Cinta yang Seharusnya #2

amallia dewanty
Karya amallia dewanty Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Februari 2016
Cinta yang Seharusnya #2

# Fiksi

"Ketua, kau dapat tantangan lagi, kali ini dari siswa Independent." Sian datang dengan tergesa. Liu meliriknya sekilas, "Dimana dan jam berapa ?" Tanyanya.

"Ini ketua surat tantangannya." Sian menyerahkan sebuah surat sedikit lusuh lalu membacanya.

Liu,

I challenge you in tarung hills at 4 pm.

Independent School

Liu meremas kertas tersebut tanpa ekspresi, "Ketua, apakah kau akan mengiyakan duel dengan Independent ?" Tanya Sian khawatir.

"Tentu, siapkan pasukan." Jawab Liu. Sian mengangguk, ia segera beranjak memberitakan duel pada anggota geng.

#

"Zat hemoglobin, hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transportasi oksigen dari paru paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru paru. Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah berwarna merah. Sedangkan zat adalah ..." Pin membulak-balik buku biologi yang dipegangnya, kini ia sedang mengerjakan PR dari Bu Sae.

"Ah ketemu, zat adalah sesuatu yang menempati ruang dan memiliki massa." Pin tersenyum senang karena sudah menemukan jawaban untuk PR-nya.

"Satu lagi, zat besi, ini dia, zat besi merupakan salah satu nutrisi yang sangat dibutuhkanoleh tubuh. Zat ini berkaitan erat dengan ketersediaan jumlah darah yang diperlukan. Akhirnya PR-ku sudah selesai." Pin tersenyum senang lalu mengangkat kedua tangannya ke atas.

"Kelihatannya kamu sangat senang." Pin terkejut mendengar suara laki-laki yang tiba-tiba duduk disebelahnya.

Pin terbelalak, "Tan ?!" Tan tersenyum dan mengangguk lalu melihat tugas Pin, "Kelas kalian mendapat tugas lagi dari Bu Sae ?" Pin mengangguk.

"Kamu mau ku beritahu agar Bu Sae tidak sering memberi kalian tugas ?" Tawar Tan pada Pin, Pin mengangguk dengan semangat.

"Baiklah, yang harus kalian lakukan adalah menyiapkan materi yang akan diajarkan oleh Bu Sae lalu mempelajarinya, jika Bu Sae bertanya, maka jawablah dengan segera, sehingga Bu Sae tidak akan memberi kalian tugas. Di kelasku demikian." Ujar Tan.

Pin mengangguk kembali, "Terima kasih atas masukannya." Mereka berdua tersenyum.

#

Liu mendatangi Tarung Hills tepat jam empat sore sesuai perjanjian, siswa Independent datang bergerombol, sekitar 20 motor, sedangkan Liu hanya membawa pasukan 10 motor, dari jumlah jelas mereka kalah, tapi hal itu tidak membuat Liu dan geng-nya menjadi gentar.

"One by one." Ajak Liu pada siswa Independent.

Siswa Independent menyanggupinya. "Baiklah."

Kali ini, Liu tak turun ke lapangan, yang turun adalah Hong salah satu jagoan yang dimiliki geng Liu.

Sebelum berduel, Liu menggenggam bahu Hong memberi semangat padanya, Hong mengangguk dan bertos ala geng dengan Liu juga kawan-kawan lainnya.

Hong sedang berancang lalu duel tak dapat terelakkan, Sian dan anggota lainnya berteriak memberi semangat pada Hong, sedangkan Liu diam melihat pertandingan. Harus diakui oleh Liu, lawannya kali ini memang lumayan kuat. Setelah berduel cukup lama, Hong memenangkan duel. Sian dan anggota lainnya berteriak kegirangan dan langsung mengobati luka Hong.

#

Cha menghampiri Pin, "Pin !" Panggilnya, Pin sangat senang ketika Cha memanggilnya.

"Cha !" Jawabnya.

