Surat Oleh Pengantin

Amalia Nur Cahyani
Karya Amalia Nur Cahyani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 April 2016
Surat Oleh Pengantin

Surat oleh Pengantin

Oleh : Amalia Nur Cahyani

 

Jarum jam baru menunjuk pukul 21.23 wib saat rumah Maryam masih ramai oleh orang-orang dan keluarga yang sibuk mempersiapkan pesta pernikahannya esok pagi. Para pemuda desa yang senantiasa dengan sukarela menyumbang tenaga mereka di setiap ada acara hajatan di kampung sedang asyik menikmati dendangan lagu dangdut yang diputar oleh tukang sound system melalui VCD player. Sementara itu para pemudi tengah asyik bercakap-cakap di ruang belakang rumah Maryam sembari mengelap ratusan piring, mangkok dan sendok yang telah dibawa masuk para pemuda sebelumnya. Hal seperti ini mungkin sudah sangat jarang ditemukan di kehidupan bermasyarakat di zaman ini. Saat kehidupan hedonisme dan individual mendominasi di celah-celah kehidupan masyarakat zaman sekarang. Akan tetapi tidak dengan kehidupan di kampung Maryam, Desa Rejomulyo. Sebuah kampung kecil di ketinggian 1.123 diatas permuakaan laut yang tepatnya berada kaki gunung Kelud sebelah selatan. Dengan segala kesederhanaan hidup khas masyarakat desa yang menjadikan rasa kekeluargaan dan gotong royong adalah suatu kewajiban diantara warga. Saat ada orang yang memiliki hajat entah pernikahan, sunatan atau yang lainnya maka para warga akan dengan sukarela menyumbangkan tenaganya. Seperti saat ini di rumah Maryam. Para pemuda dan pemudi dengan penuh kerelaan membantu acara hajatan pernikahan di rumah Maryam.

Maryam sudah berada di bilik kamarnya. Mematung memandangi bayangan dirinya di depan cermin lemari tua berukiran khas jepara di pojok sebelah kiri tempat tidurnya. Sprei, sarung bantal dan guling yang masih baru telah terpasang rapi di tempat tidur berukuran 1 x 1,5 meter. Tak lupa bunga sedap malam dalam vas putih bercorak bunga mawar merah kombinasi dengan biru juga telah tertata cantik di atas meja rias dekat tempat tidurnya. 5 menit, 10 menit, 15 menit, Maryam masih saja terdiam menatap bayangannya sendiri. Hati dan pikirannya tengah berkecamuk. Terombang-ambing layaknya badai di tengah lautan. Tak mengerti apa yang harus diperbuatnya. Sejenak pikirannya kosong. Ia bingung harus memikirkan apa dan merasakan apa. Esok adalah bisa jadi hari yang bersejarah bagi hidupnya. Hari dimana ia tidak akan hidup sebatang kara lagi layaknya sebuah kertas promosi yang terbuang begitu saja di persimpangan lampu merah. Sepi. Sendiri. Akan tetapi ada sesuatu yang membuatnya merasa kurang. Kurang untuk sekedar merayakan kebahagiaanya karena telah dipertemukan dengan jodohnya. Layaknya seorang yang sedang mengalami amnesia, perlahan ingatannya kembali ke masa-masa yang pernah ia lalui dulu. Saat ia belum menjadi sebatang kara.

“klek…ngeeekkk” terdengar suara pintu di dorong dari luar. Terlihat seorang wanita tua dengan selendang khas wanita tahun 50an memasuki bilik Maryam. Maryam menatap wanita tua yang kini sedang berdiri di sampingnya ikut menatap bayangan Maryam dalam dunia cermin. Kini ia tak sanggup lagi. Seketika mata Maryam berkaca-kaca. Nampak kilauan bulir-bulir air memantul di cermin dalam bola matanya yang indah.

“Nduk cah ayu..kowe ora opo-opo?” (anak cantik..kamu tidak apa-apa?) terdengar suara lembut dari sosok tua disamping Maryam itu.

Tanpa disangka justru pertanyaan itu membuat butir-butir bening di bola mata Maryam meluncur dengan cepat menjelajah pipi Maryam melewati begitu saja dua lesung pipit di pipi kanan-kirinya. Maryam tak bergeming apapun. Ia hanya mendekap telapak tangan wanita tua yang tak lain adalah nenek yang telah merawatnya sepeninggalan Ibunya. Wanita tua yang seringkali berselisih paham dengannya karena beda pemikiran anak muda jaman sekarang sekaligus wanita tua yang menjadi pelabuhan ketika ia berpulang setelah melalui badai kehidupannya.

