Razan

Amalina ILma
Karya Amalina ILma Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Februari 2017
Razan

Malam ini langit menurunkan berkahnya. Segerombol air turun riuh tak beraturan. Terdengar menggemuruh di atas tanah yang sudah dua bulan ini tak diberkahi hujan dari langit. Tanah yang haus akan basuhan air dari telaga-Nya.

Hampir dua jam hujan lebat ini turun.dan hampir dua jam pula aku terduduk merangkul lutut sendiri dalam dingin yang menggigil. Dua jam yang lalu ayah mengusirku dari rumah. Masalah anak muda. Hanya karena kemarin malam kakakku ternyata membuntutiku ketika aku pergi ke diskotik bersama teman-temanku. Ayah marah besar. Dan langsung mengusirku dari rumah itu tanpa membekali apapun. Bahkan, aku pun tak tahu apakah dia masih akan menganggap aku sebagai anaknya atau tidak. Sebelum pergi,segala pemberian dari ayah disita. Mulai dari jam tangan, laptop, ipod, bahkan hp pun ditariknya kembali. Aku tinggal pasrah menerima kenyataan ini. Andai mamaku masih ada, ia pasti tak akan membiarkan aku diusir seperti ini. Dan kakakku, dia tersenyum lebar. Karena mungkin dia tak pernah suka dengan kehadiranku di dunia ini.

Ku akui, aku layak mendapatkan semua ini. Karena aku memang seorang brandalan. Tanpa sepengetahuan ayah dan kakak, kerjaanku adalah biasa mangkal dengan teman-teman brandalanku untuk menodong orang yang lewatdi jalan itu. Setelah puas, kami berfoya-foya di diskotik sampai malam. Kadang aku pun tidak pulang. Aku biasa bilang pada ayah bahwa ada tugas kampus yang harus ku kerjakan di rumah teman, maka dia pun tak curiga. Sampai malam itu semuanya terungkap. Aku tak dapat menyangkal lagi. aku keluar dari rumah itu tanpa membawa apapun. Hanya satu tas kecil berisi baju-baju. Dan kali ini aku benar-benar menyesal. Ibuku pasti menangis menyaksikan diriku yang teramat kotor ini. Maka detik ini, saat berkah langit turun mengguyur tubuhku, air mataku pun turut deras mengucur.

 “dimana aku ?” tanyaku melihat suasana di sekelilingkku berubah

“tenang saja, kamu di rumah kami. Sudah satu hari kamu pingsan. Kemarin malam kami menemukanmu tergeletak di jalan, dan badanmu basah kuyup.” Jelas dua orang yang sepertinya suami istri itu.

“Oh, terimakasih” ujarku sambil beranjak

“Sebaiknya kamu istirahat dahulu. Badanmu masih lemah.”saran ibu itu

“Tidak, terima kasih. Saya harus pergi sekarang.”

“Tapi kamu masih lemah,nak”

“Saya tidak ingin merepotkan” terangku

“Tak apa. Oh ya,nama kamu siapa?” Tanya bapak itu

“Kemal” jawabku singkat

“Nama saya Abbas, dan ini istri saya”

Aku tersenyum membalasnya.

“Di mana rumahmu?”

Aku tak menjawab.

“Ya sudah,kalau kondisimu sudah pulih, mang Ujang akan mengantarmu pulang”

Aku hanya tersenyum.

“Ya Allah…”rintihku dalam hati

 Esoknya mang ujang mengantarku. Tapi aku menyuruhnya mengantar sampai di ibukota saja. Setelah mang Ujang pergi, aku hanya bisa menyapu pemandangan di sekelilingku. Tak ada tujuan. Tak ada uang. Aku terduduk lagi di sebuah emperan toko yang tutup. Menelaah sisi kehidupanku. Aku yakin, ada rencana Allah dibalik semua ini.

Cik…cik..icik….ada yang marah hei waktu ku goda…

Seorang pengamen banci mendekat ke arahku. Kemudian berhenti menyanyikan lagunya.

