Cinta yang Seharusnya #4

amallia dewanty
Karya amallia dewanty Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Februari 2016
Cinta yang Seharusnya #4

#Fiksi

#

Pin sedang menikmati makan malamnya dengan Cha, Cha bermalam lagi di rumahnya. "Cha, apakah kau pernah diajak seorang laki-laki ke suatu tempat ?" Pin awalnya ragu bertanya, namun rasa ingin tahu-nya mengalahkan rasa ragu-nya.

Cha menoleh dan menyipitkan matanya melihat Pin, "Siapa yang mengajakmu berkencan Pin ? Jangan bilang jika itu si berandal !" Cha tidak menjawab malah memberi tanggapan sinis.

Pin memutar kedua bola matanya, "Kau jawab saja pertanyaanku, Cha."

"Tidak, tidak akan aku biarkan kamu pergi dengan si berandal, mengerti ?!" Cha menunjuk ke arah Pin. Tapi ia seperti tersadar akan sesuatu, "Atau itu bukan si berandal ?"

Pin mengangguk, "Jadi siapa ?" Tanya Cha penasaran, "Apakah itu Tan ?" Cha bersemangat jika berbicara mengenai Tan. Pin kembali mengangguk. Cha tersenyum sumringah, "Jadi kapan kau akan pergi dengannya ? Aku akan membantu menyiapkan dirimu menjadi super duper? cantik !" Ucap Cha sangat bersemangat.

Sementara Pin merasa tak enak telah membuat Cha salah kira mengenai ajakan Tan, "Besok, tapi Cha, itu tak seperti yang kau kira, Tan hanya mengajakku ke sebuah toko buku bernama Abenteur."

Cha melirik tak suka, "Oh ayolah Pin, kau tahu ? Tan memperlakukan mu dengan sangat istimewa, ia pasti menyimpan perasaan terhadapmu, aku baru dengar jika ia mengajak seorang siswi Goethe berkencan." Ucap Cha sumringah dengan menyatukan kedua tangannya sambil berputar-putar.

"Ke toko buku, Cha. Bukan berkencan." Pin berusaha membenarkan anggapan Cha mengenai kencan yang digadang-gadangnya.

"Aku tak peduli pada apapun istilah mu mengenai kencan dengan Tan, aku tetap menganggap kau berkencan dengan Tan." Cha kembali berputar-putar membuat Pin pusing akan tingkahnya namun tak bisa menahan tawa.

Tok tok tok, "Pin, apa kau mendengar ketukan pintu ?" Cha memastikan apa yang didengarnya benar-benar ketukan pintu.

Pin juga mendengarnya lalu mengangguk, Tok tok tok, suara ketukan kembali terdengar, Cha berinisiatif membuka pintu lalu berteriak, "Yaa, kau berandal mau apa lagi kau kesini ?!!!"

"Aku menjenguk Pin." Jawab Liu setelahnya ia langsung masuk tanpa mengindahkan Cha yang masih? berada di depan pintu.

"Tidak sopan sekali berandal ini." Ucap Cha yang hanya didengarnya sendiri, lalu ke dalam.

"Bagaimana keadaanmu ?" Tanya Liu sesaat setelah melihat Pin.

"Aa.. aa.. aku baik, terima kasih atas kunjungannya." Pin terlihat sedikit terkejut akan kehadiran Liu.

"Hei berandal, kau tidak ku suruh masuk !!" Teriak Cha pada Liu. Liu tidak menghiraukannya.

"Aku membawakanmu ini, semoga kau suka." Liu memberikan sekeranjang buah lagi. Pin merasa tak enak sedang Cha memutar kedua bola matanya jengah.

"Kau sudah lihat kan keadaannya baik-baik saja ? Jadi kau boleh pergi sekarang !!" Seru Cha pada Liu sinis.

"Cha..." Pin berusaha menenangkan sahabatnya, ia merasa tak enak dengan Liu.

Liu yang sadar kehadirannya membuat keributan dan mungkin akan mengganggu istirahat Pin pun undur diri, "Syukurlah kau baik, aku pulang." Setelah itu ia langsung pergi, tanpa menoleh lagi.

