Bui Menuju Surga

Bui Menuju Surga

Amalina ILma
Karya Amalina ILma Kategori Agama
dipublikasikan 28 April 2018
Bui Menuju Surga

Bicara soal Pondok Pesantren kebanyakan hanya dikaitkan seputar kegiatan ubudiyah ataupun pelajaran-pelajaran agama saja. Banyak orang mengira bahwa di pesantren yang ada hanyalah ibadah-ibadah yang meliputi shalat bejamaah, ngaji Al-Qur’an dan belajar agama. Hanya seputar kegiatan itu setiap hari. Dan memang benar, di pesantren mengedepankan kualitas ibadah yang baik agar para santri tumbuh menjadi pribadi yang agamis. Namun lebih dari itu, masih ada banyak lagi kegiatan yang para santri lakukan di luar kewajiban beribadah mahdloh.

Di sini para santri bisa mendapatkan kualitas plus plus, artinya di pesantren santri tidak hanya belajar agama namun juga ilmu umum. Dewasa ini, banyak pesantren-pesantren yang melebarkan sayapnya dengan mendirikan yayasan sekolah formal, mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Hal ini tidak bukan karena kesadaran atas pentingnya mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu umum agar dapat terkoneksi dengan baik sehingga dapat saling melengkapi uuntuk menjawab tantangan zaman. Pada zaman ini, yang oleh Marshall McLuhan dalam bukunya The Medium is The Massage, menyebutnya sebagai zaman kacau, sangat diperlukan pemahaman realitas yang tidak setengah-setengah, maksudnya setiap individu hendaknya dapat melihat dan menggunakan perspektifnya tidak hanya dari satu sudut pandang saja. Kita bahkan merasakan sendiri bagaimana media dan teknologi berkembang saat ini. Bagaimana media dengan dahsyatnya dan dengan mudahnya mempropaganda suatu isu sehingga menarik banyak orang untuk mempercayai isu tersebut. Akibatnya, berita bohong dengan mudahnya dipercaya, bahkan dapat meracuni otak-otak generasi muda kita. Untuk itu, pesantren berperan memfilter tindakan-tindakan tersebut supaya para santri tidak mudah terpengaruh dengan sesuatu yang belum jelas kebenarannya tersebut. Dengan memadukan ilmu agama dan ilmu umumnya, santri dapat memilah dan membedakan mana yang baik dan mana yang hoax.

Di samping itu, pesantren juga memfasilitasi kegiatan bahasa yang umumnya meliputi bahasa inggris dan bahasa arab, agar para santri tidak hanya terpaku dalam bahasa keseharian saja, namun juga membekalinya dengan kemahiran bahasa untuk memudahkannya berkomunikasi dengan sumber-sumber asing dan menggali wawasan dari sumber yang global.

Tak kalah dari itu, pesantren mencetak output-output handal yang tak hanya paham agama namun juga paham tentang masalah-masalah dalam Islam yang terjadi secara kontemporer dan kekinian. Melalui majelis Bahtsul Masail, santri mengambil permasalahan yang terjadi pada era kekinian ini untuk dipecahkan masalahnya dan ditentukan hukumnya berdasarkan rujukan dari Al-Qur’an dan Sunnah. Maka dalam prakteknya ini, kaum santri dinilai tak hanya unggul dalam segi spiritualitas, namun juga unggul dalam intelektualitasnya.

Di luar itu semua, pesantren secara tidak langsung membentuk pribadi yang dinamis dan tidak individualis. Betapa tidak, konsep pesantren yang bermodel asrama menjadikan para santri mudah dalam bergaul, mudah dalam menghargai perbedaan. Dari sini muncullah sikap toleransi kepada sesama dan nilai-nilai bhineka tunggal ika, karena di pesantren tak hanya terdiri dari satu etnis saja, berbagai santri dari seluruh penjuru Indonesia terkumpul dalam suatu lingkungan yang sama, budaya pesantren yang sama, yang mau tidak mau menjadikan mereka menerima dan mampu beradaptasi dengan orang-orang yang berbeda-beda. Dan hal ini merupakan suatu modal yang baik untuk kelak pada waktunya terjun ke dalam masyarakat yang heterogen.

Dan yang paling penting, pesantren mengajarkan akhlak yang baik. Di sini santri belajar tata krama menurut agama, adab dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari. Para santri percaya dengan adanya keberkahan. Mereka sangat menghormati para guru dan Kyai nya karena dari guru dan kyai terdapat ridlo Allah SWT. Penghormatan ini tak berhenti sampai di mana santri itu usai untuk mondok saja, namun sampai akhir hayatnya santri yang baik akan terus mendoakan guru-guru dan kyainya.

 

 

 

Krapyak, 30 Desember 2017

By : Ilma Amalina Mashuri

  • view 40