“Sorree mas ….sedih amat,ganteng-ganteng kok murrung, mau eke hibur?” sapa banci itu.

Aku tak menanggapinya. Ku diamkan saja banci itu, kumaki-maki dia dalam hati.

“Eike yakin, pasti lagi ada masalah ya…”

“Pergi kamu dari sini”bentakku

Dia pun pergi. Ternyata aku masih saja keras.

Aku masih seperti dulu. Aku merintih lagi, melihat di pojok jalan ada segerombolan penodong, mirip denganku dulu. Aku mendesah, Ingin rasanya aku bertobat. Tak sadar, sebuah mobil berhenti di depanku, seorang laki-laki keluar dan sepertinya aku mengenalnya.

Astaga!Dia laki-laki yang menolongku kemarin,sontak aku langsung berdiri.

“Kemal, sedang apa kamu disini?” Tanya pak Abbas

Aku tak kuasa menyembunyikannya lagi. Karena dia orang baik, kuceritakan semuanya.

“Ikut saja kerumah saya” ajak pak Abbas

“Tidak pak, terimakasih.”

Tapi pak Abbas memaksa, aku tak dapat menyelanya lagi.

Sesampainya di sana, pak Abbas menawarkanku sebuah tempat tinggal. Sebuah kontrakan kecil dengan sewa murah. Aku pun menerimanya. Kemudian ia juga menawarkanku pekerjaan di percetakannya, karena dia tahu,aku seorang mahasiswa. Ya,mahasiswa yang berhenti ditengah jalan. Tapi paling tidak,aku paham soal pekerjaan ini.

Dua bulan berlalu. Aku pergi ke rumah pak abbas untuk membayar kontrakan. Namun pak Abbas baru keluar kota, jadi istrinya yang menerimaku.

Di sela-sela obrolanku dengan istri pak abbas,seorang bocah laki-laki lewat di hadapanku. Dia berlari sambil mengepak-epakkan kedua tangannya dan berteriak semaunya,sesekali menabrak sofa. Jika dilihat-lihat umurnya sekitar 5tahun.

“Sayang, jangan lari-lari. Sini duduk sama mama” pinta bu Abbas

Namun bocah tadi tak menghiraukan mamanya.

“Itu anak saya. Namanya Razan. Dia menderita autisme.” bu Abbas menunduk

Aku melihat bocah itu iba, menghela nafas. Bocah itu melihatk, berhenti bergerak. Tersenyum padaku, dan berlari ke atas.

“Luar biasa, dia tersenyum padamu, Kemal” kata bu Abbas sambil menangis bersyukur

Entah apa yang ku rasakan sekarang. Autisme. Penyakit mengerikan itu. Aku tahu.anak-anak autis tidak dapat berkomunikasi selayaknya anak-anak lainnya. Kelainan ini membuat mereka berbeda. Mereka seperti tidak peduli dengan dunia ini, hanya dunia mereka sendiri. Mereka sering memberontak tanpa sebab, tertawa tanpa sebab, menangis tanpa sebab. Aku tahu ini semua karena almarhumah mamaku dulu pernah juga menangani anak autis. Dan demi mamaku, aku ingin membuat hidup Razan menjadi lebih baik.

Selepas ngaji di pesantren, malam itu aku pergi ketempat temanku kuliah dulu. Dia mahasiswa kedokteran. Kebetulan rumahnya tak begitu jauh dari pesantren tempatku mengaji tiap malam. Aku bermaksud untuk bersilaturahim sekaligus menanyakan tentang masalah autisme.

“ Assalamualaikum”                                                                                                                

“wa`alaikumsalam. Kemal? elo Kemal?”

“Iya Fan, masa` kamu lupa,”

“Astaga, kesambet apaan nih? Tumben maen kesini. Pake baju ginian lagi”

“Nggak usah heran bro, gua udah insaf”

Fano hanya ber-oh saja. Setelah kuutarakan maksudku, dia menjelaskan tentang autisme panjang lebar. Yang terpenting menghadapi anak semacam ini adalah dengan bersabar.

