Cinta yang Seharusnya #5

amallia dewanty
Karya amallia dewanty Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Februari 2016
Cinta yang Seharusnya #5

#Fiksi

#

Tan tersenyum, ia selalu bisa menemukan Pin dengan mudah, di perpustakaan. Dengan langkah pasti ia berjalan mendekati Pin. Pin tidak menyadari kedatangannya, Pin terlalu sibuk membaca buku yang kemarin ia rekomendasikan, A Short History of Nearly Everything.?

"Hai." Sapanya berbisik.

Pin menoleh dan tersenyum lalu memfokuskan kembali perhatiannya pada buku bacaannya.

"Kau menemukan sesuatu yang menarik ?" Tanya Tan dengan berbisik.

Pin mengangguk, "Jangan kau tanya soal itu, buku ini sangat menarik."

"Beritahu aku, apa saja hal menarik yang kamu temukan. Salah satunya saja." Ucap Tan memohon.

Pin menutup bukunya, lalu menatap Tan sejenak, "Buku ini bercerita tentang awal terbentuknya alam semesta hingga dunia yang kita ketahui sekarang. Di dalamnya disajikan fakta-fakta sains yang cukup akurat dan detail. Menariknya, fakta-fakta yang disajikan itu bukannya membuat aku mengantuk saat membacanya bahkan membuat aku terkesima."

"Bagian yang paling menarik dari buku ini menurutku adalah bagian pertama, Lost in The Cosmos. Bagian ini menceritakan tentang awal mula alam semesta tercipta hingga planet Bumi terbentuk. Kekhasan Pak Bill Bryson dalam mengembangkan sebuah alur dengan fakta sebagai mata rantai (kejadian yang saling berkaitan)-nya sangat menarik pada bagian ini setelah aku membaca bagian lain tentunya. Pak Bill dengan penghayatan menggambarkan bagaimana kesemrawutan dalam alam semesta ini untuk membentuk sebuah kehidupan. Banyak kiasan dan perumpamaan yang digunakan oleh Pak Bill yang membuat aku berpikir lebih dalam tentang eksistensi (keberadaan) mahluk hidup di alam semesta ini." Tutup Pin.

Tan mengangguk-anggukkan kepalanya ia terpana akan penjelasan Pin yang sederhana namun mengena, "Aku semakin bersemangat mengenalkanmu dengan buku-buku bagus yang sudah ku baca."

"Can't wait hardly for it." Ucap Pin dengan senyuman kecil yang tersungging.

#

"Ketua, kita dapat tantangan lagi !" Sian dengan nafas tersengal menghampiri Liu.

Liu tidak menampakkan ketertarikannya, "Aku sedang tidak mood? untuk berduel." Jawab Liu.

Sian terperangah mendengar jawaban ketua-nya tersebut, "Tapi ketua, kau tidak malu menolak tantangan dari sekolah lain ?"

"Tidak."

Sian mengacak-acak rambutnya kesal, Liu tetap tidak ingin berduel sepertinya lalu Sian pergi dari hadapan Liu. "Sebenarnya apa yang terjadi pada ketua ? Kenapa ia berubah ?"

#

Hong menghampiri Sian yang terlihat kacau, "Ada apa denganmu ? Bukankah kita mendapat tantangan ? Kau sudah memberitahu ketua mengenai hal ini ?"

Sian menatap Hong lalu mengacak rambutnya lagi yang sudah berantakan, "Ketua tidak ingin berduel." Jawabnya lesu.

Hong terperangah mendengarnya, "Kau serius ?" Hong pun mengacak-acak rambutnya seperti Sian.

"Lalu kita harus bagaimana Hong ?" Sian tampak buntu.

"Tantangan tetap tantangan, kita akan tetap maju walau tanpa ketua." Ucap Hong optimis, Sian pun menyetujui usulan Hong.

#

Cklek, Liu menghidupkan lampu di kamarnya. Lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur "Melelahkannya." Keluhnya.

