Cinta yang Seharusnya #1

amallia dewanty
Karya amallia dewanty Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Februari 2016
Cinta yang Seharusnya #1

#

Sebuah cerita tentang Pin, Tan dan Liu.

# Fiksi

#

Suara tertawa, canda juga obrolan menghiasi pagi yang cerah, Pin memandang ke arah sebuah gerombolan perempuan yang beranggotakan empat perempuan, Pin mengenal salah satunya, Cha namanya.

Pin terus melihat gerombolan empat perempuan itu hingga Cha melihat ke arahnya dan tersenyum, "Pin !" Cha memanggilnya ! Seketika tiga perempuan lainnya menatap ke arah Pin dan langsung membuang muka. Cha pun digeret oleh mereka untuk menjauhi Pin, si perempuan aneh di sekolah.

#

Liu, seorang laki-laki yang terkenal sebagai perusuh di sekolah, ia kelas dua menengah ke atas namun berteman dengan anak kelas tiga menengah atas di sekolahnya. Ia sering terlibat perkelahian di sekolahnya maupun dengan sekolah lain.

#

Tan, pria karismatik, yang berprestasi di sekolah. Namun menyembunyikan sesuatu.

#

Pin berjalan menunduk, ia suka menunduk, hingga ia tertabrak oleh sesuatu ! Pin meringis, begitu pula yang menabraknya, "Kamu ga apa-apa ?" Tanya orang yang ditabraknya, seorang laki-laki.

Pin masih tetap menunduk "Maaf, ga sengaja." Jawabnya.

"Aku juga, maaf ya." Kini wajah sang lelaki berada tepat di depan wajah Pin, membuat Pin menjadi malu dan reflek mendorong sang lelaki. Sang lelaki yang juga terkejut tak dapat menjaga keseimbangannya hingga ia juga terjatuh dan membuat siswa di sekeliling mereka berhenti memperhatikan mereka.

Pin yang terkejut segera menolong laki-laki yang tadi didorongnya, "Maaf, maaf aku kaget, wajah kamu tiba-tiba muncul bikin aku..."

"Oke oke."

"Kamu ga apa-apa ?" Kali ini Pin memberanikan diri melihat sang lelaki yang ditabraknya. "Tampan sekali..." Batin Pin berbicara.

Sang lelaki tersenyum, "Aku, Tan."

"Eh, oh, uh, a.. aku Pin."

#

Suara riuh beberapa pemuda yang sedang menonton perkelahian antar geng menjadi penyemangat tersendiri bagi dua orang yang kini sedang berduel, Liu sedang berancang-ancang untuk memukul sang penantang. Tak terelakkan, kini mereka sedang saling pukul untuk mendapat predikat terkuat juga untuk menambah pamor bagi geng mereka masing-masing.

Hingga akhirnya Liu memenangkan pertarungan, setelah membuat babak belur dan pingsan lawannya. Liu lalu diarak dan diangkat oleh anggota geng-nya, dipuji sebagai ketua geng terhebat saat ini.

#

Liu berjalan sempoyongan, pusing melanda begitu pula dengan badannya yang serasa sudah tak bertulang, belum lagi rasa sakit setelah berduel yang terasa.

"Brruuukkk" Liu pun kehilangan keseimbangan dan kesadarannya.

#


"Astagaaaaaaa." Pin terkejut saat melihat sosok seorang laki-laki yang tergeletak di depan kost-annya. Segera ia mengecek nadi juga leher laki-laki tersebut.

"Masih bernafas !" Ucapnya lalu segera membopong sang lelaki masuk ke kamarnya dengan susah payah.

Dengan nafas yang tersengal, Pin dapat membopong Liu, ia lalu mengompres luka yang berada di pelipis, pipi, hidung, hampir seluruh wajahnya Liu terluka. "Kenapa kamu bisa begini ?" Tanya Pin yang dibalas kebisuan.

