Semakin.......

Amalina ILma
Karya Amalina ILma Kategori Renungan
dipublikasikan 27 Februari 2017
Semakin.......

Kita semua tahu bahwa sama sekali tak ada yang sempurna di dunia ini. Yang perlu dilakukan kita sebagai manusia adalah selalu mawas diri dan memperbaiki diri. Yang utama kita perlukan untuk itu tentu saja adalah iman. Iman bukan sekedar untuk diakui dan sebagai identitas agama di kartu tanda penduduk, jauh sekali artinya daripada itu. Karena orang yang benar-benar beriman akan berhati-hati terhadap sekecil apapun perbuatannya baik menyangkut prasangka, hati maupun tindakan. Saya bukan mau tausiyah, namun saya pikir ada baiknya juga nulis hal semacam ini, karena ini bagian dari satu kegelisahan dari kegelisahan saya yang lain. 

Orang jawa bilang, hidup itu wang sinawang. Yang berarti saling mengamati satu sama lain. Hal ini tentu saja menghasilkan dampak positif dan negatif. Positifnya, melihat orang lain semakin maju dan sukses kita dapat mengambil pelajaran dan termotivasi untuk itu. Lebih dari itu, kita akan semakin menghargai dia sampai-sampai menjadikannya sebagai barometer kesuksesan kita. Negatifnya, tak sedikit pasti dari kita merasa iri dengan apa yang ia raih. Mereka-reka cara-caranya sampai 'kok bisa' seperti itu, bahkan membenarkan alasan kenapa diri kita tidak seperti dia. Akibatnya kita semakin pesimistis dan  terlalu minder untuk melangkah. Padahal itu semua adalah takdir yang ia lalui dan kita lalui. Sesuatu yang ia usahakan dan sesuatu yang mungkin terhalang untuk kita usahakan. Klise nya, kita selalu punya dua pilihan di dunia ini. Tinggal pilih kanan atau kiri, tentu saja harus berdasarkan pemikiran matang dan yakin, berserah diri pada Yang Maha Memberi. 

Banyak orang di dunia ini yang sukses menggapai mimpi-mimpinya. Setelah itu memproklamirkannya pada media,kabar itu  menembus dimensi maya dan seperti kilat menyebar ke berbagai lapisan sosial. Tentu saja orang-orang akan turut merasa bahagia dan mendoakan yang terbaik untuknya. Karena kita manusia,punya etika untuk saling mendoakan satu sama lain. Sudah semestinya kita seperti tiu, bukan. Dalam menggapai mimpi tentu saja tidaklah instan. Ada berbagai bumbu di dalamnya, ada berbagai rintangan, hambatan dan kejutan. Seyogyanya tidaklah banyak mengeluh, tidak mengadukan segala sesuatu ke dunia, terlebih dunia maya, baik itu susah ataupun senang. 

Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam karyanya menyebutkan : Idfin wujuduka fi ardlil humuli fama nabata mimma lam yudfan la yatimma nitajuhu. Maknanya adalah, Kuburlah wujudmu (sembunyikan eksistensimu) pada bumi yang tandus. Sembunyikan amalmu dari pandangan orang banyak. Apalagi kalau masih tahap belajar, ibarat biji yang baru mau tumbuh, jangan pamer karena itu akan merusak tumbuhnya biji tersebut. Hal ini bertujuan agar tak tumbuh rasa sombong di hati kita. Karena kita harus sadar, semua yang kita punyai itu milik Allah SWT yang dititipkan. Tidak sepatutnya kita banggakan secara berlebihan. Seperti kata orang bijak, Rendahkanlah hatimu selagi masih bisa rendah, serendah-rendahnya. Agar tak ada lagi yang mampu merendahkannya lebih rendah lagi. Perasaan riya', ujub, pamer, adalah penyakit hati yang pelan-pelan akan merusak kita. Naudzubillahimindzalik.

Jogja, 27 Februari 2017. *Nulis di depan cermin sambil memandangi diri sendiri*

  • view 96