Memaknai patah hati

Amalina ILma
Karya Amalina ILma Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 3 bulan lalu
Memaknai patah hati

Kita ini manusia. Bukan dewa, bukan malaikat. Ada fase-fase yang harus dilalui dan berbagai resiko yang harus dijalani. Karena kita manusia, kita harus siap menjadi apa yang keadaan tetapkan dalam satuan detik. Banyak kejadian-kejadian tak terduga, banyak peristiwa menghampiri dan banyak tragedi yang mengancam. Begitulah hidup, kalau tak siap, kau akan dilahap. Tak luput dari masalah hati dan perasaan. Ada saja carut-marutnya. Ada pula roman picisannya. Hatimu terbuat dari kasih sayang Tuhan yang tanpa bahan pengawet akan tetap mekar. Di dalamnya terdapat banyak rasa yang beragam, yang siap dimanfaatkan dan diperintah sesuai kehendak tuannya. Dan hebatnya, hati punya pilihannya sendiri, punya pikiran sendiri, namanya nurani. Nurani selalu berbicara dan tak diam begitu saja ketika tuannya salah dalam bertindak. Di dalam nurani, segala kebenaran terkunci, hanya tuannya lah yang dapat membuka kunci tersebut sehingga ia dapat melangkah dengan pasti.

Kau pasti pernah jatuh hati. Rasanya luar biasa, bukan. Segalanya terlihat berbeda dari pandangan, semuanya terasa lebih indah dan menawan. Seperti hatimu yang sedang tertawan, kau dipikat dalam nuansa pelangi yang menari di atas awan-awan. Selanjutnya kau rajut hubungan di atas benang-benang yang kadang jarumnya tak sengaja menusuk tangan. Kau lalui terus rajutan itu dengan harapan dapat menghasilkan sebuah pakaian yang akan kau kenakan hingga akhir zaman. Namun apa daya, kadang sambil tidur atau dengan mata tertutup kau teruskan merajut sampai kau tak sadar darah dengan deras mengucur dari jari dan pergelangan. Rasanya sakit sekali, bukan. Sama seperti patah hati. Ketika egomu ditusuk dengan beringas oleh kekasihmu, maka kemungkinannya ada dua. Pertama, terus mencaci, terus mengumpat, terus menyumpah, karena merasa harga dirimu telah dijatuhkan. Kedua, kembali pulang kepada dirimu, memperbaiki apa yang harus diperbaiki, dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Sudah, tenanglah. Hati dengan sendirinya akan mengalami regenerasi. Seiring berjalannya waktu, kau akan lupa sendiri dengan luka itu. Percayalah bahwa segala hal yang kau terima dengan lapang dada, akan kembali kemanfaatan kepada dirimu sendiri. Ingat pepatah orang dulu, karma itu pasti ada. Jadi tak usah khawatir, dalam agama pun tak ada barang sekecil apapun yang tak dihargai oleh Allah. Bahkan amal perbuatan sebiji dzarrah pun ada harganya. Begitu pula dengan dosa, biar dia yang menanggung dosanya, biar dia yang menanggung balasannya. Kau punya Tuhan dan kau tak sendiri. Tuhanmu tak akan membiarkanmu terus larut dalam kepedihan dan kesedihan, jadi bangkitlah dari hati yang patah itu, bangun lagi pondasi diri yang kuat, tunjukkan pada dunia bahwa kau tak papa.

Karena di dalam patah hati, terdapat kekuatan yang menunjukkan kelebihan diri, berterimakasihlah pada fase patah hati, apabila kau dapat melaluinya dan memperbaiki semuanya, kau akan lebih mengenal siapa dirimu sebenarnya.

 

 

 

 

Dilihat 173