Cinta yang Seharusnya #3

amallia dewanty
Karya amallia dewanty Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Februari 2016
Cinta yang Seharusnya #3

# Fiksi

#

Liu menatap buku didepannya, sebuah buku sejarah lalu mulai mencari informasi mengenai perang paderi, namun sesuatu membuat perhatiannya beralih, ia melihat Pin. Pin sedang serius hingga tak tahu jika ia diperhatikan oleh Liu, saat sedang serius, Liu melihat sesuatu yang berbeda dari Pin dan itu membuat Liu terpesona.

Ia pun memutuskan untuk menghampiri Pin, namun sudah didahului oleh orang lain, Tan.

"Serius sekali." Bisik Tan pada Pin.

Pin gelagapan melihat Tan yang tiba-tiba berada disampingnya, "Kenapa ia selalu tiba-tiba muncul ?" Ucap Pin dalam hati.

Tan melihat sampul buku yang dibaca oleh Pin lalu tersenyum, "Buku yang menarik, aku sudah baca." Ucap Tan berbisik kembali.

"Aa, ii.. itu aku hanya iseng membacanya." Jawab Pin.

"Kau tahu ? buku yang kau baca cukup berat untuk remaja seukuran kita, tentang psikologi warna, betul ? singkatnya, psikologi warna mempelajari dan mengidentifikasi persepsi manusia terhadap warna-warni benda yang ada di alam. Suasana hati seseorang bisa pula terpengaruh dengan adanya warna yang tertangkap indera penglihatan. Untuk itu, biarkan warna bicara apa adanya." Pin kagum dibuat oleh Tan, setidaknya ia dapat merangkum apa yang telah ia baca.

"Hahaha, kenapa kau terus melihatku ?" Ejek Tan pada Pin.

Pin sadar lalu cemberut pada Tan, sedangkan Tan tertawa tanpa suara.

"Aku ke kelas dulu, sampai jumpa lagi, Pin." Ucap Tan pada Pin yang ditanggapi senyuman juga lambaian tangan.

Sedangkan seseorang lain tanpa mereka sadari sedang memperhatikan, Liu, "Apa hubungan mereka berdua ?"

#


Liu kembali ke kelas dengan tugas yang belum ia kerjakan, ia hanya meminjam buku sejarah tersebut dari perpustakaan.

"Ketua, apa kau sudah menyelesaikan tugas mu ? aku ingin melihat catatanmu, boleh ?" Sian menghampiri Liu, seperti biasa.

Liu menggeleng, "Aku meminjam buku, kamu pakailah, besok aku mau pakai."

Sian terlihat heran namun menerima pinjaman buku dari Liu, "Bukankah ketua bilang ia akan mengerjakan tugas ? kenapa tugas itu belum selesai juga ?" Ucap Sian dalam hati.

#

"Pin !" Panggil Cha padanya.

Pin tersenyum, "Hai Cha." Cha tersenyum lebih lebar, "Aku dengar kau sedang dekat dengan Tan."

Pin mengerutkan dahi, "Oh ayolah tak usah berbohong padaku, aku tahu aku tahu, ada yang melihatmu dengannya di perpustakaan lalu tertawa bersama, katakan padaku, apakah itu bukan sebuah kedekatan ?" Cha menatap Pin dengan selidik.

Pin tersenyum malu lalu menunduk, "Itu tak seperti yang kau kira, Cha."

"Aaahhh, kau masih saja mengelak, awas kau tidak cerita padaku !" Ancam Cha, setelah itu mereka tertawa bersama.

#

Pin kembali pulang sendiri hari ini karena Cha akan mengerjakan tugas dengan temannya, ia terus berjalan hingga ada seorang pesepeda yang tak sengaja menabraknya.

Brraaakkkk, "Aduh." Teriak Pin, namun sang pesepeda tetap berjalan tanpa menghiraukannya.

Melihat itu, Liu segera berlari menolong Pin, "Kau bisa berdiri ?" Tanyanya. Pin mengerutkan kening, biasanya hal pertama yang orang lain tanya adalah "Kau tidak apa-apa, namun dia ?"

Pin mencoba berdiri, namun sepertinya kakinya terkilir,? ia mengerang kesakitan, melihat Pin yang tidak bisa berdiri, Liu memposisikan dirinya untuk menggendong Pin dari belakang. Pin terlihat ragu. Liu menatapnya tajam yang membuat Pin takut dan mau tidak mau mengiyakan Liu untuk menggendongnya.

Dalam gendongan Liu, Pin merasa risih hingga ia sering menggerak-gerakkan badan yang sering juga membuat keseimbangan Liu goyah. "Bisakah kau tenang ?" Ucap Liu sedikit ketus.

"Ma, ma, maaf.. apakah aku berat ?" Pin merasa tak enak.

"Tidak." Dalam hati Liu berkata, "Makan apa saja perempuan ini, kenapa begitu ringan ?"

