Energi sebuah kata tanya

Amalina ILma
Karya Amalina ILma Kategori Motivasi
dipublikasikan 11 September 2016
Energi sebuah kata tanya

Pada akhirnya, manusia diturunkan di dunia hanya untuk menjawab beberapa pertanyaan.  Salah satu diantaranya adalah tuntutan kepiawaian untuk menjawab pertanyaan "KAPAN". Terutama bagi insan yang semakin beranjak usia. Kata kapan bagaikan bumerang yang siap menyerangnya kapan saja. Dan semakin lama akan semakin malas untuk menjawabnya. Manusia mengalami beberapa fase di hidupnya. Dari masa buaian ibunda, masa kanak-kanak yang menyenangkan, masa remaja yang mendebarkan, masa dewasa yang menentukan, hingga masa tua menunggu jemputan. Setiap jiwa yang berdetak pasti akan mengalaminya dengan fenomena-fenomena yang berbeda-beda. Ketika seorang insan sudah beranjak remaja, menuju dewasa, kebanyakan memilih untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Di dalam masanya ini, pasti timbul pertanyaan "kapan lulus?". Setelah lulus, mereka berkata "kapan nikah?". Setelah menikah mereka berkata "kapan punya anak?". Setelah punya anak satu mereka komentar lagi "kapan si A punya adik". Setelah anak-anak tumbuh besar merea kembali hadir "kapan punya mantu?". Setelah si anak menikah mereka tetap setia bertanya "kapan punya cucu?". Begitu seterusnya, selalu sama. Hanya saja yang patut disyukuri, mereka jarang yang bertanya "kapan meninggal?". Menurut mereka itu pertanyaan keramat yang hanya akan melukai diri sendiri. Maksud 'mereka' di sini adalah para manusia yang hobinya melihat-lihat, pemirsa dari segala peristiwa yang dialami sesamanya. Kita harus selalu siap menghadapi pertanyaan kapan. Tak peduli siapapun kita. kita tak akan pernah bisa selamat dari pertanyaan magis ini. Bagi yang sudah benar-benar siap, dia akan menjawabnya dengan yakin dan menyenangkan. Bagi yang belum, semuanya hanya akan menyisakan sembilu tak terperikan. Pertanyaan "kapan" terasa menyayat hati, melukai perjuangan yang belum usai. Oleh itu, kesiapan lahir bathin tanpa kompromi seharusnya sudah terpatri dalam diri sedari usia dini. Agar kelak tidak mendewasa dalam nestapa pertanyaan "KAPAN".

'

  • view 299