“ayo..wes wengi. Wayahe bedak ripihan. Mesakno bocah-bocah nek kewengen” (ayo..sudah waktunya acara bedak ripeh. Kasian anak-anak kalau kemaleman). Ajak nenek Maryam

Bedak ripeh adalah sebuah tradisi dalam acara pernikahan di kampung Maryam. Semacam symbol yang dilakukan oleh calon pengantin menularkan pada para bujang agar segera dipertemukan dengan jodohnya. Tradisi ini hanya dilakukan oleh pengantin yang merupakan anak pambarep atau anak pertama dan anak wuragil atau anak terakhir. Banyak makanan disiapkan untuk prosesi ini. berbagai macam lauk di tata di piring-piring, nasi juga terisi penuh di bakul, dan tak lupa ingkung atau ayam panggang utuh. Para gadis akan berjalan terlebih dahulu. Barisan paling depan membawa lampu minyak atau lilin yang sudah dinyalakan yang tidak boleh padam ketika berjalan, kemudian diikuti gadis-gadis lain dan pemuda di belakangnya dengan membawa piring-piring berasi makanan. Dengan dipandu oleh sesepuh desa, para pemuda dan pemudi dituntun untuk mengelilingi rumah orang yang sedang berhajat yang biasanya berkeliling di depan pelaminan pengantin selama tujuh kali putaran. Acara berlanjut dengan pembacaan doa-doa oleh sesepuh desa dan ketika selesai para pemuda dan pemudi ini kembali masuk ke dalam rumah akan “di wedaki” (di bedakin) satu persatu dengan tepung beras oleh calon pengantin yang sudah menunggu di depan pintu rumah.

Air mata semakin mengucur deras perlahan membasahi jilbap hitam bermotif bunga-bunga cerah yang dikenakan maryam. Tak sepatah katapun keluar dari bibir kecilnya. Ia hanya menangis.

Neneknya hanya bisa menghela nafas. Ia mengerti apa yang kini sedang dirasakan cucu semata wayangnya ini.

“yawis..ndang leren ae nduk” (ya sudah lekas istirahat saja nak) lanjut nenek Maryam seraya mengusap kepala Maryam dan kemudian melangkah keluar meninggalkan Maryam sendiri yang matanya masih basah.

Terkadang bagi sebagian orang, merenung sendirian dan atau bahkan menangis terisak sendiri dirasa jauh leih baik dibandingkan dengan menangis berderai air mata bercerita kepada orang lain tentang apa yang membuat dadanya terasa sesak dan membuat sulit bernafas. Dan terkadang lagi,cara terbaik menghibur orang lain yang sedang terluka, hati dan pikirannya berkecamuk adalah dengan cara diam, tidak terlalu banyak bertanya tentang apa yang terjadi dan apa penyebabnya. Karena terkadang pertanyaan-pertanyaan itu bisa memper parah rasa perih yang kasat mata itu. Cukup diam, berada disisinya. Menunggu air matanya perlahan kering dan gundukkan batu yang menyesakkan dada itu perlahan runtuh.

                                                            ***

Maryam tergesa-gesa mengenakan jaket dan jilbapnya di tengah malam itu. Ia tertidur. Ketika ia sadar ia melihat ibunya juga sedang terlalap dengan darah yang mulai naik ke infuse efek jika telat mengganti infuse yang telah habis. Ia berjalan tergesa-gesa. Menyusuri lorong lantai tiga kelas Melati. Suasana sepi. Hanya terlihat seorang bapak-bapak menenteng infus sedang memapah pela-pelan seorang nenek berambut putih dari arah kamar mandi. Setelah melewati dua blok kamar yaitu Melati 3 G-I dan 3 J-L sampai juuga maryam di tempat dokter jaga yang terletak di bagian tengah kelas Melati . Ada tiga perawat yang nampaknya adalah anakpraktek sedang berjaga mala mini. Dua orang tertidur menopang meja di dekat pintu sementara yang satu tertidur di sudut meja pelayanan.

“permisi..permisi..” pelan-pelan Maryam memanggil perawat yang mungkin sedang asyik berselancar dalam mimpi.