"Maaf aku merepotkanmu." Liu tak menjawab.

#

"Turunkan saja aku disini." Pin meminta Liu menurunkannya di ujung gang.

"Kau bercanda ? Sudahlah, sedikit lagi sampai rumahmu, aku antarkan."

Sekitar lima menit berjalan, Liu dan Pin sampai di kost-an Pin.

Pin merogoh saku tas-nya mencari kunci pagar dan pintu, setelah masuk ke dalam kost-an Pin kira Liu akan segera pulang namun dugaannya salah, Liu menuju kotak P3K lalu mengambil sebuah lap juga es batu untuk mengompres kaki Pin.

Dengan telaten, Liu merawat kaki Pin, Pin sendiri tidak bisa menolak karena takut akan tatapan tajam Liu setiap ia menolak bantuan atau pemberian Liu. "Kau tinggal sendiri ?" Tanya Liu disela kegiatannya mengompres kaki Pin.

"Ya." Jawab Pin singkat.

"Kemana orang tua-mu ?"

"Sudah meninggal, dua tahun yang lalu." Liu sedikit terkejut mendengarnya namun ia dapat segera menutupi rasa terkejutnya juga perasaan lain yang muncul, kasihan.

"Aku bisa melakukannya sendiri, sudah malam sebaiknya kau pulang." Ucap Pin sedikit tidak enak, ia takut Liu mengira ia mengusirnya.

Liu menatapnya, tidak tajam namun dalam membuat Pin salah tingkah, keadaan menjadi hening diantara mereka.

Tok tok tok, suara ketukan membuyarkan keheningan diantara mereka, Liu berinisiatif membukakan pintu. Dari dalam, Pin mendengar suara teriakan Cha, "Mau apa kau disini ?!!!" Pin menghela nafas, tak lama Cha sudah berada di depannya.

"Pin, apa yang dilakukan berandal ini di rumahmu ?" Cha melirik sinis pada Liu yang berdiri dibelakang Cha.

"Ii.. ii..iituu, dia menolongku Cha."

"Memangnya kau kenapa ?" Cha lalu melihat kaki Pin yang membengkak, "Astagaa, kau kenapa Pin ?!!!"

Pin meringis mendengar teriakan heboh Cha, "Aku ditabrak oleh sepeda, untungnya Liu menolongku." Liu diam saja.

Cha terlihat tidak suka akan kehadiran Liu, "Baiklah, aku yang akan melanjutkan perawatan kaki Pin, sebaiknya kau pulang." Usir Cha pada Liu.

Liu melirik sekilas ke arah Pin, lalu pamit, "Aku pulang dulu Pin, semoga cepat sembuh." Lalu segera beranjak tanpa menengok lagi.

"Terima kasih Liu." Ucap Pin sedikit berteriak.

#


"Halo, Ibu .. aku menginap di rumah Pin, Pin habis ditabrak dan aku mau merawatnya." Cha menelepon Ibunya meminta izin.

--------------------------

"Iya bu, baik akan aku sampaikan salam Ibu untuk Pin, selamat malam Ibu, aku menyayangimu." Setelah itu Cha menutup teleponnya.

Lalu ia mendekati Pin, "Pin, kau dapat salam dari ibuku, beliau khawatir akan keadaanmu, kenapa kamu tidak menyetujui ajakan Ayah dan Ibuku untuk tinggal serumah dengan kami ?"

Pin tersenyum, mana bisa ia merepotkan orang lain ? namun ia tak mengucapkannya pada Cha.

"Kalau besok keadaan kaki mu tidak membaik juga, aku akan memanggil orang yang akan mengurut kakimu atau kita ke rumah sakit saja ?" Cha mengusulkan.

"Urut saja dulu Cha, lagipula kan aku hanya ditabrak oleh sepeda, pasti tidak separah dengan ditabrak motor atau mobil."

Cha terlihat menimbang, "Baiklah, semoga keadaan kakimu besok membaik." Pin tersenyum menanggapi.

Tiba-tiba saja tatapan Cha pada Pin berubah menjadi tatapan menyelidik, "Ah, aku ingat sesuatu, kenapa berandal itu bisa berada dirumahmu, Pin ?"

Pin menghela nafas, "Maksudmu Liu ?" Cha mengangguk, haruskah ia menceritakan pada Cha dari awal kejadian mereka bertemu hingga apa yang terjadi hari ini ?

"Aku akan menjelaskannya, sudah malam Cha sebaiknya kita tidur."

"Baiklah, aku akan meluangkan waktu untuk mendengar ceritamu dan si berandal." Ucapnya berapi-api.

#

Cha tidak mengizinkan Pin untuk bersekolah hari ini karena khawatir akan keadaan kaki Pin yang terkilir. "Baiklah aku menurutimu untuk tidak sekolah hari ini, tapi kenapa kamu juga jadi ikut tidak sekolah Cha ?"

