudah sampai di rumah Pin. Lalu menangis.

"Cha, ada apa ? kenapa menangis ?" Pin cemas melihat Cha menangis.

Cha masih hanyut dalam tangisnya, Pin memilih diam menunggu Cha siap untuk cerita padanya.

"Pin, tadi tas ku dicuri, hiks" Ujarnya masih dengan tangisan.

"Apakah orang itu melukaimu Cha ?" Tanya Pin khawatir.

Cha menggeleng, "Tidak, hanya .."

"Hanya ?"

"Tadi Liu menolongku. Dia tiba-tiba muncul, mengejar pencurinya lalu memukulnya, tangannya berdarah, setelah itu dia pergi begitu saja." Cha membeberkan cerita pada Pin masih dalam keadaan tergugu.

Pin mendengarkan lalu menenangkan Cha. "Baik baik, kau istirahat dulu, setelah istirahat kita bicara lagi."

Mereka berdua menuju kamar Pin, tak lama setelah berbaring Cha tertidur.

#

"Sepertinya aku punya penilaian lain terhadap Liu, mungkin ia memang tidak seburuk yang aku kira." Cha berkata pada Pin seraya menyesap teh-nya.

"Lalu ?" Tanggap Pin lalu menyesap teh-nya juga.

"Hanya itu." Ujar Cha, Pin nampak berfikir, mungkin ini saatnya ia menceritakan perihal ajakan Liu ke Gunung Pancar pada Cha.

"Cha, aku mau memberitahu mu sesuatu." Pin masih tampak terlihat ragu.

Cha menoleh pada Pin memusatkan perhatiannya, Pin menggaruk tengkuknya gugup, "Uhm, kemarin.. kemarin Liu mengajakku ke sebuah tempat, dan aku menyetujuinya."

Cangkir teh yang dipegang Cha jatuh, Cha benar-benar terperangah mendengar ucapan sahabatnya tersebut, "Cha, kau tak apa ?" Tanya Pin khawatir.

"Tidak, tidak apa-apa, aku hanya terkejut mendengarnya. Jadi, kapan ?" Kali ini giliran Pin yang mendadak terperangah mendengar tanggapa Cha yang dikira Pin akan menolak mentah-mentah atau mencibir keputusannya menyetujui ajakan Liu .

"Mungkin besok atau lusa.." Jawabnya sedikit ragu, karena Pin belum mengkonfirmasikan kembali mengenai rencana itu dengan Liu.

"Aku akan ikut, menemani kalian." Ujar Cha.

"Uhm, oke, nanti aku akan bilang pada Liu." Pin senang.

"Jika aku tidak boleh ikut dengan kalian, maka kau tidak aku izinkan pergi." Cha melipat kedua tangannya di dada.

"Ya, ya, ya.." Jawab Pin antusias, karena Cha akan ikut bersamanya dan Liu.

#

Tok tok tok, pukul tujuh malam Liu datang kembali, Pin sudah menduga yang datang adalah Liu.

"Kau sudah makan ?" Tanya Liu pada Pin yang masih berdiri di depan pintu.

"Belum." Jawab Pin dengan senyum kecil, Liu juga tersenyum, "Baguslah, aku membawakan sesuatu untukmu."

-

"Wah.. kwetiau goreng." Pin menatap makanan di depannya dengan sangat berselera.

"Kau menyukainya ?"

"Ya, sangat, terima kasih kepadamu membawakan makanan ini untukku." Pin menatap Liu dengan berbinar-binar, Liu pun tersenyum, yang lagi-lagi terlihat sangat menarik untuk Pin, "Manis sekali senyumnya." Ucap Pin dalam hati.

"Uhm, Pin, tentang ajakan ku kemarin, kapan kau bisa ?" Tanya Liu dengan sedikit terbata.

Pin salah tingkah, "Liu, itu, itu, Cha akan ikut bersama kita, kau keberatan tidak ?"