Perawat disusut meja pelayanan terbangun memincingnya mata

“iya..ada apa mbk?” mimiknya kaget, suaranya setengah parau

“kehabisan infus sus” jawab Maryam

“kamar berapa?” tanya perawat itu sambbil melihat jam tangannya

“3C mbk” jelas Maryam

“oo.. iya, tunggu sebentar ya”

“iya mbk” Maryam kembali melangkah ke ruang Ibunya

Ia sejenak berdiri mematung memandangi wajah orang yang paling berarti dalam hidupnya. Orang yang layaknya tiang penyangga langit hidupnya di dunia ini.

Terdengar irama langkah suara pantofel. Maryam sudah terbiasa dengan suara itu. Irama sepatu perawat yang banyak berlalu-lalang 24 jam di rumah sakit sebesar ini.

“ini dari kapan kok sampe darahnya naik begini?” tanya serius perawat

“nggak tau mbk,,soalnya saya ketiduran” maryam menjawab yang sejujurnya

Saat perawat sedang mengganti infus dan mengutak-atik selang agar darah yang naik bisa terbawa cairan infus masuk kembali ibunya terbangun. Dengan tatapan mata sayu melihat Maryam dan perawat berseragam putih dan jilbap putih sedang berdiri di sampingnya.

Selesai. Perawat itu merapikan sisa wadah infus dan peralatan yang dibawanya.

“terima kasih sus” ucap Maryam. Perawat berumur 20 tahunan itu membalas dengan senyum yang manis.

Tak perlu waktu lama, ibunya sudah kembali terlelap. Sebaliknya justru kini rasa kantuk Maryam hilang entah kemana. Sekali terdengar rintihan dari pasien di samping bilik ibunya. Pasien diabetes yang akan menjalani amputasi kaki kirinya. Tetesan air AC terdengar perlahan jatuh ke wadah ember di bawah selang saluran AC. Entah mengapa Maryam merasa bahwa AC semakin terasa dingin jika semakin malam. Ia ingat saat pertama kali ia menjaga ibunya menjalani perawatan ia justru jatuh sakit. Masuk angin, demam, dan muntah-muntah karena belum terbiasa dengan lingkungan rumah sakit dengan segala tipologi suasana dan udara obat-obatan yang menyengat.

Mata Maryam memilih menengok keluar jendela dekat tempat tidur ibunya. Remang bolam-bolam lampu di taman nampak indah di lantai tiga ini. Beberapa orang terlihat sedang memainkan HPnya dengan layar yang nampak berkedip-kedip dari atas sini. Sebagian orang terlihat sedang meringkuk di pinggiran taman berselimut kain jarik atau sarung dengan beberapa tas dan teremos air panas di dekatnya. Pemandangan seperti ini sudah menjadi hal yang biasa di rumah sakit besar kelas 3 ini. Kamar pasien kelas 3 bernama kelas Mawar. Satu kamar bisa terisi hingga 10 pasien denga tatanan tempat tidur memutar sementara bagian tengahnya ada meja dan kursi yang biasa digunakan dokter-dokter dan perawat mencatat hasil kontrol harian. Berbeda dengan kelas 1, kelas Melati dimana bisa 2 orang yang boleh menunggu pasien tidur di dalam kamar, tidak sama halnya dengan kamar kelas 3. Hanya ada satu orang yang diperbolehkan menemani pasien di malam hari karena jumlah pasien yang lumayan banyak. Di tambah lagi entah karena rasa kepedulian yang besar dalam sebuah keluarga, jika ada satu orang keluarga yang sakit bisa ada 3-5 orang yang menunggunya setiap hari. Alhasil ini membuat rumah sakit nampak sesak dipenuhi anggota keluarga yang menunggu keluarganya. Yang membuat satpam sibuk berkeliling setiap malam menertibkan keluarga yang ditunggu lebih dari satu orang.