Lalu aku pun pamit.

Malam selanjutnya langit kembali menurunkan berkahnya, dan saat itu aku masih ada di pesantren. Lalu ustadzku memintaku untuk menginap saja di pesantren, dan disini kami bicara banyak.

“Kau bisa adzan?” Tanya ustadz

“aAdzan ustadz? saya tak bisa adzan,” jawabku malu

“Bukannya tidak bisa ,tapi belum bisa. Baiklah,sekarang coba kamu adzan” perintah ustadz

Aku pun agak grogi melafalkan kalimat-kalimat adzan. Setelah ustadz membenarkan sampai empat kali aku mengulangi, akhirnya adzanku sempurna.

“Hmm…merdu sekali suaramu. Mulai subuh nanti kamu boleh mencoba adzan di masjid ini” kata pak ustadz

“Alhamdulillah.”kataku berucap syukur

Sekarang aku tahu, apa yang harus kuberikan pada razan.

Empat minggu berlalu. Empat minggu pula aku berusaha membuat anak ini bisa.setelah dia pulang sekolah dari SLB, aku selalu menemuinya. Karena sudah cukup lama juga anak ini berobat dan terapi di mana-mana,maka aneh sekali kalau tidak ada kemajuan. Ikhtiar pak Abbas dan istrinya lambat laun membuahkan hasil. Razan sudah lebih bisa berkomunikasi dengan baik meski belum sempurna. Hanya terkadang dia masih suka bertingkah aneh, belum bisa mengontrol diri seperti saat pertama kali aku melihatnya.

Aku merasa hari-hariku sekarang jauh lebih bermanfaat. Kini aku sudah diangkat menjadi direktur di percetakan.aku bisa menabung untuk menyambung kuliahku lagi. Dan yang paling menggembirakan, Razan sempurna melantunkan panggilan Allah sampai kalimat ‘hayya ‘ala ssholah’. Aku selalu bangga ketika dia kusuruh lagi melantunkan panggilan Tuhan.

“Ayo Razan, coba kamu lantunkan panggilan Allah sekali lagi” pintaku

Maka tanpa ragu-ragu dia melantunkan panggilan Allah sampai hayya ‘ala ssholah.dan terus berlanjut. Hingga ia bisa sempurna melafalkannya sampai la ilaha illallah.

Dua bulan kemudian ramadhan tiba. Seperti biasa,di berbagai masjid diadakan perlombaan keagamaan. Aku bermaksud mengikutkan Razan dalam lomba itu, namun istri pak Abbas sepertinya enggan.

“Razan kan bukan anak-anak seperti layaknya, Kemal”

“Tidak usah khawatir bu, insyaAllah dia bisa” kataku

Dan saat yang ditunggu tiba. Dalam lomba adzan ini Razan sempurna membuat orang-orang yang mendengarnya terharu, ibunya saja sampai menangis. Terselip rasa bangga tiada tara di hatiku untuk Razan Fahreza. Dan aku pun akhirnya meneteskan air mata ketika namanya disebut sebagai pemenang. Entah apa yang dirasakan razan sekarang. Di wajahnya tersirat keceriaan yang tak biasanya. Senyumnya merekah indah. Aku bahagia melihatnya, dia berlari ke arahku dan mengatakan ”terimakasih kak Kemal”

Aku memeluknya. Hari ini rasanya aku menang. Akhirnya aku juga bisa merubah diriku, aku yakin mama tersenyum bahagia disana.

Dan Razan pun semakin mahir melantunkan panggilan Tuhan itu. Hingga suatu saat ia meraih prestasi lagi sampai tingkat nasional. Sudah lebih trophy berjejer di rumahnya, juga berbagai penghargaan-penghargaan lainnya. Membuat semua orang bangga padanya. Seorang anak autis yang berkembang dan berprestasi.

 

 Ps : cerpen yang dibuat waktu kelas 2 SMA, dimuat di majalah Aliansi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 84