Liu menggeleng, "Tidak, berarti aku juga akan mengajak Sian, Cha pasti tidak akan sanggup jika mengendarai motor sendirian."

"Baiklah. Aku jadi tidak sabar untuk pergi besok." Pin menyatukan kedua tangannya senang.

"Jadi kita akan pergi besok ?" Liu memastikan.

"Tentu." Jawab Pin antusias.

"Aku akan menelepon Sian, tunggu sebentar ya." Liu lalu menjauhkan dirinya dari Pin untuk menelepon Sian.

-

"Halo, Sian."

-------------------------------------

"Besok aku berencana untuk pergi ke Gunung Pancar bersama Pin dan Cha, kau ikut ya." Ucap Liu pada Sian di telepon yang mengartikan tidak ada penolakan.

-------------------------------------

"Baiklah, jam lima pagi kau sudah siap ya, bertemu di depan halte bis, kau dan aku akan menjemput Pin dan Cha."

-------------------------------------

"Oke, sampai jumpa besok." Liu menutup sambungan teleponnya dengan Sian.

Liu menghampiri Pin, "Aku sudah mengajak Sian, dia akan ikut bersama kita besok."

Pin mengangguk, "Aku akan mengabari Cha soal ini."

-

"Halo Cha." Tidak lama Cha sudah mengangkat telepon dari Pin.

-------------------------------------

"Besok aku akan ke Gunung Pancar, Liu sudah mengajak temannya untuk ikut bersama kita." Pin tidak dapat menyembunyikan nada gembira.

-------------------------------------

"Baiklah, sampai jumpa besok, oh iya, jam lima pagi kau sudah siap ya !"

-------------------------------------

"Oke, selamat malam."

Pin dan Liu tersenyum saling memandang sesaat, Pin yang pertama memalingkan wajahnya dari Liu, ia merona.

#

"Hari ini aku akan mengenalkanmu padanya." Ujar Liu pada kamera yang sedang digenggamnya.

-

Liu dan Sian bertemu di halte bisa tepat jam lima pagi, Liu yang diikuti Sian dibelakangnya terlebih dahulu menjemput Pin, setelahnya menjemput Cha.

Pin sudah berdiri di depan rumahnya menanti kehadiran Liu juga Sian, tak lama mereka datang lalu bergegas menjemput Cha setelahnya mereka berangkat, karena pada hari libur Bogor akan sangat ramai dan padat pengunjung.

Baik Pin, Cha, Liu dan Sian sangat menikmati perjalanan perdana mereka berempat ke Gunung Pancar, suasana disana begitu menyenangkan, sejuk, indah, luar biasa begitu penjabaran mereka, terlebih bagi Liu yang bahagia karena dapat pergi dengan Pin.

Mereka tak menyia-nyiakan kesempatan, setiap bertemu dengan view yang menarik mereka berempat ber-selfie ria.

Dalam hati, Sian mengetahui apa penyebab sang ketua menjadi berubah sikap terhadap geng mereka, stark. "Ketua berubah karena Pin, ya benar.. Sangat terlihat, tatapan ketua pada Pin."

-

Liu dan Pin berjalan beriringan, diikuti oleh Sian dan Cha dibelakang.

Mereka berbicara dengan akrab, Liu dengan Pin, begitu pula Sian dan Cha.

"Aku mau menunjukkan sesuatu padamu." Pin menatap Liu, Liu mengambil sebuah barang dari dalam tas-nya, lalu menunjukkannya pada Pin, "Dia, Bertha. Aku memberi namanya." Liu tersenyum kecil.

"Kamera ini bernama Bertha ?" Tanya Pin memastikan maksud Liu sebenarnya.

"Ya, dia Bertha."

Sedangkan disaat yang bersamaan, Sian memperhatikan Liu juga Pin, tanpa meninggalkan fokusnya terhadap Cha juga.

#

?

  • view 160