"Kenapa berandal itu sering kesini Pin ?" Tanya Cha tanpa bisa menghilangkan rasa kesalnya.

Pin diam, "Kau berjanji akan menjelaskan hubungan mu dengan berandal itu, jadi ku fikir ini adalah saat yang tepat." Cha menagih penjelasan Pin. Pin mengangguk lalu menceritakan pada Cha awal perkenalannya dengan Liu.

#

"Jadi dia pingsan di depan rumah dan kau merawatnya ? Sudah ku bilang padamu kan Pin, dia memang berandal dan sebaiknya kau menjauhinya." Ucap Cha menggebu-gebu.

"Entah lah, aku rasa dia tak seburuk yang kau kira, Cha."

Cha memutar kedua bola matanya, "Dan sebaiknya kau pertimbangkan ucapanku." Pin menghela nafas, dan mengangguk.

#

Pin melihat jam tangannya, sudah jam dua siang, ia janji dengan Tan akan pergi jam empat sore. "Gugup sekali." Ucap Pin pada dirinya.

Cha menghampiri Pin lalu membisikkan sesuatu, "Kau kelihatan gugup sekali, santai saja jangan buat dirimu malu." Pin mengangguk.

"Ayo, kita harus mempersiapkan penampilan mu hari ini dengan sangat baik." Cha tersenyum, Pin juga.

Cha mengobrak-abrik koleksi baju yang ia punya, "Aku mau kamu tampil dengan sempurna tanpa meninggalkan keorisinilan? dirimu." Pin lagi-lagi hanya bisa mengangguk dan pasrah pada Cha.

Setelah memilih beberapa baju yang dirasa cocok untuk Pin, Cha mulai memberikannya pada Pin untuk dicoba, lalu setelah melihat beberapa baju yang sudah dicoba oleh Pin, Cha menjatuhkan pilihannya pada sebuah dress tangan panjang selutut bermotif bunga kecil yang menghiasinya dipadukan dengan sebuah stocking? berwarna hitam sebagai pelengkapnya. Cha terlihat senang akan penampilan Pin kali ini, "Apa kau nyaman mengenakannya ?"

Pin mengangguk, "Tepat sekali dugaanku, dress ini memang untukmu." Ucap Cha sumringah.

Cha melihat jam yang tergantung pada dindingnya, "Pin ! lihat sudah jam 3.30 sore, sebaiknya kau bergegas pergi. Have a nice date, Pin !" Pin tersenyum, pergi dan melambaikan tangan.

#

Pin sudah melihat Tan di tempat janjian mereka di sebuah halte bis. Dengan malu-malu Pin menyapa Tan, "Apa kau sudah lama menunggu ?"

Tan menggeleng, "Tidak, aku memang sengaja datang lebih cepat, kau tepat waktu Pin." Tan tersenyum.

Tak lama, bis yang akan mereka tumpangi telah datang, "Ayo." Ajak Tan pada Pin.

15 menit kemudian, mereka turun di halte dimana Abenteur? berada, hanya tinggal jalan sekitar 500 meter lagi. Keduanya berjalan beriringan namun tetap ada jarak diantara mereka.

"Kita sampai." Tan bersuara, Pin mendengak, melihat sebuah neon box? yang menyala bertuliskan, Abenteur Book Store and Cafe.

Pin dan Tan masuk kedalamnya, nuansa di Abenteur? sangat meneduhkan dan memanjakan mata karena memadukan warna coklat dan hijau sebagai warna cat dan pemilihan furniture yang mengisi Abenteur sendiri. "Wah..." Ucap Pin kagum tanpa sadar.

Tan tersenyum, "Kau menyukainya ?" Pin mengangguk, "Sudah ku duga." Ucap Tan lagi.

"Apa kau sudah pernah baca buku A Short History of Nearly Everything? karya Bill Bryson ?" Tanya Tan pada Pin.

Pin menggeleng, "Baiklah akan aku tunjukkan padamu dan kamu pasti akan jatuh cinta pada buku tersebut." Tan tersenyum dengan semangat lalu mengajak Pin ke sebuah rak buku.