"Ayo kita pulang bersama." Cha sudah menggandeng tangan Pin, namun Pin masih belum beranjak dari tempatnya.

"Kenapa Pin ?"

"Ii.. i.. tu, apa kau tidak pulang bersama ketiga temanmu ?" Cha menaruh kedua tangannya di pinggang.

"Kau bukan temanku ? Ayolah kita pulang bersama, sudah lama kita tidak pulang bersama bukan ?" Cha tersenyum bahagia begitu pula dengan Pin.

"Baiklah." Mereka berdua berjalan dan bergandengan tangan.

#

Beberapa ketukan pintu membuat Pin ketakutan, "Bukankah sekarang sudah jam 9 malam ? Siapa yang datang ?" Ucap Pin lalu mengambil sebuah sapu untuk berjaga-jaga jika yang datang adalah perampok. Saat Pin mengintip betapa terkejutnya ia karena itu adalah Liu, orang yang ditolongnya kemarin.

Pin lalu membuka pintu dengan was-was, "Mau apa kau ?" Tanyanya dengan sedikit gugup.

Keheningan menyelimuti mereka.

"Bolehkah aku masuk ?" Dengan gerakan kaku Pin mempersilahkan Liu masuk. "Aku membawa ini sebagai ucapan terima kasih." Liu memberikan sekeranjang buah-buahan juga kebutuhan pokok.

"Ii.. i. tu tidak masalah, kau tidak seharusnya memberiku apapun." Ucap Pin.

Liu menatap Pin tajam seperti tak suka jawaban Pin, membuat Pin merasa tak enak, "Te.. terima kasih atas pemberiannya." Setelah Pin mengucapkan itu, Liu tak lagi menatapnya dengan tajam.

"Apa ada hal lain yang ingin kau sampaikan ?"Tanya Pin hati-hati.

"Siapa namamu ?"

"Aa.. aku Pin. Kamu ?"

"Liu." Jawab Liu singkat, "Baiklah aku pulang dulu, jangan lupa kunci rumahmu." Lalu Liu beranjak keluar, Pin mengikuti dari belakang mengantarnya hingga di depan pintu, Liu tak menoleh lagi lalu menghilang di ujung gang.

#

Sebelum berangkat sekolah, Pin mengunci pagar kosan-nya, lalu berjalan menuju sekolah. Pin tidak menyadari jika Liu mengikutinya dari belakang, sebelumnya Liu bersembunyi di balik gang sebelum ke rumah Pin.

Liu tak menyangka jika Pin satu sekolah dengannya, "Ternyata ia satu sekolah denganku, tapi mengapa aku tak pernah melihatnya ?" Ucap Liu pada dirinya sendiri.

Ia terus mengikuti Pin dari belakang hingga sampai di sekolah, "Hai ketua !" Liu menoleh pada yang menyapanya, Hong.

"Bagaimana keadaanmu ?" Liu melihat bekas luka lebam di wajah Hong.

"Aku baik-baik saja ketua."

"Baiklah, sampai ketemu nanti." Setelah mengatakan itu Liu kembali berjalan, mengikuti Pin.

#

"Ketua, pelajaran hari ini sangat membosankan, aku ingin bolos saja rasanya." Sian mengatakannya dengan mengangkat kedua tangannya yang ditaruh di belakang kepalanya.

Sebelum niat bolos itu terealisasi, Pak Mon sudah datang terlebih dahulu, "Pagi." Sapa Pak Mon.

"Pagi Pak Mon."

"Baik, hari ini kita akan membahas mengenai perlawanan terhadap kolonial Belanda." Pak Mon lalu menghidupkan layar monitor.