Liu teringat kejadian kemarin, ia melihat Pin bertemu dengan Tan di halte bis, tanpa Pin maupun Tan ketahui, "Aku tidak menyangka hubungan mereka sudah sejauh itu." Ia membalikkan tubuhnya ke arah kanan dan secara tak sengaja melihat kameranya yang terletak di atas meja.

Liu mengambil kamera yang sudah setahun belakangan tak ia sentuh lagi. "Aku ingin memberitahunya soal dirimu." Ucap Liu pada kameranya.

#


Sian, Hong dan beberapa anggota geng-nya mendatangi tempat yang sudah disepakati untuk berduel. Dengan yakin mereka melangkah, "Walau ketua tidak hadir kali ini, kita harus tetap semangat demi stark !" Ucap Hong pada sesama anggota stark.

"Siiiiaaaapppppp." Ucap para anggota dengan mengangkat tangannya semangat.

Hong lalu membuat kesepakatan dengan anggota geng lawan, pertarungan satu lawan satu, pihak yang kalah harus mengakui geng yang menang adalah geng yang terkuat lalu memberikan salah satu aset yang dimiliki geng yang kalah. Hong menyetujuinya, Hong juga lah yang maju untuk bertanding.

"Hong, aku yakin kau pasti dapat memenangkan duel ini lagi." Ucap Sian seraya memijat bahu Hong.

Hong sudah siap begitu juga dengan lawannya, ia lalu bersiap-siap dan duel tak terelakkan.

#

"Tidak apa-apa Cha, aku baik-baik saja. Kau tidak usah mengkhawatirkanku." Pin sedang mengobrol dengan Cha lewat telepon.

----------------------------

"Aku sedang menyeduh teh, kau ?"

----------------------------

"Iya Cha, selamat tidur juga." Pin menutup teleponnya, kemudian ia menuju ruang TV, baginya itu adalah hal yang menyenangkan meminum teh seraya menonton televisi.

Namun pilihannya tak seperti yang ia harapkan, Pin terlihat bosan dengan acara yang ditampilkan oleh televisi, sinetron abal-abal? yang tidak mengandung nilai, jangankan nilai atau pengetahuan, acara televisi menurutnya membawa dampak buruk.

"Huh, bosan sekali." Pin merebahkan tubuhnya ke sofa.

Tok tok tok, Pin menengok ke arah pintu, ia tak lantas membuka pintu atau melihat siapa tamu yang datang, namun ia melihat jam dinding. "Jam tujuh, tidak terlalu malam. Tapi siapa yang datang ? Apakah itu Liu lagi ?"

Tok tok tok, berbunyi lagi ! Pin segera menuju pintu, mengintip, ternyata benar yang datang adalah Liu, dengan sedikit ragu ia membuka pintu, "Hai." Sapa Pin.

"Hai, apa kau sudah makan ?" Tanya Liu, Pin memandang langit-langit.

"Uhm .. sudah, eh maksudku belum." Pin tertawa meringis sadar akan jawabannya.

Liu mengangkat bahunya, "Aku membawa sesuatu." Liu mengangkat bungkusan plastik yang ia bawa.

"Kalau begitu, silahkan masuk." Ajak Pin masih dengan ragu-ragu.

-

"Kau mau minum apa ? Disini hanya ada teh, sirup, lalu air putih." Tawar Pin pada Liu.

Liu memandang Pin sejenak, "Air putih saja, terima kasih."

"Dari bau-nya sepertinya enak." Pin menjaga gengsi-nya dihadapan Liu.

"Tunggu apalagi ? Ayo makan." Liu memberikan bungkusan makanan pada Pin.

"Te.. terima kasih Liu." Liu tak menjawab.

Mereka berdua makan dalam keheningan, terlalu menikmati makanan yang Liu bawa. Hingga selesai makan, mereka tidak mengobrol sama sekali.

"Apakah ada tempat yang ingin kau datangi ?" Tanya Liu tiba-tiba saat mereka sedang menikmati buah yang kemarin Liu bawa.

Pin terlihat berfikir, "Ada sih..."