Tan menunjukkan sebuah buku bersampul sebuah globe, dan beberapa alat yang tidak diketahui Pin, "Nah, kalau kamu mau tahu tentang seluruh sejarah ilmu pengetahuan yang berhasil diketahui oleh umat manusia dari awal hingga saat ini, lalu mencari buku yang mencoba untuk merangkum secara singkat semua hal itu dari awal hingga akhir dengan pembahasan yang menarik dan menyenangkan, maka buku ini adalah jawaban dari apa yang kamu cari."

Pin melihat Tan kagum. "Benarkah ?"

"Coba saja kau baca buku ini. Oh ya, sesuai dengan judulnya, buku ini ibarat rangkuman singkat tentang segala hal yang telah dicapai oleh umat manusia hingga sampai dengan saat ini. Jadi dengan membaca buku ini, perumpamaannya semua pemahaman kamu tentang science yang mungkin masih rada acak-acakan, timpang sana-sini, atau mungkin cuma sepotong-sepotong, akan benar-benar dirapihkan lagi sampai kamu benar-benar paham hubungan dan integrasi (pembauran atau perpaduan hingga menjadi satu kesatuan yang utuh)-nya satu sama lain. Dari buku inilah kamu akan paham bahwa , dari mulai Astronomi, Geologi, Biologi, Kimia, Antropologi, Sosiologi, Psikologi, adalah satu kesatuan ilmu yang saling berhubungan dan terkait satu sama lain." Tan menjelaskannya dengan semangat.

"Dan untuk lebih jelasnya silahkan kamu baca." Tan tersenyum tulus pada Pin. Dan mereka pun tersenyum bersama.

#

#

"Apa kau ingin memakan atau meminum sesuatu ?" Tan dan Pin sedang berada di Cafe Abenteur di lantai bawah, sedangkan book store-nya berada di lantai dua.

"Aku minum hot chocolate saja." Jawab Pin setelah menaruh buku menu di depannya.

"Baiklah, aku pesankan. Tunggu ya." Tan lalu memesan pada seorang waitress? yang berada di depan.

Tak lama, Tan sudah kembali dan duduk di depan Pin, "Berapa harganya ?" Pin sudah mau mengeluarkan uang dari dompetnya.

"Aku traktir." Jawab Tan dengan senyum, yang seketika membuat Pin merona.

"Terima kasih sudah mengajakku kesini, tempat ini sungguh menarik, teduh dan amat menyenangkan." Pin terlihat sangat senang dan menikmati suasana di Abenteur.

Tan tersenyum, ia merasa bersama Pin memang sangat menyenangkan dan membahagiakan untuknya. "Kamu bisa mengajakku kesini lain kali." Mendengar itu Pin kembali merona, "Apakah itu artinya aku mengajaknya berkencan ?" Ucap Pin dalam hati.

#

"Kau terlihat bahagia." Cha melihat ekspresi Pin, lalu tersenyum. Pin juga tersenyum. "Apakah terjadi sesuatu antara kau dengan Tan ?" Cha bertanya lagi.

"Tidak ada yang spesial, hanya saja sangat menyenangkan menghabiskan waktu dengan Tan, sekadar dengan membaca buku juga meminum secangkir hot chocolate. Dan kau tahu ? Abenteur adalah tempat yang sangaatttt menyenangkan, aku akan mengajakmu kesana suatu saat nanti." Pin menjawab dengan semangat dan mata yang berbinar-binar.

"Segitu menyenangkannya kah bersama dengan Tan ?"

Pin mengangguk, "Sangat, dia adalah seorang laki-laki yang berpengetahuan luas, asyik? diajak bicara dan bertukar pendapat, dia adalah sosok yang menarik, menyenangkan bukan hanya di mataku, tapi seluruh indera ku pun berkata demikian."

Cha memutar kedua bola matanya. "Kau sangat berlebihan, tahu !" Cha menggelitik pinggang Pin, lalu mengejeknya namun dibalik ejekannya pada Pin, Cha bahagia.

"Kau menyukainya Pin, itu terlihat jelas." Ucap Cha disela-sela kegiatannya menggelitiki pinggang Pin.

#

?

  • view 150