Jangan Liat Jilbabku, dong.

Amalina ILma
Karya Amalina ILma Kategori Lainnya
dipublikasikan 24 November 2017
Jangan Liat Jilbabku, dong.

Era modern ini banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi di muka bumi. Perbaruan-perbaruan bermunculan, begitu pesat sampai tak terasa rasanya kemajuan-kemajuan itu telah mempengaruhi kita berapa lama. Jika menilik ke belakang, tau-tau kok diri ini sudah berubah dalam sekian hal, entah berapa lama dan sejak kapan. Saya sendiri merasakannya, pengaruh trend-trend dan gaya hidup yang masuk ke dalam perspektif juga menjadikan hidup lambat laun menjadi hedonis. Memang berbeda rasanya, dari yang dulu tingkat kepuasan terhadap makanan cukup diukur dengan masakan ibu. Dan tentu seiring bertambahnya usia, kerap kali kita teriming-iming untuk memuaskan lidah dan hasrat foto yang instagramable, walau sekedar jajan es teh di café yang lumayan mahal. Begitu juga dengan style dan kebutuhan, tak sedikit perempuan yang tergiur dengan iklan-iklan endorsement pakaian maupun perawatan yang ditawarkan mulai dari artis-artis ibukota sampai artis-artis lokal. Kebanyakan wanita ingin terlihat hits dan tidak ketinggalan zaman, bahkan trend hijab pun sekarang sudah menjamur dan berhasil menggerakkan perempuan-perempuan untuk turut merubah dirinya dalam balutan selembar kain. Style hijab yang pada mulanya biasa saja sekarang sudah banyak sekali variasinya, dari yang menutup dada saja sampai menutup mata kaki. Dan semua style yang ada itu mau tidak mau memang membuat pemakainya terlihat lebih cantik, bukan. Apalagi yang jilbabnya besar-besar, lebih terlihat anggun nan sholehah, sedap jika dipandang.

Namun apakah tujuan dari perempuan berhijab itu hanya agar sedap untuk dipandang atau menutup aurat seperti yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an? Niatan yang mulian ini meskipun datang dari hati ataupun datang dari bawaan lingkungan dan orang sekitar tetaplah sebuah usaha untuk membentuk pribadi yang lebih baik akhlaknya. Meskipun dalam fakta yang saya temui, tidak semua perempuan berjilbab besar yang disebut dengan ukhti-ukhti ini memiliki akhlak yang lebih baik daripada mereka yang berjilbab biasa dan yang tidak berjilbab sekalipun. Saya kerap menemui kawan yang bising, terlalu asyik dengan dunianya sendiri, tanpa mempedulikan orang lain disekitarnya, Dia mungkin tidak tau kalau perbuatannya mengganggu kenyamanan orang lain. Atau yang terlalu cuek dengan kebersihan dirinya sendiri dan lingkungan yang ia tinggali sehingga membuat orang lain turun tangan untuk membersihkannya, tanpa merasa bersalah. Bahkan ada yang berani melakukan pelanggaran syar’i dengan lawan jenis tentunya dengan atau tanpa taktik.

Seperti ungkapan mbak Kalis Mardiasih, terlalu remeh menyertakan kesalehan dengan selembar kain tipis di kepala. Karena memang, don’t judge people by it’s cover itu saya rasa benar adanya. Dalam hal ini bukannya saya senang membeberkan stigma yang saya temui di sekitar saya ataupun merasa diri saya paling suci. Memang dalam agama pun diajarkan untuk rajin-rajin bercermin sebelum menilai orang lain. Namun di sini saya hanya bertanya-tanya, mengapa yang berjilbab besar malah kurang menunjukkan adab yang juga besar, ukhti?

  • view 14