Mulut-mulut Pincang

Amalina ILma
Karya Amalina ILma Kategori Renungan
dipublikasikan 27 Agustus 2016
Mulut-mulut Pincang

Pagi itu rumah nenek ramai. Semua anak cucu berkumpul. Termasuk aku dan keluargaku yang turut serta dalam perayaan yang akan digelar nanti malam. Pagi itu semua anak dan cucu yang berjenis kelamin perempuan berkumpul di dapur untuk membuat jamuan-jamuan hidangan yang akan disajikan nanti malam. Akan banyak tamu yang hadir dari berbagai kalangan, karena acara yang aka digelar adalah tasyakuran sembuhnya kakekku dari penyakit yang selama ini menjangkitnya. Kami sekeluarga bermaksud agar dengan adanya tasyakuran ini semoga keberkahan selalu terlimpah pada keluarga kami. Maka sejak pagi, kami para wanita sudah memulai menyiapkan semuanya. Mulai dari makanan, minuman, dan lain sebagainya. Tak heran jika dapur nenek dipenuhi wanita-wanita dengan seribu mulut, ramai sekali. Seperti layaknya ibu-ibu, mereka asyik ngobrol kesana-kemari. Asyik ngomongin sana-sini.

"Kemana ya bi Rani kok belum keliatan?" tanya bi Asih kepada bi Marni. Aku memanggil wanita-wanita ini dengan panggilan bibi

"Nggak tau tuh kemana sih dia? Jangan-jangan masih tidur" timpal bi Aya. "mungkin dia masih repot sama pekerjaan rumah" timpal ibuku

"Udah jam segini lho mbak, masa belum selesai juga. Anaknya aja udah di sini dari tadi kok. Pasti males-malesan ini orang" bi Asih ngeyel

"Dia itu, bukan kali ini aja ya begini. Ada acara keluarga bukannya bantuin, rumahnya juga deket, deket sama mertua, kok ya kelakuannya kaya gitu" tambah bi Marni

"eee udah biasanya kan mbak, udah biarin aja lah. Dia ini mantu tapi kok serasa ratu" bi Aya tambah kesal

Aku yang menyaksikan semua itu hanya bisa menyimak dan terdiam. Usiaku yang masih muda belum bisa ikut nimbrung pembicaraan mereka. Aku pun hanya bisa berkata dalam hati dan membuat argumen-argumen sendiri. Di depan anak-anak yang tidak hanya aku, mereka ibu-ibu ini mengatai saudaranya sendiri. Bukankah ada hadits yang mengatakan bahwa membicarakan aib orang lain sama saja dengan memakan daging/bangkai saudaranya sendiri? Apalagi ini yang dibicarakan bukan lagi orang lain, tetapi saudaranya. Setidaknya itu pelajaran yang pernah kudapatkan di sekolah. Aku hanya bisa bertanya-tanya, kenapa di saat seseorang itu tidak ada, akan menjadi mudah sekali dibicarakan dan diomongkan orang lain? Bahkan oleh saudara-saudaranya sendiri? Di belakang mereka seperti ini tapi di depan mereka baik dan terlihat manis.

Tak lama bi Rani pun datang. "Maaf ya mbak-mbak ku aku telat, tadi ada tetangga minta bantuan jadi aku harus nolong dia dulu"

"Memangnya ada apa sama tetanggamu Ran?"

"Dia tadi pagi kepleset di kamar mandi, mbak. Dan suaminya udah berangkat kerja jadi aku temani dia dulu"

"ooooh" jawab mereka serempak.

"Yaudah nggak papa, kita juga baru mulai masak-masaknya kok, hehe" kata bi Asih sambil tersenyum

Begitulah drama yang terjadi di dapur yang penuh dengan ibu-ibu bermulut seribu. Ternyata perbincangan dan gosip-gosip ini tak hanya sampai di sini. Sampai sore pun sudah puluhan kasus dan orang yang digosipkan ibi-ibu ini yang tak lain adalah ibu dan bibi-bibiku. Padahal sudah barang pasti mereka tahu, bahwa lisan adalah bagian yang paling berbahaya. Bahwa ghibah adalah perbuatan tercela. Namun apa daya aku sebagai anak kecil hanya bisa diam saja. Tertawa ketika semua tertawa. Aku hanya berharap, kelak ketika dewasa bisa mengontrol lisan yang lentur ini agar tak tercebur dalam pembicaraan yang akan membuat diri kufur.

 

  • view 198