Detik jam baru menunjuk pukul 02.03 menit. Maryam memutuskan untuk turun, keluar rumah sakit lebih awal mencari makanan untuk sahur. Antara berani dan tidak berani ia memutuskan untuk turun seorang diri menyusuri lorong rumah sakit terbesar nomor 2 di kota Solo tengah malam. Akan tetapi, saat langkah kakinya keluar dari lift di lantai satu di samping pintu masuk kamar pasien kelas 1 suasana berubah. Banyak orang yang sudah terbangun. Terutama para penunggu pasien yang tidur di luar memenuhi pinggiran kordor sepanjang rumah sakit. Beberapa ibu-ibu masih terlelap mendekap anaknya beralas dan berselimut seadanya di belakang kamar pasien,di pinggir sepanjang lorong, taman dan laboratorium. Sebagian lagi ada yang memilih tidur berselimur koran di atas kursi tunggu depan ruang ICU dan apotek. Maryam tak menyangka jika suasan tengah malam rumah sakit ini seperti ini. yang ada dalam bayangannya sebelumnya, rumah sakit adalah suatu tempat yang horror dan membuat bulu kudu berdiri ketika menyusuri lorong-lorongnya sendirian. Belum lagi jika tiba-tiba terdengar suara histeri di tengah malam. Sebuah tangisan kematian dan juga kejutan dari kasur sorong yang tanpa disangka keluar dari lift dengan pasien yang sudah ditutup keseluruhan diiringi isak tangis di sekekelilingnya.

Warung-warung yang menempel di gang sebelah timur rumah sakit nyatanya sudah ramai oleh orang-orang yang ingin mencari makan sahur atau sekedar ngopi mengobati rasa kantuknya. Maryam berjalan kea rah selatan ke warung nomer tiga dari selatan. Warung nasi campur langganannya. Ia memesan sebungkus nasi putih dan 2 “Tahu Bacem” serta teh hangat satu gelas yang semuanya hanya dihargai 6500. Harga yang murah untuk sebuah warung level daerah rumah sakit.

Maryam tak memakanan makanannya di tempat. Ia memilih membungkusnya dan memakan di kamar ibunya. Tubuhnya kini sudah terbiasa dengan atmosfir rumah sakit dengan berbagai aromanya. Lidahnya pun sama. Sudah terbiasa dengan ciri khas makanan kota Solo yang didominasi rasa manis. Waktu 4 bulan adalah waktu yang cukup lama mengadaptasi Maryam dengan lingkungan rumah sakit.

Semenjak ibunya harus menjalani kemo terapi 4 bulan lalu untuk pertma kalinya Baryam benar-benar mengetahi ternyata seperti inilah suasa rumah sakit yang sebelumnya belum pernah ia ketahui selama hidupnya. Tentang bagaimana orang-orang dengan berbagai penyakitnya masing-masing berjuang sekuat tenaga, tentang dokter-dokter rumah sakir dan para dokter coas yang terlihat keren hilir mudik sibuk mengontrol pasiennya, tentang teriakan-teriakan histeris dan tangis kehilangan, tentang saling support antar pasien yang baru kenal selama perawatan dan masih banyak lagi hal baru yang ia peroleh dari sebuah tempat yang katanya momok bagi sebagian orang. Sebuah tempat bernama rumah sakit.

Ibu Maryam diharuskan untuk rutin melakukan kemo terapi setelah beliau di vonis terkena kanker stadium 2B. Kemo terapi awal dilakukan tiap dua minggu dengan lama waktu kemo rata-rata 2-3 hari. Jenis kemo terapi yang dilakukan ada dua jenis, yaitu 2 kali kemo kecil kemudian 1 kali kemo besar yang dilakukan secara bergiliran sebanyak 35 kali kemo terapi di Solo, dan sinar sebanyak 5 kali di Semarang.

Kanker bisa jadi memanglah suatu momok yang menakutkan bagi semua orang. Saat seseorang di vonis menderita kanker seolah dunianya akan segera berakhir. Tidak ada harapan. Tapi ternyata hal itu tidak se-mengerikan yang kita bayangkan, sama halnya pelajaran yang diperoleh Maryam selama menunggu ibunya melakukan kemo terapi. Dimana ada sekian banyak orang du dunia ini dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia yang di vonis peterkena kanker, bahkan jauh lebih parah. Akan tetapi mereka justru saling menyemangati satu sama lain, bersama-sama melawan penyakit yang mematikan ini. Tak hanya itu, secara tidak sengaja kita pun akan memperoleh keluarga baru, kenalan baru. Banyak orang berbeda kota yang kemudian akrab menjadi teman sejawat dalam pengobatan. Saling menanyakan hasil pengobatan, berbagi informasi dan pengetahuan serta terus saling support satu sama lain tentunya. Ada tiga kata pematik semangat bagi mereka “Aku pasti sembuh”.