"Aku menjagamu Pin, aku sudah membuat janji dengan orang yang akan mengurutmu, aku mengawasi dan memberi sesuatu yang kamu butuhkan. Ibu ku pun nanti akan kemari menjengukmu."

Pin menghela nafas, ia selalu saja merepotkan orang disekitarnya. Keheningan menyelimuti mereka.

Tok tok tok, "Ah mungkin itu ibuku yang datang." Cha berkata lalu berlari menuju pintu. Benar saja ternyata itu adalah Ibu Cha, Tante Mae, Pin memanggilnya.

"Pin, bagaimana keadaanmu ?" Tanya tante Mae saat melihat Pin yang terbaring.

Pin tersenyum, "Baik tante, maaf jika aku selalu merepotkan tante juga Cha."

Tok tok tok, orang yang mengurut kaki Pin datang. Pin segera diurut, ia berteriak kesakitan namun keadaan kakinya jauh lebih baik bahkan ia berjalan tanpa rasa sakit.

"Syukurlah." Cha senang melihat Pin yang berjalan tanpa kesakitan tak seperti kemarin.

Pin tersenyum bahagia lalu mereka berpelukan. Sedangkan Tante Mae sudah pulang bersama orang yang mengurut Pin.

#

"Kau tahu ? Aku tidak suka jika berandal itu dekat denganmu Pin !" Pin menghela nafas mendengar ocehan pagi Cha.

"Pin ? kau mendengar ku tidak ?" Cha kembali bertanya karena diacuhkan oleh Pin.

"Aku mendengarnya Cha, tapi ..."

"Tapi ?"

"Apakah aku bisa memberi Liu penilaian yang berbeda denganmu ?" Cha terhenyak, "Dengar Pin, ia adalah berandal, aku tahu kenapa kamu tidak mengetahui track record-nya selama ini karena kamu seperti hidup dalam duniamu sendiri dan acuh terhadap lingkunganmu, kamu anti sosial Pin."

Pin diam lalu menunduk membuat Cha merasa bersalah ia lalu mendekati Pin, "Maafkan aku Pin, aku tidak bermaksud mengataimu atau mengejekmu, aku hanya ingin menjagamu." Pin mengerti, Cha hanya mengkhawatirkan dirinya, "Aku tahu."

"Aku akan lebih banyak menghabiskan waktu bersamamu, maafkan aku karena akhir-akhir ini aku terasa jauh untukmu." Ucap Cha bersalah.

Pin menggeleng, "Tidak, kau hidup bukan hanya untuk menemaniku, aku mengerti kau juga punya kehidupan lain yang harus kamu jalani, jangan merasa bersalah."

"Maaf karena waktu itu aku tidak menghampirimu, aku benar-benar minta maaf Pin."

"Sudahlah. Aku mengerti, mereka memandangku aneh, seperti yang kamu bilang aku anti sosial, kuper bahkan.." Pin belum selesai mengucapkannya berhenti karena Cha menangis tersedu.

"Maaf Pin, maafkan aku." Pin diam, lalu memeluk Cha.

#

"Aku selalu bisa menemukanmu disini." Bisik Tan pada Pin, mereka berada di perpustakaan. Pin sepertinya sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Tan yang tiba-tiba.

"Kali ini buku apa yang kau baca ?" Lanjut Tan, Pin memperlihatkan sampul buku yang sedang ia baca.

"The last lecture ?" Tan mengerutkan kening, "Apa yang menarik dari buku ini menurutmu ?"

"Buku ini menceritakan seorang dosen ilmu komputer di? universitas Carnegie Mellon University yang menderita kanker pankreas yang hidupnya tinggal beberapa bulan saja. Lalu ia diminta untuk memberikan "kuliah akhir" yang uniknya justru berisi tentang berharganya dan bahagianya hidup. Ia tidak hanya berbicara tentang hal akademis, namun ia juga berbicara tentang keluarga, kasih sayang, mengucap syukur, dan berbicara tentang hidup itu sendiri."

Pin menghela nafas lalu melanjutkan, "Dari buku ini aku belajar untuk menghargai hidupku, tidak putus asa, menghargai orang yang ku sayangi, dan memberiku penilaian lain soal dosen."

"Penilaian lain soal dosen, bagaimana ?"

"Ya, seorang dosen yang tidak hanya mendidik secara akademis, tetapi mengajarkan nilai ? nilai kehidupan." Pin tersenyum ke arah Tan, tanpa Pin sadari membuat Tan terpesona juga menumbuhkan perasaan lain padanya.

"Aku jadi tidak tahan untuk mengajakmu ke suatu tempat yang pasti akan sangat menarik untukmu, aku yakin sekali." Ucap Tan semangat.

"Kemana ?" Tanya Pin sedikit malu-malu.

"Abenteur."

#

?

  • view 217