Cinta yang Seharusnya #10

amallia dewanty
Karya amallia dewanty Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 April 2016
Cinta yang Seharusnya #10

Sian menghampiri Cha yang menyeruput cup tea di tangan kanannya, "Hai." Sian tersenyum. Cha menoleh sekilas ke arah Sian, "Hai." jawabnya singkat.
"Kau masih marah padaku ?"
"Tidak, aku tidak marah." Jawab Cha tanpa mau melihat ke arah Sian.
"Lalu ? Kemarin kau terlihat ... Entahlah, aku merasa ada yang berbeda denganmu." Ucap Sian lagi.
Cha diam, tak ada tanda-tanda ia mau menjawab pertanyaan Sian.
"Cha, aku bertanya padamu." Suara Sian terdengar frustasi.
Cha menatap tajam pada Sian, "Apa yang ingin kau dengar dariku ? Bukankah kau juga tak akan mendengarku ? Jadi, kalimat apa yang ingin kau harapkan keluar dariku ?"
Sian terdiam merasa bersalah pada Cha, "Aku minta maaf Cha padamu, karena aku mengecewakan mu, perempuan yang peduli padaku. Aku ingin ... Kita seperti kemarin, ke kantin bersama, bercanda. Aku ... Nyaman bersamamu." Sian pun tak tahu, segampang itu ia mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Cha, ia takut-takut melihat ekspresi Cha, namun ia memberanikan diri melihat manik mata Cha yang terbelalak mendengar penuturannya, membuatnya berfikir apakah Cha tambah marah padanya? Seketika perasaan itu hadir membuat Sian sedikit menyesal. Sian menunduk lagi, siap menerima kemarahan Cha selanjutnya hingga Cha memeluknya, nyaman. Sian tak membalas hanya mengerti bahwa Cha telah memaafkannya.

#

Pin berjalan menuju Abenteur bersama Tan sesuai janji mereka kemarin di perpustakaan.
"Aku selalu merasa Abenteur memiliki daya tarik yang membuatku ketagihan mengunjunginya." Ujar Pin seraya membayangkan suasana Abenteur yang cozy. Tan ikut tersenyum dan merasa ikut senang. "Begitukah ?"
Pin mengangguk dengan semangat, "Ya, dan Abenteur menjadi salah satu tempat untuk kongkow yang asyik, Cha pun mengakuinya."
Tan kembali tersenyum namun kini sedikit terkikik dengan ucapan Pin yang menjelaskan betapa dekatnya ia dengan Cha, sahabatnya. "Kau tahu Pin ? Kau dan Cha seperti perangko dengan surat, surat tidak akan lengkap dengan perangko dan perangko seperti kehilangan fungsinya jika tak ada surat."
Pin tergelak, "Kau bisa saja membuat perandaian untuk aku dan Cha."
Mereka mengobrol begitu asyiknya hingga tak sadar jika mereka telah sampai di Abenteur. Pin dan Tan sama-sama tersenyum, selalu baik Pin maunpun Tan merasa kebersamaan mereka selalu menyenangkan.

#

Liu bertemu dengan kepala sekolah hari ini setelah kemarin membuat janji dengan beliau.
Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat, Liu lalu berdehem.
"Saya langsung ke intinya, maksud dan tujuan saya kesini adalah meminta bantuan berupa support dari sekolah untuk menghentikan pertikaian yang sudah lumayan lama terjadi diantara dua sekolah."
Kepala sekolah menatap Liu tajam, "Support bagaimana yang kamu maksud ?"
Liu diam, "Saya ingin bapak? membuat sebuah pertemuan kedua belah pihak sekolah, untuk mendapatkan keputusan terbaik mengenai hal ini."
"Kau sudah sadar dengan perbuatan salahmu itu ?"
"Ya, dan saya ingin memperbaikinya."
Kepala sekolah yang menangguk mafhum mengerti, "Baiklah. Saya akan membuat janji dengan pihak independent? untuk membicarakan ini."
Liu tersenyum kecil, "Terima kasih. Saya undur diri." Liu berdiri lalu pamit pada kepala sekolah.
"Apa yang membuatmu berubah Liu ?" Tanya kepala sekolah sebelum Liu benar-benar meninggalkan ruangannya.
Liu berhenti lalu menoleh, "Saya merasa bosan dengan kegiatan itu." Tanpa memberi penjelasan lebih Liu meninggalkan kepala sekolah dengan ketermanguannya.

#

"Kau mengejutkanku !" Ucap Pin yang baru saja tiba dirumahnya lalu melihat Liu yang muncul dari arah berlainan dengan tiba-tiba.
Liu diam tanpa menjawab sepatah kata pun.
Pin mengehela nafas, Liu memang selalu seperti itu. Ia lalu membuka pintu dengan Liu yang mengikutinya masuk.
-
Seperti biasa, Liu duduk di ruang tamu lalu Pin menyuguhkannya secangkir teh.
"Aku ingin makan siang denganmu." Ucapnya tanpa ekspresi dan datar.
Pin menghela nafas, "Oke, aku masakkan yang ada saja ya, aku sedang menghemat." Pin berlalu ke dapur membuatkan sesuatu untuk Liu. Saat membuka kulkas, yang ada hanya nugget, beberapa potong ayam dan beberapa butir telur serta bumbu-bumbu dapur.
Tanpa diduga, Liu sudah ada di belakang Pin. "Ayo kita berbelanja."
Pin terkejut, "Liu, bukankah sudah ku katakan kalau aku akan menghemat ?"