#

Pin mencari buku untuk menyelesaikan tugas biologi, namun buku tersebut terhimpit dan agak sulit untuk mengambilnya, dengan tenaga yang agak berlebih dari biasanya Pin berusaha mengambil buku tersebut, buku dapat terambil, hanya saja buku yang berada di sebelah kiri maupun kanan buku biologi tersebut ikut terjatuh. "Huh..."

Segera Pin membereskan buku yang berserakan di lantai, "Aku bantu." Pin mendongak menatap siapa gerangan yang mau membanntu dirinya, sangat terkejut, ternyata itu adalah Tan !

Tan tersenyum, "Hai Pin !" Sapa Tan padanya, sedang Pin masih terpaku pada apa yang ditatapnya kini, Tan. "Oh, hai Tan !"

Buku yang berserakan dapat dengan cepat dibereskan karena bantuan Tan, "Terima kasih, Tan !" Tan menoleh, "Sama-sama." Tan melihat buku yang dipinjam oleh Pin, "Tugas dari Bu Sae, ya ?" Tanyanya. Pin mengangguk, "Dari mana kamu tahu ?". "Buku yang kamu pegang, aku juga mempunyai tugas yang sama." Setelah itu mereka berpisah di koridor.

#

Liu tersadar di hari kedua ia sudah tak sadarkan diri, dan betapa terkejutnya ia karena kini ia berada di tempat yang asing, "Dimana aku ?"

Ckreeekkkk, suara deritan pintu membuat Liu menatap ke arah pintu, Pin terkejut, hampir saja ia menjatuhkan minuman dan makanan yang dibawanya. "Ah, hampir saja, kau mengagetkanku !" Sehabis berkata demikian, Pin menunduk.

"Aku ada dimana ?" Tanya Liu pada Pin. "Oh, uh, ii .. itu kamu ada di kost-an aku." Jawab Pin sedikit terbata.

Liu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, "Terima kasih sudah merawatku." Ucap Liu tiba-tiba. Pin menatap bingung pada Liu. Lalu tersadar dengan nampan yang dibawanya berisi makanan dan minuman, "Oh ya, silahkan kamu makan dulu, kamu sudah dua hari tidak sadarkan diri, pasti sangat lapar." Liu mengangguk.

"Sekali lagi terima kasih karena telah merawatku." Liu membungkukkan badan. Pin gelagapan, "I.. iya sama-sama." Jawabnya, terbata. Liu menatap Pin tepat dan serius, Pin gelagapan lagi akan tingkah Liu yang tiba-tiba. Tak lama setelah itu, Liu berjalan dan menghilang di ujung gang.


#

"Kemana saja kau ?" Seseorang laki-laki menyentuh bahu Liu, Sian namanya. Liu tak menjawab. "Ah, baiklah-bailah, aku tahu kau ada urusan, baiklah-baiklah aku mengerti ketua." Lanjutnya, ia mengerti ketika Liu tak menjawab, berarti ia tak boleh mencampuri urusan Liu.

"Aku sudah melihat rekaman duelmu dengan siswa Schuola, kau tahu ? kau sangat keren ketua !" Lagi, Sian mengoceh pada Liu yang ditanggapi senyuman datar olehnya.

"Ah, apa kau mau memakan atau meminum sesuatu ketua ?" Tanya Sian kehabisan akal.

Liu menggeleng, "Baiklah, kalau begitu aku makan dulu, siang ketua !" Jawabnya lalu segera pergi.

"Ah, kenapa ketua begitu dingin terhadapku !" Ucapnya setelah agak jauh dengan Liu.

#

Bu Sae masuk ke kelas dengan tampilan yang rapih, anggun, serta aura pemimpin yang sangat kental seketika siswa maupun siswi menjadi diam dan fokus. "Pagi, silahkan kumpulkan tugas di sini." Ucap Bu Sae tanpa basa-basi seraya menunjuk tempat untuk mengumpulkan tugas.

Tak lama, siswa maupun siswi segera mengumpulkan tugas mereka.