"Slide pertama akan membahas mengenai perlawanan Pattimura, Kedatangan Belanda di Kepulauan Maluku dan pendirian persekutuan dagang VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) hingga pemberlakuan sistem monopoli (menjual sendiri) perdagangan banyak menimbulkan penderitaan, kegelisahan, dan permusuhan untuk rakyat Maluku. Penindasan VOC terhadap rakyat Maluku terasa semakin berat, apalagi ketika sistem monopoli diawasi dengan pelayaran Hongi (pelayaran bersenjata lengkap yang dilakukan VOC untuk mengawasi jalannya monopoli perdagangan) dan diberlakukannya hak esktirpasi (hak untuk membinasakan tanaman rempah-rempah yang melebihi ketentuan). Baik, sampai disini apakah ada pertanyaan ?" Tanya Pak Mon sehabis menjelaskan slide pertama.

Tidak ada satu siswa pun yang menunjuk tangannya, "Karena tidak ada yang bertanya maka saya lanjutkan. Pada bulan Mei 1817, meletus perlawanan rakyat Maluku di Saparua yang dipimpin oleh Thomas Mattulessy atau Kapitan Pattimura. Benteng kompeni Duurstede di Saparua diserbu dan direbut rakyat Maluku hingga banyak pasukan dan penghuni di benteng terbunuh."

Pak Mon merubah slide-nya, "Selanjutnya, Perlawanan rakyat Maluku berikutnya meluas hingga ke Ambon dan ke pulau-pulau sekitarnya, yang berlangsung hingga beberapa bulan lamanya dan dikuasai oleh rakyat yang dipimpin oleh Kapitan Pattimura, Anthony Rybok, Paulus-Paulus Tiahahu, Martha Christina Tiahahu, Latumahina, Said Perintah, dan Thomas Pattiwael."

"Pasukan Belanda mengalami kewalahan dalam menghadapi perlawanan rakyat Maluku yang dipimpin Pattimura hingga pada bulan Juli 1817 dan bulan September 1817, Belanda mendatangkan pasukan Kompeni dari Ambon yang dipimpin oleh Kapten Lisnet." Lanjut Pak Mon.

"Pada bulan Oktober 1817, pasukan Belanda mulai menyerang rakyat Maluku secara besar-besaran hingga dapat memadamkan perlawanan rakyat dan menangkap Kapitan Pattimura (tahun 1817) yang kemudian dihukum mati pada tanggal 16 Desember 1817. Sebelum menghadapi eksekusi hukuman gantung, Pattimura masih sempat memberi semangat perlawanan terhadap rakyat Maluku, yaitu Pattimura tua boleh mati, tetapi akan muncul Pattimura-Pattimura muda." Pak Mon telah menyelesaikan slide yang ditampilkannya, "Baik, apakah ada diantara kalian yang ingin bertanya ?" Tanya Pak Mon kembali.

?

Salah seorang siswa menunjuk tangannya, "Pak, apa contoh dari hak estirpasi ?"

"Baik, terima kasih pertanyaannya, salah satu contoh bentuk pelaksanaan hak ekstirpasi adalah penanaman pohon cengkih yang hanya boleh dilakukan di Pulau Ambon dan sekitarnya, serta penanaman pohon pala yang hanya boleh dilakukan di Pulau Banda dengan tujuan agar tanaman tersebut jumlahnya sedikit dan VOC dapat menjual tanaman tersebut lebih mahal. Apa ada yang ingin bertanya lagi ?" Tanya Pak Mon memastikan.

- Tidak ada yang bertanya. -

"Karena sudah tidak ada yang bertanya, saya akhiri, sebelumnya ada tugas untuk kalian, yaitu mencari dan menceritakan kembali mengenai perang paderi. Itu saja, terima kasih, selamat siang." Pak Mon lalu meninggalkan kelas.

Sian menghela nafas panjang, "Hahh, akhirnya tapi tugasnya aku tak tahan." Ucap Sian. Liu diam.

"Aku mau ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas." Ucap Liu pada Sian.

Sian terbelalak, "Benarkah ? ada apa denganmu ketua ? tumben sekali ?"

"Aku ingin serius sekolah." Mendengar jawaban itu Sian makin terbelalak, "Semenjak kapan ketua-nya memikirkan sekolah ?" Ucapnya dalam hati.

#

?

?

  • view 189