***

Mata Maryam masih terlihat basah. Sudah 30 menit belalu, akan tetapi nyatanya air mata masih enggan untuk berhenti mengalir keluar dari bola matanya. Membuat bantal bersarung hijau bercorak bunga warna merah muda miliknya basah. Ia segera bangkit. Menatap sejenak bayangannya di cermin yang kini telah berubah denga mata bengkan dan merah. Ia hapus air matanya. Mengambil sandal. Melangah keluar ke kamar mandi untuk berwudhu. Hanya air yang suci yang mampu menenangkan hatinya yang sedang terluka. Hanya dengan bersujud kembali bersandar kepada-Nya sesak di dadanya akan terobati. Suasan di luar sudah nampak sepi. Pemuda dan pemudi sudah tak terlihat, sound system sudah tak terdengar suaranya. Hanya terlihat neneknya dan budhenya sedang menyimpan makanan-makanan yang telah dimasak. Memastikan aman dari si Melki kucing tetangga yang suka mencuri.

Maryam melangkah dengan cepat. Tak menoleh sedikitpun ke arah Nenek dan Budhenya di dapur. Ia neggan menampakkan wajah sembabnya. Dan tentunya Neneknya sudah paham apa yang ia inginkan saat seperti in. jangan terlalu banyak bertanya, karena tekadang pertanyaan adalah hal yang buruk bagi orang yang sedang terluka hatinya. Seperti sebuah borok yang baru saja mongering tapi harus dilepas dengan paksa sampai akhirnya berdarah lagi. Untuk kondisi seperti saat ini, diam adalah empati terbaik.

Sesuai sunah Rosul, sebelas rokaat, enam rokaat tiga kali salam dan 3 rokaat witir dengan dua kali salam ia tunaikan dengan air mata terkdang masih keluar, mengusahakan kekhusukan. Ia panjatkan segala permohonan dalam sujud yang panjang. Melepaskan, membiarkan segala kesakitannya memeluknya dengan erat. Tak melawannya. Membiarkan semua terlepas di tempat semua hal semsetinya dikembalikan. Semua banyangan bersama ibunya terus bekelebatan di dalam hening sujudnya. Ketika ibunya meminta maaf padanya dua hari sebelum kepulangannya kepada sang Illahi dan Maryam hanya bisa menangis sesenggukan sambil memegang tangan ibunya yang terbaring lemah di kamar di rumah Neneknya. Terlintas juga kenangan yang banyak ia lewatkan bersama ibunya yang seringkali mengajak duduk-duduk di bakso langganan dekat stasiun rumahnya sembari menikmati kereta yang datang dan paergi, atau menikmati Mie Ayam Pak Item yang mempunyai banyak sekali koleksi burung yang berkiacau dengan riangnya. Ingatannya juga kembali saat ibunya dengan tanpa beban memboncengnya dengan sepeda ke sekolahnya yang berjarak kurang lebih 4 km karena motornya tiba-tiba mogok dan ia ngambeg tidak mau diantar oleh tetangganya. Satu persatu kenangan it uterus berkelebatan dalam ingatannya, membuat air matanya yang sesat telah kering kembali membanjiri sajadahnya. Beribu-ribu doa Maryam kirimkan untuk kedamaian ibunya disana. Memohon tempat terbaik disisi-Nya.

Berteman senandung katak yang ramai bertasbih bersama semesta di belakang rumahnya, Maryam mencoba menuliskan surat untuk ibunya. Surat yang barang kali tidak mungkin untuk dijangakau ibunya. Tapi bukankah tidak ada hal yang tak mungkin apabila kita memunyai Tuhan pikirnya saat itu. Segera ia ambil selarik kertas di rak bukunya. Membiarkan penanya menari-nari menghiasi kertas putihnya.

“Dear ibuk,

Barangkali kau tak akan membaca suratku ini.

Dan barangkali kau pun juga tak akan tahu meskipun Aku menunjukkannya ke seluruh dunia dengan berbagai kecanggihan teknologi jaman sekarang. Ahh,, itu hanya barang kali. Bukankah kau pernah mengatakan padaku saat kita sedang berbincang berdua di depan rumah menikmati rasi bintang dan rembulan di musim kamarau bahwa tak ada hal yang mustahil jika kita mempunyai Tuhan. Aku percaya itu.

