Penjual Koran vs Penjual Pisau

Amalia Nur Cahyani
Karya Amalia Nur Cahyani Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 April 2016
Penjual Koran vs Penjual Pisau

Penjual Koran dan Penjual Pisau

Oleh: Amalia Nur Cahyani

 

Suatu pagi dipasar. Di tengah hiruk pikuk aktivitas pasar dengan berbagai percakapan pedangan-pedagang dengan pembelinya, tanpa sengaja aku mendengar percakapan antara penjual koran dan penjual pisau. Sang penjual koran seperti biasa, berjalan menghampiri satu per satu lapak ke lapak lain, dari satu orang ke orang lain, terus berjalan mengelilingi pasar sambil berteriak “koran-koran,,berita terbaru,,Indomart Pagotan kerampokan..koran koran” kata penjual koran itu.

Tidak peduli begitu banyak orang di pasar tidak memperhatikannya dan terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, penjual koran itu masih tetap berkeliling mengulangi tempat-tempat yang sudah ia lewati masih dengan teriakan yang sama dan pengharapan yang sama barang kali ada 1 atau 2 orang yang tertarik untuk membeli korannya.

Hingga pada akhirnya, ia sampai di lapak seorang kakek-kakek penjual pisau. Masih dengan kata-kata yang sama sang penjual koran mencoba menawarkan koran dagangannya. Berdiri di depan kakek-kakek penjual pisau tersebut yang sedang bercakap-cakap dengan temannya. Sang penjual koran berkata “koran-koran,,Indomart Pagotan kerampokan” sambil menyodorkan koran dagangannya.

Aku saat itu sedang termangu menunggu pesanan di depan penjual tahu tanpa sengaja ikut mendengar jawaban kakek penjual pisau itu. Sebuah jawaban yang mengejutkan dari seorang kakek penjual pisau pikirku saat itu. Di tengah kebisingan pasar saat itu jelas sekali terdengar jawaban dari kakek penjual pisau itu. Dengan seolah tanpa basa-basi kakek penjual pisau itu menjawab “ adol koran ki berita daerah Geger apa Dolopo sing kerampokan. Indomart pagotan ngarep kono ae aku ya wes delok langsung. Berita ning kene mbok dol neng keneya percuma, ya ora payu.” (jual koran itu berita daerah Geger atau Dolopo yang kerampokan. Indomart Pagotan depan situ saja aku juga sudah lihat langsung. Berita disini kamu jual disini ya percuma, nggak laku) jawab kakek penjual pisau itu dengan senyuman sinis.

1 detik, 2 detik, tanpa ekspresi dan sepatah kata pun keluar dari mulut penjual koran ia langsung pergi meninggalkan lapak kakek penjual pisau itu dan kembali menjajakan korannya ke tempat lain dan barang kali masih dengan pengharapan yang sama, aka nada orang yang akan membeli korannya.

Aku yang masih termangu di depan penjual tahu entah mengapa tiba-tiba dalam hati aku menggerutu “kalo nggak mau beli ya sudah,,jawab baik-baik kenapa? Omongannya kok sama dengan barang dagangannya,,tajem,,” protesku dalam hati saat itu.

Dari inspirasi pagi itu Aku mencoba belajar merenung, inilah hidup. Kita yang berjuang, menjalaninya, kemudian orang lain yang menilai. Tanpa basa-basi dengan apa yang sekedar mereka lihat mereka mulai mengeluarkan tak jarang berupa pisau-pisau tajam menghujam, menilai apa yang kita lakukan sesuka prasangka mereka. Tak peduli apa yang mereka lihat itu yang sebenarnya atau tidak. Betapa seringnya seseorang seringkali menghakimi orang lain dengan prasangka mereka sendiri, pemikiran mereka sendiri, dan apa yang sekedar mereka lihat, bukan apa yang mereka tahu. Bukankah melihat belum tentu tahu? Sama halnya membaca yang belum tentu memahami atau mengerti?. Sama halnya dengan kakek penjual pisau tadi. Yang ia lihat hanya berita koran itu tidak menarik dan langsung saja dengan begitu mudah ia mengkritiki sang penjual koran tadi dengan tajam setajam pisau dagangnnya. Tanpa berpikir bahwa sebenarnya ia dan penjual koran itu sama. Sama – sama memiliki pengharapan akan ada pembeli barang yang ia jajakan. Simple saja bukan?

Dari sikap penjual koran itu Aku mulai belajar. Ya seperti inilah kehidupan, seperti kata-kaya bijak yang sering diposting “Kita yang menjalani orang lain yang mengkomentari”. Percaya atau tidak, kita bertindak A orang akan berkomentar, kita bertindak B ada lagi komentar, kita bertindak C, D, E dst masih tetap akan ada saja orang yang berkomentar. Jikalau kita terlalu fokus dan memusingkap komentar-komentar itu mungkin kita menjadi Zombie. Nampak hidup tapi mati. Kehidupan kita dimatikan oleh komentar-komentar orang lain. Gelap karena terlalu mencemaskan penialaian orang lain. Tentang bagaimana Aku atau pun kalian yang sebenarnya tentulah Aku, kalian dan Tuhan yang lebih tahu, lebih paham *naik turunin alis

*curahan hati seorang perempuan *ehhh

  • view 207