"Baik, hari ini kita akan membahas mengenai gangguan sistem peredaran darah." Bu Sae menuliskan di papan tulis lalu memberikan materi dengan power point, sedang siswa mendengar dengan seksama.

"Gangguan pada darah dan sistem peredaran darah dapat terjadi karena kerusakan, keturunan dan faktor lainnya. Macam-macam dari gangguan tersebut antara lain Anemia, leukimia, hipertensi, hipotensi, hemofil dan lainnya. Siapa disini yang sudah pernah mendengar atau tahu beberapa gangguan pada sistem peredaran darah yang sudah saya sebutkan ?" Tanya Bu Sae pada siswanya.

Rin, sang ketua kelas menjawab, "Saya Bu Sae."

Bu Sae melihat ke arah siswi nya, "Oke Rin, silahkan menjawab.".

Rin mulai menjawab, "Salah satu penyakit yang akan saya jawab adalah anemia, anemia adalah penyakit kekurangan darah." Jawabnya singkat

Bu Sae tersenyum menghargai jawaban siswinya, "Bagus Rin, tepat. Terima kasih. Siapa lagi yang mau menjawab ?" Tanya Bu Sae lagi pada siswanya. Bu Sae mengedarkan pandangan pada seluruh siswa maupun siswinya namun tak ada yang berniat menjawab.

"Sudah tak ada ? baiklah kita bahas bersama." Bu Sae memusatkan konsentrasinya pada power point, "Baiklah, gangguan sistem peredaran darah yang pertama akan kita bahas adalah anemia, yang tadi sudah dijawab oleh Rin. Anemia adalah penyakit kekurangan darah yang disebabkan oleh kekurangan zat hemoglobin dan zat besi. Apa itu zat hemoglobin dan zat besi ?" Bu Sae kembali bertanya pada siswanya. Tapi tidak ada yang menjawab, "Tidak ada yang tahu ? Baiklah, catat itu PR kalian." Para siswa mengeluh namun tetap mencatat tugas mereka.

"Selanjutnya, Leukimia atau bisa disebut dengan kanker darah, leukimia merupakan kelainan sistem peredaran darah yang disebabkan oleh pertumbuhan sel darah putih atau leukosit yang tidak terkendali. Sehingga, sel darah putih berlebih dan memakan sel darah merah. Sampai disini sudah mengerti atau ada yang ingin ditanyakan ?" Tanya Bu Sae.

Mio mengacungkan tangannya, "Baik Mio, apa yang mau kamu tanyakan ?"

"Jika sudah terkena kanker darah apa bisa sembuh, Bu Sae ?"

Bu Sae tersenyum, "Penyakit kanker darah bisa disembuhkan dengan melakukan pengobatan, namun melalui pemeriksaan terlebih dahulu, pemeriksaan tersebut biasanya dilakukan dengan mengambil darah seorang penderita leukimia. Jika setelah dilakukan pemeriksaan, menunjukkan bahwa ia terkena leukimia, maka akan dilakukan pengobatan sebagai berikut, yaitu kemoterapi, kemoterapi akan berperan penting untuk membunuh dan mengatasi sel kanker yang telah menyerang sel darah, kemoterapi dapat dilakukan dengan waktu yang berbeda-beda tergantung tingkat keparahan dari kanker yang dideritanya, lalu ada radioterapi, jika kemoterapi membunuh atau mengatasi sel kanker, kalau raditerapi akan menghambat serta dapat menghancurkan bibit dari sel yang akan menyebabkan kanker. Itu beberapa cara penyembuhan kanker darah." Tepat setelah menjawab pertanyaan, bel tanda selesainya pelajaran biologi pun berbunyi, "Baiklah, karena jam mengajar saya sudah berakhir, kita akhiri pelajaran hari ini, jangan lupa untuk mengerjakan PR, kita lanjut minggu depan." Setelah mengatakan itu Bu Sae meninggalkan kelas.

#

?

  • view 117