Dear ibuk,,

Akan selalu sama dengan permohonanku pada Rabbi di setiap sujudku. Apa kabarmu disana? Semoga kau selalu baik saja. Lebih baik dari kehidupanmu di dunia sebelumnya. Semoga kini kau sedang tersenyum menatapku disini yang selalu merayu Illahi untuk memberikan tempat terbai-Nya disana untukmu. Memberikan kelapangan dan penerangan yang sempurna di tempat istirahatmua sementara di alam kubur. Terus merayu-Nya agar tak menyiksamu atau setidaknya meringankan siksamu atas dosa yang tanpa sengaja berlalu. Dan terus meraru-Nya agar tak membiarkanmu sakit lagi sama ketika aku sering kali menangis sendu di sampingmu beberapa tahun lalu.

Dear ibuk,,

Apakah kau masih ingat? Anak laki-laki pertma yang menemuimu di bulan ramadhan 5 tahun silam? Anal laki-laki dengan langkah malu-malu mengetuk pintu rumah kita 10 menit sebelum masjid beriqamah untuk shalat isyak dan tarawih di malam ke 19 bulan ramadhan tahun itu. Masih ingatkah kau?Aku harap kau masih mengingatnya. Mungkin di adalah salah satu jawaban diantara bait doa-doamu yang terbang menembus arsy yang kau panjatkan untukku selama hidupmu. Anak laki-laki yang bertamu dengan alasan menyampaikan pesananku dari kota Malang berupa keripik buah nangka, salak, apel dan sekardus minuman sari buah apel yang sebenarnya Aku juga tak memesannya itu, esok ia akan menepati janjinya padaku dan juga padamu. Tentu saja aku tak bisa untuk meinta restumu secara langsung karena dunia kita yang telah berbeda. Tapi aku mashi tetap percaya dengan kata-katamu. Tak ada yang tak mungkin jika kita mempunyai Tuha. Jadi, lewat surat ini Aku akan meminta Rabbi menyampaikkannya padamu. Surat permohonan restu padamu. Surat terima kasih tak terhingga untukmu. Surat kerinduan dan semua hal yang tak bisa Aku suratkan dalam secarik kertas ini.

Dear ibuk,,

Esok mungkin akan menjadi salah satu hari bersejarah dalam hidupku yang juga penah kau alami bersama bapak 1 tahun sebelum kehadiranku dalam rahimmu. Apah dulu jantungmu juga terus berdabar seperti yang kurasakan saat ini? pikiran cemas dan perasaan gundah terus menggelayuti? Kata orang ini wajar ketika orang akan menikah. Apa kau dulu juga begini? Ahh sayang aku tak sempat memintamu bercerita tentang hal ini.

Dear ibuk,,,

Akan ku titipkan surat permohonan restu ini kepada Rabbi, Rabbi ku dan tentunya Rabbi mu,,semoga aku bisa menjadi wanita setangguh sepertimu,,wanita yang mempunyai hari lapang luar biasa, wanita yang mampu mendidik anaknya dengan baik, wanita yang mampu menjadi istri terbaik. Aku masih selalu ingat dengan nasehatmu tentang pernikahan dalam obrolan kita di sela-sela kesibukan kit berdua memasak di dapur yang kau sampaikan berulang kali yang kini baru aku sadari bahwa itu adalah penhetahuan, pendidikan dan doamu untukku kedepannya bersama imamku nanti.

Dear ibuk,,

Aku harap kau akan menerima pesan ini. pesan dari putrid kecilmu yang bertahun-tahu mendengar degupan jantungmu dalam dekapannmu. Putri kecilmu yang sering kali diam-diam menatapmu ketika tidur masih bernafas atau tidak karena terlalu takut kau tinggal sendiri.

Dear ibuk,,

Masih terlalu banyak hal yang rasanya ingin aku bagi denganmu. Tak akan berlebih jika aku berkata bahwa tinta sebanyak lautan di dunia ini tidak akan cukup untuk sekedar mengucap terima kasih atas jasamu.

Dear ibuk,,,

Aku tak akan lagi mengandaikan hal yang tak bisa kuraih bersamamu karena aku tau kini kau telah memiliki tempat baru. Tapi kali ini biarkan aku tetap mengandaikan restumu untuk kehidupan baruku bersama laki-laki yang kau ciptakan dengan doa-doamu selama ini.

Peluk hangat dariku. Anakmu”

Air mata Maryam masi nampak berkaca-kaca, tapi kali ini senyumnya mengembang, menatap bayangnnya sendiri di depan cermin. Dadanya yang sesak kini telah menjadi lapang. Selapang sebuah keikhlasan ,penerimaan akan qodlo yang telah ia tetapkan sejak zaman azali bahkan sebelum kita dilahirkan ke dunia.

 

 

 

 

 

 

 

  • view 218