Liu bersidekap, "Memangnya siapa yang memintamu untuk membayar ?"

Pin menganga, lau segera menagtupkan bibirnya, ingin menjawab namun Liu sudah memotongnya dengan kembali berkata, "Aku akan membayarmu untuk setiap makan siangku. Aku akan selalu makan siang disini, sebagai gantinya aku akan membayarmu dan membelanjakan kebutuhanmu." Lanjut Liu karena mengerti arti tatapan Pin.
"Liu itu..."
"Ayo.." Ajak Liu, selalu tanpa penolakan.
-
Liu dengan semangat memilih berbagai macam bahan makanan, Pin sampai-sampai terbelalak melihat Liu yang membeli apa saja yang ia lewati.
"Liu, tunggu." Liu lalu menoleh pada Pin. Mengangkat sebelah alisnya.
"Benar kau ingin membeli semua ini ?"
Liu mengangguk sedang Pin mengangakan mulutnya.
"Uhm, bolehkah aku memberi saran padamu ?" ucap Pin takut-takut.
Liu melingkarkan tangannya di depan dada semakin membuat Pin mengekerut.
"Katanya kau ingin bilang sesuatu ?" Tanya Liu.
"Uhm, tidak jadi." Lalu Pin berlalu dari hadapan Liu.
Liu menaikkan alisnya tanda tak mengerti lalu kembali memilih barang yang akan ia beli tanpa sadar barang-barang yang sudah ia beli sudah hampir memenuhi troly belanjaan.

#

"Aku merasa baik Tan maupun Liu memiliki perasaan pada Pin." Cha mengatakannya sembari mencelupkan kaki dan memainkannya di dalam air. Hal serupa juga dilakukan oleh Sian yang berada disampingnya.
"Aku rasa ya, ketua menyukai Pin. Tapi entahlah dengan Tan. Aku tak mengerti, mereka jauh berbeda, tapi bukan berarti ketua tak baik."
"Maksudmu ?" tanya Cha tak mengerti.
"Tidak jarang apa yang kamu lihat tidak seperti kenyataan atau yang sebenarnya."
"Jadi maksudmu Tan bukan orang yang baik ?" Cha semakin penasaran. Sian lupa kalau Cha adalah perempuan dengan sejuta rasa penasaran.
"Aku tidak bilang seperti itu." Sian menggaruk tengkuknya gugup.
"Kau menyembunyikan sesuatu dari aku. Aku tahu itu, Sian." Cha menatap dengan tajam ke arah Sian membuatnya semakin gugup.
Sian menghela nafas, sepertinya ia tak sanggup lama-lama menyimpan sesuatu dari Cha, ia merutuki kebodohannya sendiri akibat mulutnya yang tak dapat mengerem jika sedang berbicara dengan Cha.
"Aku sedang menunggu jawabanmu Sian." Ucap Cha dengan nada tak sabar.
Sian menghela nafas, "Aku tak yakin jika baik untukmu mengetahui hal mengenai ketua dan Tan."
Cha menyipitkan matanya, semakin penasaran namun sedikit mengerti ada sesuatu atau ada hal yang berkaitan setidaknya Liu dan Tan pasti mengenal satu sama lain.
"Aku memang belum pernah melihat Tan dan Liu saling mengobrol atau paling tidak saling menyapa, hanya saja dari ucapanmu, sepertinya Liu dan Tan pasti mengenal satu sama lain."
Crap, Sian menegang di tempatnya. Cha yang melihat reaksi Sian semakin meyakini dugaan sementaranya tadi.

#

Pin sangat kelelahan karena Liu benar-benar sangat banyak belanja hari ini, benar-benar banyak. "Liu, aku bingung mau memasakkan apa untukmu? kau tahu ini benar-benar sangat banyak !"

Liu mengerutkan kening dan meletakkan tangan kanannya di dagu, terlihat berfikir, "Terserah, apapun masakanmu akan aku makan." Jawabnya lalu berlalu dan duduk di sofa.

Pin menghela nafas kesal, "Baiklah." Jawabnya lalu melenggang ke dapur.

Liu menatap punggung Pin dari arah belakang dan tersenyum, karena ia akan selalu punya alasan untuk berdekatan dengan Pin.

#

"Jadi, Liu dan Tan .." Sian segera membekap mulut Cha yang berteriak histeris mendengar cerita dari Sian.

"Ssstt.. Kau bisa tidak menanggapi hal ini dengan wajar ?"

Cha kembali ingin berteriak namun tangan Sian membekap mulut Cha lebih erat dibanding sebelumnya. "Kau bisa bersikap wajar atau aku tidak akan melepas tanganku di mulutmu ?"

Cha mengangguk, Sian melepaskan tangannya.

"Jadi, Liu dan Tan ...?"

#

?

  • view 95