"Dimanakah itu ?" Liu terlihat sedikit menampakkan ekspresinya.

"Apakah kau pernah mendengar tempat bernama Gunung Pancar ?"

"Di Bogor ?"

"Uhm, sepertinya iya ..." Pin menjawab dengan ragu.

"Kau ingin kesana ?"

Dengan malu-malu Pin menjawab, "Iya."

"Baiklah, aku akan mengajakmu kesana."

"Liu, ii.. ii.. iituu kau tak harus mengajakku kesana." Ucap Pin tiba-tiba.

Liu tampak berfikir, "Baiklah, tidak harus besok, lusa atau besok lusa pun tidak apa-apa."

Pin tak ingin mengecewakan Liu, ia pun mengangguk.

"Aku pulang, jangan lupa kunci pagar dan pintu."

Pin mengangguk, ia mengantar Liu hingga depan pagar, tidak seperti biasanya saat sudah berjalan lima langkah, Liu menoleh, melambaikan tangan dan tersenyum.

"Aku tak menyangka, Liu bisa terlihat menarik ketika tersenyum."? Harus Pin akui, ia suka senyum Liu yang jarang laki-laki itu tampakkan, "Aaahh, apa yang aku katakan !" Ucapnya lagi sembari memukul pelan bibirnya.

#

Pin sedang dalam kondisi tidak mood? membaca buku, ia hanya termangu sembari menyangga muka dengan tangannya, ia kefikiran soal Liu yang mengajaknya pergi ke Gunung Pancar.

"Tumben kau tidak membaca buku." Bisik Tan.

Pin terkejut karena ia tadi sedang melamun, "Oh, kau Tan."

"Ada sesuatu yang mengganjal hati atau fikiranmu ?" Ucap Tan tepat sasaran. Namun Pin berusaha mengelak.

"Oh, uh, tidak, tidak ada apa-apa, hanya sedang tidak mood? saja." Pin tidak sepenuhnya mengelak.

Tan hanya mengangguk tak sepenuhnya percaya.

#

"Cha." Panggil seorang temannya Min, Min menghampirinya diikuti kedua temannya yang lain, Sun dan Rae.

"Apakah kau sedang menghindari kami ?" Tanya Sun.

"Terlihat seperti itu kah ?"

Mereka bertiga mengangguk, "Ada apa Cha ?" Tanya Min.

"Tidak ada apa-apa, hanya saja aku menyadari sesuatu." Jawab Cha sedikit ketus.

"Apa Cha ?" Kali ini Rae yang bersuara.

"Kalian bertiga telah menjauhkanku dari sahabatku, Pin. Jika kalian tidak bisa menerimanya, maka aku pun tidak bisa menerima kalian." Ujar Cha. Setelah mengatakan itu, Cha berjalan tanpa melihat ketiga temannya tersebut.

"Sebenarnya apa yang Cha lihat dari gadis kuper? tersebut ?" Ucap Min pada kedua temannya.

#

Pin mengaduk-aduk makanan yang ada didepannya, kelihatan tak berselera, "Kau terlihat aneh, ada apa ? Apa kau sedang bertengkar dengan Tan ?" Cha tak tahan bertanya.

"Tidak." Jawab Pin tak bersemangat.

"Lalu ?"

"Aku hanya tidak berselera Cha."

"Kau berbohong padaku, kita sudah kenal sejak sekolah menengah pertama, tapi kau masih saja berusaha membohongiku, oh.. sungguh aku tak percaya !" Ujar Cha sedikit emosi.

Pin menghela nafas dengan lemah, melihat Cha. "Apakah yang ini juga harus aku ceritakan ? Kalau melihat reaksi Cha, sepertinya tidak." Pin menghela nafas lagi.

"Hei, kau baik-baik saja ?" Cha duduk di sebelah Pin, khawatir.

"Aku tidak apa-apa, tak usah khawatir Cha." Pin mengelus lembut tangan Cha. Lalu lagi-lagi menghela nafas.

#

?

  • view 94